Kartu Saksi Bisu, Penjaga Detak di Merauke
- 24 Sep 2025 19:27 WIB
- Merauke
KBRN, Merauke : Di sebuah sudut Merauke, Markus Rahailwarin (57) menyimpan sebuah benda yang lebih berharga dari apapun: kartu BPJS Kesehatannya. Kartu itu bukanlah sekadar plastik biasa, melainkan saksi bisu dari perjalanan panjangnya melawan aritmia di jantungnya sendiri. Sejak 2015, benda itu telah menjadi semacam jangkar yang menahannya dari lautan kekhawatiran akan biaya pengobatan.
Setiap kali sesak napas datang menggedor, Markus tidak lagi disergap panik yang kedua: panik akan penyakit, dan panik akan biaya. Ia hanya merogoh saku, merasakan permukaan kartu yang sudah usang oleh waktu, dan langkahnya menuju RSUD Merauke pun menjadi tenang. “Kalau harus membayar sendiri, pasti tidak sanggup,” ujarnya, dengan nada yang datar, mengisyaratkan sebuah kebenaran yang pahit yang berhasil dihindarinya.
Di ruang tunggu rumah sakit, kartu itu bagai mantra penenang. Ia melihatnya, lalu menghela napas lega. Dari pendaftaran, pemeriksaan, hingga menerima obat-obatan khusus yang harganya setara dengan belasan kilogram ikan di pasar, semuanya terbayarkan oleh sebuah sistem gotong royong yang ia sebut sebagai “penopang utama” hidupnya. Bagi Markus, JKN adalah jaring pengaman yang membuatnya tidak terjatuh bebas ke dalam jurang kemiskinan akibat sakit yang dipikulnya.
“Saya bisa berobat dengan tenang, tidak khawatir soal biaya,” katanya. Kata ‘tenang’ itu terucap seperti sebuah lagu syukur. Sebuah kemewahan yang mungkin tidak terpikirkan oleh mereka yang jantungnya berdetak normal. Ketenangan itu adalah buah nyata dari iuran yang disetorkannya bersama puluhan juta orang Indonesia lainnya; sebuah solidaritas dalam kesunyian yang menyembunyikan dirinya dalam bentuk obat-obatan dan konsultasi dokter.
Kepala BPJS Kesehatan Cabang Merauke, Erika Verayanti Lumban Gaol, mendengarkan kisah-kisah seperti Markus bukan sebagai statistik, melainkan sebagai puisi. “Mereka bisa rutin berobat, mendapatkan obat, dan menjaga kualitas hidup tanpa takut biaya,” ujarnya. ‘Kualitas hidup’—frase itu bergema dalam bagi Markus, yang hari-harinya kini diisi oleh ritme kontrol rutin, bukan oleh derita yang dipendam karena takut membebani keluarga.
Kisah Markus adalah sebuah syair sederhana tentang bagaimana sebuah bangsa merawat warganya. Ia menutup ceritanya dengan harapan, sebuah harapan yang sama dengan jutaan peserta JKN di pelosok negeri: agar program ini tetap ada. Kartu BPJS-nya yang usang itu adalah lebih dari sekadar kartu; ia adalah penjaga detak jantungnya, pengusir kegelisahan, dan bukti nyata bahwa dalam semangat gotong royong, terdapat kekuatan untuk mempertahankan kehidupan itu sendiri.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....