Lagu Baru untuk Bumi di Kampung Kafyamke
- 25 Sep 2025 12:46 WIB
- Merauke
KBRN, Merauke : Ada sebuah lagu yang lahir dari kebun di Kampung Kafyamke. Bukan lagu yang dinyanyikan, tetapi lagu yang digemakan oleh mesin besi yang bernama TR-4. Di bawah langit Merauke yang tak berawan, Rabu (24/9/2025) itu, lagu itu adalah simfoni harapan. Tiga hari telah berlalu, tiga hari di mana tanah tak hanya digali, tetapi juga masa depan yang ditabur.
Peltu Mulyadi, Serka Saeroji, dan Sertu Mas Widodo berdiri bukan sebagai prajurit yang garang, melainkan sebagai pendamping yang sabar. Tangan-tangan mereka, yang biasanya memegang senjata, kini menunjuk bagian-bagian mesin, menjelaskan rahasia rotari dan sistem rotasi. Mereka adalah penerjemah bagi warga Nggayu, Kafyamke, dan Rawahayu, menerjemahkan bahasa teknis mesin menjadi bahasa kemandirian yang universal.
Para operator dari tiga kampung itu menyentuh TR-4 bukan dengan canggung, tetapi dengan rasa ingin tahu yang membara. Mereka membongkar, memasang, dan menghidupkannya. Setiap getaran yang merambat di telapak tangan mereka adalah getaran sebuah perubahan. "Pahami sepenuhnya," bisik Babinsa, sebuah arahan yang terdengar seperti wejangan leluhur. Bukan hanya tentang mengolah tanah, tetapi tentang merawat kedaulatan di kampung halaman sendiri.
Usai praktik, ketika debu tanah telah menempel di seragam dan keringat membasahi pelipis, mereka berkumpul di Balai Kampung. Ibu Yosinta memimpin evaluasi, sementara Ibu Yowinta, sang PPL, menyampaikan terima kasih. Kata-katanya sederhana, namun dalam: "Dengan kehadiran mereka, pelatihan berjalan aman, tertib, dan sesuai harapan."
Kalimat itu menggema lebih dari sekadar ucapan terima kasih. Ia adalah pengakuan bahwa kadang, keamanan dan ketertiban yang sesungguhnya adalah ketika seorang ibu bisa menanam pangan untuk keluarganya, ketika seorang pemuda bisa menguasai teknologi untuk membajak ladangnya.
Di Kafyamke hari itu, ketahanan pangan tidak lagi berupa wacana di atas kertas. Ia berwujud deru mesin, senyum lega para peserta, dan pendampingan setia seragam hijau yang memastikan setiap langkah menuju kemandirian tidak lagi terasa sepi. Lagu dari TR-4 itu akan terus dikumandangkan, dari kebun ini ke kebun lainnya, sebagai nyanyian abadi tentang bumi yang dibajak oleh putra-putri terbaiknya sendiri.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....