Ritme Keamanan di Lapangan Tembak Semangga
- 25 Sep 2025 13:07 WIB
- Merauke
KBRN, Merauke : Bunyi itu memecah kesunyian pagi di Lapangan Tembak Yonif 757/Ghupta Vira. Bukan suara nyanyian burung, melainkan dentuman yang terukur, ritmis, penuh tujuan. Setiap letusan adalah sebuah kalimat dalam bahasa yang hanya dipahami oleh mereka yang berdiri di garis depan. Di sinilah, pada Kamis (25/9/2025) yang berdebu, para prajurit Kodim 1707/Merauke tidak sekadar menembak target. Mereka sedang bercakap-cakap dengan profesionalisme mereka sendiri.
Dibawah komando Lettu Inf Roesli Rajab, latihan ini adalah sebuah ritual. Sebuah janji yang harus ditepati kepada bangsa, bahwa tangan yang memegang senjata haruslah tangan yang terlatih, pikiran yang mengendalikannya haruslah pikiran yang dingin dan disiplin. Senjata SS-2 yang hangat oleh sinar matahari dan tembakan menjadi perpanjangan dari tekad mereka. Tiga sikap: tiarap, duduk, dan berdiri. Sepuluh peluru untuk setiap sikapnya. Seratus meter jarak yang memisahkan antara sang penembak dan sasarannya. Angka-angka ini bukanlah matematika biasa; ini adalah rumus dari ketangguhan.
Namun, di balik setiap dentuman yang menggema, ada sebuah keheningan yang sakral. Keheningan yang dijaga oleh prosedur keamanan yang tak tergoyahkan. Sebelum peluru pertama ditembakkan, briefing telah mengalir seperti mantra. Jika senjata bermasalah, bukan amarah yang muncul, melainkan sebuah tangan yang diangkat. Sebuah isyarat sederhana yang berbicara lebih lantang dari teriakan: "Aku butuh bantuan." Lalu, dengan sigap, seorang pendamping akan datang. Ini adalah tarian kepercayaan, di mana keselamatan setiap prajurit adalah tanggung jawab bersama.
"Setiap penembak dicek kondisi senjatanya sebelum dan sesudah menembak," tegas Lettu Roesli. Kalimat itu adalah sebuah lagu pengantar untuk kepulangan yang aman. Pemeriksaan itu adalah sebuah doa, memastikan tidak ada peluru tersisa yang menjadi bom waktu, tidak ada kecerobohan yang merenggut nyawa. Di Lapangan Tembak Semangga, kemampuan menembak memang penting, tetapi yang lebih utama adalah menghormati nyawa yang dipegang oleh laras senjata itu sendiri. Setiap prajurit yang pulang dengan selamat adalah target terpenting yang berhasil dicapai hari itu. Dan dalam kesunyian setelah latihan usai, yang tersisa adalah gema komitmen: untuk selalu siap, selalu waspada, dan selalu pulang.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....