Mayang Kelapa yang Berubah Menjadi Luka
- 26 Sep 2025 09:15 WIB
- Merauke
KBRN, Merauke : Hawa lembap Papua masih menyelimuti pagi itu ketika langkah-lapang mereka menyusuri jalan tanah di Jalan Arafura Buti, Kelurahan Samkai. Informasi dari warga mengantarkan tim Satuan Resnarkoba Polres Merauke pada sebuah pemandangan yang, bagi yang tak tahu, hanyalah hamparan pohon kelapa biasa. Tapi bagi mereka, setiap mayang yang menjuntai menyimpan cerita yang berbeda—cerita tentang getah yang diubah menjadi sesuatu yang lebih kelam.
Di sinilah sagero dibuat. Bukan di pabrik berasap, bukan di dalam gelas-gelas cantik, tapi di tengah sunyinya kebun, di mana embun pagi bersatu dengan tetesan pertama yang menetes dari bunga kelapa. Sagero, minuman lokal warisan leluhur, adalah tentang kesabaran. Tentang menunggu. Tentang bagaimana alam memberikan cairan kehidupannya, yang kemudian melalui proses fermentasi alami, berubah menjadi minuman yang memabukkan.
Ipda Daniel Z. Rumpaidus dan personelnya bukan datang untuk merusak tradisi. Mereka datang karena panggilan tugas untuk memotong sebuah mata rantai yang dianggap membahayakan. Di bawah sela-sela daun kelapa yang membayangi, mereka menemukan bukti-bukti kesunyian itu: tiga botol air mineral dan tiga botol Vit yang telah diisi ulang dengan cairan bening sagero, seperti air mata pohon yang ditampung dalam wadah kemajuan. Tiga mayang kelapa, sang sumber kehidupan, terikat bersama dengan sembilan tali tambang dan jerigen-jerigen bekas, menjadi saksi bisu sebuah proses yang kini harus terhenti.
Operasi pada Jumat itu hanyalah sebuah titik kecil dalam bentang luas perang melawan minuman berbahaya. Tapi setiap titik punya ceritanya sendiri. Sagero, bagi sebagian, adalah pelipur lara di tengah beratnya kehidupan. Bagi yang lain, ia adalah pintu gerbang menuju kesehatan yang rusak dan keamanan yang terganggu. Dalam galon air dan botol-botol plastik itu, tersimpan dilema antara melestarikan akar budaya dan melindungi generasi dari dampak konsumsi yang tak terkendali.
Suara Kasat Narkoba Polres Merauke mengurai bukan hanya sebagai pernyataan resmi, tapi juga sebagai sebuah harapan yang terdalam. "Kami akan terus melakukan penertiban," katanya, dengan nada yang mengandung beban. Namun, di balik kata 'penertiban' itu, terselip sebuah ajakan yang lebih dalam: sebuah ajakan untuk mendengar. Ajakan untuk bersama-sama memilah, mana warisan yang masih bisa dijaga dalam koridor kewarasan, dan mana yang telah berubah menjadi bibit-bibit kepedihan.
Pohon-pohon kelapa di Samkai masih akan terus tumbuh. Mayang-mayangnya masih akan meneteskan getah manis. Operasi ini mungkin telah menggagalkan produksi satu batch sagero, tetapi pertanyaan besarnya tetap menggantung bagai kabut pagi: Bagaimana mengobati dahaga akan pelarian, yang lebih dalam dari sekadar dahaga akan sagero? Jawabannya tidak akan pernah ditemukan dalam barang bukti yang disita, tetapi dalam percakapan dari hati ke hati di antara masyarakat Merauke sendiri, tentang masa depan yang mereka inginkan—aman, sehat, dan tetap menghormati jejak leluhur mereka di atas tanah ini.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....