Menyulam Masa Depan di Atas Bumi Papua

  • 26 Sep 2025 13:29 WIB
  •  Merauke

KBRN, Merauke : Di Merauke, di mana bumi Papua berpijak dengan segala kekayaan dan kerentanannya, sebuah harapan baru disulam dengan sabar. Pada akhir September 2025, bukan hanya kabut asap yang mengepul, tetapi juga tekad kolektif untuk menjernihkan masa depan. Lokakarya Menuju Implementasi Penurunan Emisi Karbon di Papua menjadi titik temu bagi suara-suara dari empat penjuru provinsi: Papua Selatan, Papua Pegunungan, Papua Tengah, dan Papua Barat Daya. Sebuah pertemuan yang tak hanya terjalin secara luring, tetapi juga melalui gelombang digital, menyatukan pemerintah, akademisi, masyarakat sipil, dan swasta dalam satu napas yang sama: menyelamatkan warisan hijau ini.

Inisiatif yang digaungkan Kementerian Dalam Negeri ini, ditopang oleh tangan-tangan lembut Yayasan Wasur Lestari Papua (YWLP) dan WWF Indonesia, bagaikan menganyam sebuah keranjang yang kuat dari banyak sekali serat yang berbeda. Paschalina Rahawarin, Direktur YWLP, dengan suara yang tenang namun penuh keyakinan, menekankan bahwa lokakarya ini adalah lebih dari sekadar diskusi. Ia adalah sebuah upaya untuk merajut pandangan yang tercerai-beri menjadi sebuah tenun kebijakan yang kokoh. "Pendekatan berbasis data dan partisipasi masyarakat menjadi kunci," ujarnya, mengingatkan bahwa semua strategi harus berakar pada realitas dan hati orang-orang yang hidupnya bergantung pada hutan dan laut Papua.

Dari Jakarta, melalui sambungan virtual, Meidiarsih Eka Savitri dari Ditjen Bina Bangda Kemendagri menyampaikan benang merah yang tak kalah penting: integrasi. Target penurunan emisi tidak boleh menjadi rencana yang terpisah, melayang-layang di atas kertas. Ia harus dijahit dengan rapi ke dalam setiap jahitan dokumen perencanaan pembangunan daerah. "Kolaborasi lintas sektor sangat penting," serunya, menekankan bahwa pembangunan ekonomi dan penjagaan alam harus berjalan beriringan, seperti dua sisi mata uang yang sama-sama berharga.

Dalam ruang diskusi, gagasan-gagasan yang abstrak perlahan diukir menjadi langkah-langkah nyata. Daerah prioritas dipetakan, regulasi diperkuat, dan mekanisme pengawasan dirancang. Setiap rekomendasi yang lahir bagaikan bibit pohon yang siap ditanam di tanah subur kebijakan daerah. Forum ini pada akhirnya bukan hanya tentang angka-angka emisi yang harus diturunkan. Ini adalah sebuah janji bersama, sebuah ikrar untuk memastikan bahwa nafas pembangunan tidak lagi mengotori langit biru Papua, bahwa kesejahteraan yang dicari tidak mengorbankan sungai-sungai jernih dan hutan-hutan yang menjadi ibu bagi masyarakat adat dan kelompok rentan. Di sini, di ujung timur Indonesia, mereka sedang menulis sebuah surat cinta untuk bumi, dengan aksi nyata sebagai tintanya.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....