Ketika Wangi Bunga Tani Menjelajah Digital

  • 24 Sep 2025 19:36 WIB
  •  Merauke

KBRN, Merauke : Di Kranjang, wangi itu telah ada sejak lama. Wangi kayu putih yang menyengat, harum cengkeh yang hangat, dan aroma nilam yang membumi. Selama ini, wangi-wangi itu terkurung dalam botol-botol sederhana, ceritanya hanya bergema di seputar dusun. Namun, awal September lalu, angin perubahan berhembus. Bukan angin yang membawa wangi baru, tetapi angin yang membawa cara baru untuk memperkenalkan wangi lama itu kepada dunia.

Pelatihan Digital Marketing bagi Kelompok Bunga Tani bukan sekadar tentang teori. Itu adalah sebuah upacara penyambutan bagi para pelaku UMKM ke dalam sebuah kuil modern: dunia digital. Febe Josina Binnendyk, sang pemateri, hadir bagai seorang penerjemah yang menjembatani dua dunia. Di tangannya, WhatsApp Business bukan sekadar aplikasi, melainkan sebuah etalase kaca yang bisa menampilkan produk hingga ke seberang lautan. "UMKM harus terus menyesuaikan perubahan, agar terus menarik," katanya. Kata ‘menarik’ di sini seperti mantra—bukan hanya menarik perhatian, tetapi menarik rezeki dari lorong-lorong digital yang tak terbatas.

Peserta pelatihan, dengan penuh konsentrasi, mempraktikkan cara memotret produk mereka. Setiap tetes minyak atsiri dalam botol bening itu berhasil ditangkap kamera, menjadi lebih dari sekadar komoditas, tetapi sebuah karya. Setiap gambar yang dihasilkan adalah sebuah cerita tentang dedaunan hijau di bawah matahari Papua, tentang ketelatenan tangan-tangan yang menyulingnya, dan tentang warisan leluhur yang kini siap berlayar di gelombang internet.

Program Atsiri Duskar Wangi PT Pertamina Patra Niaga, yang kini memasuki tahun ketiga, ibaratnya sedang membangun sebuah jembatan. Di satu sisi, ada penyuling-penyuling tradisional dengan pengetahuan turun-temurun. Di sisi lain, ada pasar global dengan produk autentik. Pelatihan ini adalah batu pertama dari jembatan itu. Novi Prasetyo, Integrated Terminal Manager Wayame, menyebutnya sebagai "wujud nyata komitmen kami." Komitmen itu tidak berhenti pada pelatihan, tetapi merambah hingga pendampingan izin BPOM, memastikan bahwa setiap tetes minyak yang dijual tidak hanya wangi, tetapi juga sah di mata hukum.

Ini adalah sebuah evolusi yang sunyi. Dari menjual di pinggir jalan menjadi memasarkan di ujung jari. Dari konsumen tetangga sebelah rumah menjadi pembeli dari kota yang bahkan belum pernah mereka dengar namanya. Program ini bukan sekadar pelatihan, melainkan sebuah penanaman benih kedaulatan. Ekonomi kerakyatan tidak lagi hanya tentang bertahan, tetapi tentang bertumbuh dengan percaya diri.

Ke depan, harapannya adalah ketika seseorang di belahan dunia lain mengklik gambar minyak serai merah dari Kranjang, yang mereka hirup bukanlah sekadar aroma terapi. Mereka sedang menghirup semangat sebuah dusun yang berani bermimpi besar, didampingi oleh perusahaan yang percaya bahwa kekayaan terbesar negeri ini bersemayam di tangan kreatif anak bangsa. Wangi Bunga Tani pun akhirnya menjelajah, membawa nama Kranjang mengudara, lebih tinggi dari apa yang pernah dibayangkan.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....