Semesta Berbisik, Merauke Bersiap Menjaga Nafas

  • 24 Sep 2025 19:22 WIB
  •  Merauke

KBRN, Merauke : Langit pagi di Taman Nasional Wasur masih memeluk kabut tipis. Sinar matahari menyelinap lembut melalui kanopi hutan, menyapu dinginnya malam di Bumi Perkemahan. Namun, pagi yang tenang ini tidak diisi oleh kicau burung saja. Suara langkah tegas 200 pasang kaki menggema, menyatu dengan gemerisik angin yang berbisik tentang sebuah ancaman yang tak terlihat: api.

Mereka datang dari seragam yang berbeda. Hijau tentara, coklat polisi, kaus orange relawan, dan kemeja rapi para pejabat. Sebuah mozaik kemanusiaan yang disatukan oleh satu tujuan: menjaga nafas Merauke. Dalam apel siaga gabungan ini, tidak ada musuh yang tampak, hanya sebuah potensi kehancuran yang bisa membakar lebih dari sekadar pepohonan.

“Hutan adalah paru-paru dunia, penjaga ekosistem, dan warisan berharga,” suara Wakil Bupati Merauke, dr. Fauzun Nihayah, mengudara, lirih namun penuh keyakinan. Kata-katanya bukan sekadar pidato, melainkan sebuah mantra pengingat. Setiap jelaga yang membumbung, katanya, adalah penyakit bagi paru-paru anak-anak. Setiap jengkal tanah yang hangus, adalah luka di kulit bumi yang akan sulit sembuh. Ia tidak hanya berbicara tentang pencegahan kebakaran, tetapi tentang mempertahankan kehidupan itu sendiri.

Lagu Indonesia Raya dan Tanah Papua berkumandang, mengikat semua perbedaan dalam satu benang merah kebangsaan yang dalam: mencintai tanah air dimulai dari merawat setiap jengkalnya. Lalu, atraksi pun dimulai. Tim dari Balai Taman Nasional Wasur mendemonstrasikan sebuah tarian penuh arti: pemadaman api. Setiap semprotan air, setiap hentakan ke tanah, adalah sebuah narasi tentang perlawanan. Itu adalah pentas dimana air, simbol pemurni, berhasil menaklukkan si jago merah yang rakus.

Namun, pertunjukan sesungguhnya terjadi setelahnya. Bukan dengan teriakan atau gebalan, tetapi dengan keheningan yang khidmat. Sebuah lembaran komitmen digelar, dan satu per satu tangan yang berbeda-beda itu menorehkan tanda tangan. Sebuah ikrar yang ditulis bukan di atas kertas, tetapi di atas kesadaran kolektif. Diikuti oleh doa yang dipanjatkan bersama, memohon kekuatan dan perlindungan agar langit Merauke tetap biru, bukan kelabu oleh asap.

Ketika sesi foto bersama tiba, senyum mereka merekah. Di belakang mereka, hutan Wasur berdiri megah, hijau dan penuh misteri. Mereka bagai penjaga pintu waktu, berdiri di garis antara kelestarian dan kehancuran. Mereka tahu, pertempuran terbesar bukanlah memadamkan api yang sudah membesar, tetapi mencegah percikan api pertama itu untuk menyala.

Hari itu, di KM 26 Trans Papua, Merauke tidak hanya menggelar apel. Mereka merajut sebuah doa dengan aksi. Mereka membangun benteng dari kesadaran, karena mereka tahu, menjaga hutan berarti menjaga setiap nafas yang dihirup, setiap mata air yang mengalir, dan setiap cerita yang masih tersimpan di balik rimbunnya daun Wasur.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....