Di Balik Cangkul, Tumbuh Benih Kedaulatan
- 26 Sep 2025 09:35 WIB
- Merauke
KBRN, Merauke : Balai Kampung Bumun pada hari itu menjadi ruang kelas yang paling mulia. Bangku-bangkunya mungkin sederhana, tetapi mimpi yang ditabur di dalamnya sebesar hamparan sawah yang membentang di Distrik Elikobel. Di sanalah para operator Brigade Pangan dari Bumun dan Toftof berkumpul, seragam mereka mungkin masih berdebu dari ladang, tetapi sorot mata mereka tajam, haus akan ilmu yang akan mengubah cara mereka bercengkrama dengan tanah.
Ini adalah Pelatihan Penyiapan Tenaga Kompeten Brigade Pangan. Namanya mungkin panjang dan berbirokrasi, tetapi jiwanya sederhana: mengubah petani menjadi ahli, mengubah lahan menjadi ladang produktif yang membanggakan. Pak Kahol, sang PPL, tidak hanya berbicara tentang teori. Suaranya adalah bagai suara penabuh drum yang memulai sebuah peperangan melawan kelaparan. Setiap poin yang disampaikan—percepatan administrasi, penyediaan bibit, pengolahan lahan, hingga pengoperasian TR 4 dan TR 2—adalah seperti senjata yang akan mereka asah bersama. “Bekal nyata,” katanya. Dan kata-kata itu mengudara, penuh janji.
Di antara para peserta, duduklah Sertu Himawan Suryadi, sang Babinsa. Dia hadir bukan sebagai pengawas, melainkan sebagai bagian dari barisan itu sendiri. Seragam hijau miliknya menyatu dengan khaki para petani. Dorongannya bukan sekadar instruksi, melainkan sebuah ajakan dari kawan seperjuangan. “Manfaatkan kesempatan ini,” pesannya, seolah mengatakan bahwa tugas menjaga kedaulatan pangan adalah tugas setiap anak bangsa, tak peduli seragam yang dikenakannya.
Dukungan itu bergema hingga ke markas besar. Suara Dandim 1707/Merauke, Letkol Dili Eko Setyawan, adalah penguatan yang menegaskan bahwa ini bukan proyek sesaat. Ini adalah sebuah gerakan. Komitmen TNI tidak berhenti di pelatihan satu hari. Para Babinsa akan turun, mendampingi, menjadi jembatan antara kebijakan pemerintah di atas kertas dan lumpur di sawah. Mereka akan menjadi teman diskusi ketika traktor mogok, menjadi penyemangat ketika hama datang, menjadi pengingat bahwa negara hadir dalam setiap tetes keringat yang jatuh membasahi bumi.
Pelatihan di Balai Kampung Bumun itu adalah sebuah metafora yang indah. Bagai sebuah bajak yang mulai menggaruk permukaan tanah yang keras, membaliknya, mempersiapkannya untuk ditanami benih. Benih yang ditanam hari ini bukan hanya benih padi atau jagung, melainkan benih kedaulatan. Dan dengan setiap ilmu yang diserap, dengan setiap alat yang dikuasai, benih itu disirami, dirawat, hingga kelak berbuah menjadi swasembada yang sesungguhnya—sebuah kemenangan yang ditentukan bukan di meja rapat, tetapi di setiap jengkal tanah Merauke yang subur.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....