Dari Sampah, Tumbuh Harapan yang Subur

  • 24 Sep 2025 09:54 WIB
  •  Merauke

KBRN, Merauke : Kabut tipis pagi itu masih menyelimuti pepohonan di Badung,Bali. Namun, di balik gerbang Tempat Pengolahan Sampah (TPS3R) Pudak Mesari, semangat telah menyala lebih terang dari mentari. Aroma tanah basah dan dedaunan membusuk yang biasanya dianggap sebagai bau kegagalan, hari itu berubah menjadi harapan. Di sini, di antara tumpukan sampah yang sedang ‘bertapa’, BRI menghidupkan sebuah alih wahana: bukan sekadar mengelola, tapi merangkul siklus kehidupan itu sendiri.

Bagi banyak orang,sampah adalah akhir cerita. Sebuah titik tempat segala sesuatu berhenti dan lenyap. Tapi, bagi para pengurus TPS3R Pudak Mesari, sampah adalah sebuah kalimat yang jedanya panjang, menunggu untuk dibaca ulang dan dituliskan menjadi bab baru. Memahami bahasa mereka inilah yang menjadi inti dari program BRI Peduli ‘Yok Kita Gas’.

Pada sebuah Sabtu yang penuh makna, pelatihan digelar. Bukan sekadar duduk dan mendengar, tetapi sebuah pertemuan antara niat tulus dan ilmu yang mengalir deras. Para pemateri dari Petani Muda Keren hadir bagai petani yang membawa bibit unggul, sementara para peserta—para pejuang lingkungan di garis depan—adalah lahan subur yang siap ditanami pengetahuan baru.

Dhanny, Corporate Secretary BRI, bagai sedang merajut benang-benang visi menjadi sebuah tenunan yang kokoh. “Ini adalah tentang mengubah paradigma,” ujarnya, suaranya tenang namun penuh keyakinan. Dari unit pengelola sampah, mereka hendak mentransformasikannya menjadi sentra inovasi berbasis ekonomi sirkular. Setiap genggam sampah organik bukan lagi masalah, melainkan embrio dari pupuk granul, pupuk organik cair, atau media tanam siap pakai yang bernilai ekonomi. Ini adalah seni mengubah rongsokan menjadi rupiah, memintal kemandirian dari benang-benang limbah yang terabaikan.

Lalu, pelatihan itu pun berpindah dari teori ke kehidupan. Para peserta beranjak ke tempat produksi. Di sana, mesin-mesin berdengung, bukan dengan suara menggerus telinga, tetapi seperti melantunkan syair tentang efisiensi dan kemajuan. Tangan-tangan yang biasanya cekatan memilah, kini dengan penuh rasa ingin tahu menyentuh dan mengamati. Mereka menyaksikan bagaimana teknologi dapat menjadi sahabat yang mempercepat proses, tanpa menghilangkan jiwa dari kompos itu sendiri—proses alami dimana yang tua dan busuk memberi kehidupan bagi yang baru dan hijau.

A.A. Gede Agung Wedhatama P. dari Petani Muda Keren memandang semangat itu dengan bangga. Baginya, pelatihan ini bagai menyalakan lilin di kegelapan. Bukan hanya tentang inovasi teknik, tetapi tentang menyalakan kesadaran bahwa di ujung proses ini, tanah-tanah yang gersang akan kembali subur, erosi dapat dicegah, dan pertanian berkelanjutan bukan lagi mimpi. “Harapannya,” ujarnya, “ilmu ini tak berhenti di sini, tetapi menjadi virus kebaikan yang menyebar.”

Program‘Yok Kita Gas’ BRI Peduli ibarat menabur benih di lahan yang paling tak terduga: di antara sampah. Kini, di Pudak Mesari, yang tersisa bukan lagi bau busuk yang menusuk hidung, tetapi harum tanah subur yang berjanji. Dari sanalah, sebentar lagi, akan tumbuh padi yang merunduk, sayuran yang hijau, dan ekonomi warga yang kian mengakar kuat. Mereka telah membuktikan, bahwa kehidupan selalu punya dua sisi: yang satu adalah sampah, dan sisi lainnya adalah kebun masa depan yang sedang bersemi.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....