Luka di Ulakin: Sebuah Peluru, Sebuah Pengingat
- 25 Sep 2025 15:08 WIB
- Merauke
KBRN, Merauke : Pagi itu, sungai-sungai di Kolopberasa masih membawa mimpi-mimpi yang belum terjaga. Kampung Ulakin, yang biasanya dihidupi oleh celoteh anak-anak dan asap dapur, justru disambut oleh derik mesin katinting yang membawa enam orang bersenjata. Mereka datang bagai kabar buruk yang merayap pelan di atas air. Sasaran mereka jelas: rumah Khairul Sarikam, seorang pensiunan guru yang tulang-tulangnya telah berjasa untuk masa depan Papua.
Namun takdir sedang tidak berpihak pada keluarga itu. Khairul sedang berjaga di puskesmas, menanti detik-detik kelahiran cucunya. Yang menjaga rumah adalah Indra Guruwardana, putranya. Saat langkah-laku itu mendekat, Indra berusaha menyelamatkan diri. Namun, dua peluru di punggungnya mengubah pelarian itu menjadi perjalanan terakhir. Darahnya merembes ke tanah yang seharusnya ia jaga.
Kekejaman belum berhenti di sana. Jasadnya diseret, dipertontonkan, sebelum amukan api melalap habis rumah yang penuh kenangan itu. Api itu tidak hanya membakar kayu dan foto keluarga, tetapi juga membakar rasa aman seluruh kampung. Warga pun menghilang ke dalam pelukan hutan, meninggalkan segalanya, meninggalkan Indra yang terbujur kaku di antara puing-puing kehangatan keluarganya.
Hanya David Jama, seorang remaja berusia 16 tahun, yang berhasil menyusuri sungai dengan kaki gemetar dan hati yang tercabik. Dialah saksi bisu yang membawa kabar duka itu—pertama kepada sang ayah yang sedang berbahagia, lalu kepada aparat. Laporannya adalah sebuah narasi pilu yang bertolak belakang dengan klaim-klaim gagah di mediamaya.
“Jadi Korban Bukan Aparat Militer,” tegas Komandan Korem 174/ATW Brigjen TNI Andy Setyawan, menepis kabar yang menyesatkan. Sebuah pola komunikasi yang mengaburkan fakta, mengubah korban sipil menjadi pahlawan palsu dalam narasi kekerasan. Indra bukanlah target politik; ia adalah anak seorang guru, yang nyawanya menjadi collateral damage dalam sebuah konflik yang tak dipadipahaminya.l
Kini, Kampung Ulakin menjadi kota hantu. Tenaga pendidik dan kesehatan memilih mengungsi, takut menjadi sasaran berikutnya. Janji komitmen untuk melindungi warga sipil bergema dari markas besar, tapi di Ulakin, yang tersisa adalah kesunyian yang pahit dan jenazah yang belum sempat dikuburkan. Setiap hembus angin yang membawa bau abu, seakan berbisik: di sini, sebuah keluarga menunggu kelahiran, sambil meratapi kematian.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....