Taman Bawah Laut untuk Warisan Anak Cucu
- 24 Sep 2025 14:34 WIB
- Merauke
KBRN, Merauke : Di mana daratan Biak Numfor berjabat tangan dengan laut Papua, terdapat sebuah cerita tentang penebusan dosa-dosa terhadap alam. Di Waupnor, gelombang yang berkejaran membisikkan kabar gembira: sebuah kehidupan baru sedang ditata di kedalaman. Di sanalah "Taman Laut Pertamina" hadir, bukan sebagai monumen, melainkan sebagai permohonan maaf yang diwujudkan dalam ribuan bibit terumbu karang. Sebuah upaya untuk menjahit kembali selimut biru yang pernah terkoyak.
Inisiatif yang digaungkan Fuel Terminal Biak ini adalah sebuah nyanyian panjang tentang keberlanjutan. Bagi Fakhrurozie Julianda Pulungan, sang Manager, program TJSL bukanlah tentang angka di laporan tahunan. Ia adalah tentang nafas. “Kami ingin memastikan Program CSR bukan hanya memberi manfaat instan, namun berkelanjutan. Menjaga lingkungan berarti menjaga masa depan,” ujarnya, bagai menyampaikan sebuah mantra kuno yang kebenarannya universal. Dari kesadaran itulah, Taman Laut Pertamina tercetus—sebuah investasi paling berharga yang tidak terukur oleh nominal uang.
Namun, sebelum keindahan itu bisa dinikmati, ada kerja keras yang sunyi. Sebuah survei komprehensif layaknya seorang dokter yang memeriksa denyut nadi laut. Tim ahli menyelam, mencatat, dan menganalisis; menilai kelayakan perairan untuk menjadi tempat pertumbuhan kehidupan baru. Roadmap pun disusun dengan cermat, karena merawat laut tak ubahnya merawat sebuah hubungan, butuh kesabaran dan komitmen yang tak boleh putus.
Dukungan pun mengalir bagai air laut yang menyatukan pulau-pulau. Pemerintah Daerah, TNI AL, Ketua Adat, hingga tokoh masyarakat menyaksikan pembukaan taman ini. Mereka melihatnya bukan hanya sebagai konservasi, tapi sebagai janji ekonomi. Seorang Pelaksana Tugas Asisten I Setda Biak Numfor berbagi visi, “Bersama, kami jadikan Taman Laut Pertamina sebagai bentuk pelestarian… sekaligus meningkatkan perekonomian masyarakat sekitar.” Terumbu karang yang sehat akan menjadi rumah bagi ikan-ikan, yang pada gilirannya akan menjadi rezeki bagi nelayan. Sebuah siklus kehidupan yang saling menyayangi.
Bramantyo Rahmadi, dari Communication Relations & CSR, menutupnya dengan sebuah harapan yang dalam. “Dengan komitmen dan upaya melestarikan lingkungan… diharapkan kedepannya dapat mewujudkan kehidupan yang berdaya.” Kata-katanya menggambarkan sebuah mimpi tentang harmoni: di mana desiran angin laut tak lagi membawa kepedihan, tetapi membawa cerita tentang nelayan yang tersenyum dan anak-anak yang masih bisa menyelam menyaksikan keajaiban dunia bawah air nenek moyang mereka.
Taman Laut Pertamina adalah lebih dari sekadar program. Ia adalah sebuah puisi yang ditulis dengan karang dan diukir oleh arus. Sebuah pengakuan bahwa kemajuan sebuah perusahaan harus sejalan dengan detak jantung alam. Di dasar laut Waupnor, mereka tidak hanya menanam terumbu karang; mereka menanam doa untuk warisan yang akan dinikmati oleh anak cucu, jauh setelah nama-nama kita terlupakan.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....