Sebungkus Nasi untuk Semangat di Ufuk Timur
- 24 Sep 2025 14:39 WIB
- Merauke
KBRN, Merauke : Kamar-kamar kelas di SD YPPK Don Boscho Budhi Mulia biasanya dipenuhi oleh deretan angka dan huruf. Namun pada sebuah Kamis yang cerah di September 2025, ruangan itu diubah menjadi ruang pelajaran yang paling hakiki: pelajaran tentang rasa peduli. Sebanyak 560 bungkus harapan dibagikan secara gratis, mengubah rutinitas belajar menjadi sebuah perayaan sederhana yang beraroma nasi hangat, ayam kecap, dan kebaikan.
Ini adalah cara Tentara Nasional Indonesia (TNI) merayakan usia ke-80-nya. Bukan dengan parade perang atau pamer alutsista, melainkan dengan menitipkan perhatian melalui setiap suapan makanan bergizi untuk anak-anak di ufuk timur negeri. Kehadiran sang Dandim 1707/Merauke bukan sebagai panglima, tetapi sebagai seorang bapa yang dengan lembut mengingatkan, “Mohon agar makanan yang diberikan dihabiskan karena dapat menambah gizi dan energi.” Sebuah kalimat yang terasa lebih hangat dari sekedar perintah; ia adalah sebuah doa yang disampaikan dengan sederhana.
Di setiap bungkusan, tersusun rapi sebuah cerita tentang gizi yang seimbang. Nasi sebagai sumber tenaga, ayam dan tempe sebagai pembangun tubuh, sayuran sebagai pelindung kesehatan, dan pisang serta susu sebagai pelengkap kebahagiaan. Menu yang disusun bukan hanya memenuhi kriteria ilmu gizi, tetapi juga menyentuh selera polos anak-anak. Suster Yulianti Sipayung, Sang Kepala Sekolah, pun tak bisa menyembunyikan rasa syukurnya. “Menu yang diberikan selalu disukai anak-anak,” ujarnya, seraya berharap program ini adalah sebuah awal, bukan sebuah peristiwa yang sekali lalu hilang.
Acara itu sendiri adalah sebuah kanvas yang dilukis oleh kolaborasi. Dari seragam TNI yang tegas, hingga lembutnya jubah suuster, dan dedikasi staf Badan Gizi Nasional. Mereka semua hadir dengan satu bahasa yang sama: bahasa kasih untuk masa depan Indonesia yang lebih sehat dan cerdas.
Pada akhirnya, 560 paket makanan itu akan habis dalam hitungan menit. Namun, rasanya akan tetap melekat jauh lebih lama di ingatan. Ia adalah pengingat bahwa di hari jadinya, para pahlawan yang biasanya berjaga di perbatasan, kali ini datang dengan senyuman dan bingkisan. Mereka sedang menabur benih semangat, bukan dengan kata-kata motivasi yang muluk, tetapi dengan kepastian bahwa perut yang kenyang adalah fondasi pertama untuk mimpi-mimpi besar yang akan ditorehkan oleh para pelajar kecil ini di kemudian hari. Inilah hadiah ulang tahun terindah: hadiah yang diberikan, bukan diterima.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....