Sagu dan Sarang Semut Prioritas Pengembangan Tim Ekspedisi Patriot

  • 15 Sep 2026 10:52 WIB
  •  Merauke

RRI.CO.ID, Merauke : Sagu dan sarang semut menjadi dua komoditas yang akan menjadi fokus pengembangan dalam tindak lanjut kegiatan Tim Ekspedisi Patriot (TEP) 2026 bersama masyarakat adat Kampung Tanas, Distrik Elikobel, Kabupaten Merauke. Potensi tersebut dibahas dalam Focus Group Discussion (FGD) yang melibatkan masyarakat adat Orang Asli Papua (OAP) bersama beberapa alumni Universitas Gadjah Mada (UGM).

Riska Ayu Purnamasari, S.Si., M.Agr.Sc., Ph.D., selaku dosen Departemen Tanah Fakultas Pertanian UGM memimpin kegiatan ini demi mengidentifikasi potensi tumbuhan lokal yang memiliki nilai manfaat dan peluang ekonomi bagi masyarakat di Kawasan Transmigrasi Muting.

Kegiatan ini diarahkan untuk mengidentifikasi tumbuhan lokal yang tidak hanya memiliki manfaat bagi masyarakat, tetapi juga berpeluang untuk dikembangkan menjadi sumber ekonomi. Dari hasil pendataan, terdapat lebih dari 30 jenis tumbuhan di Kawasan Transmigrasi Muting yang meliputi Distrik Elikobel, Ulilin, dan Muting. Selain sagu dan sarang semut, tumbuhan yang ditemukan antara lain yaitu gembili, keladi, gaharu, rimpang, dan pinang.

Penentuan komoditas unggulan dilakukan dengan melibatkan masyarakat secara langsung. Warga menilai setiap jenis tumbuhan berdasarkan kemudahan pengembangan, manfaat sehari-hari, peluang pasar serta kemampuan komoditas tersebut untuk tetap menjaga kelestarian lingkungan.

Riska Ayu Purnamasari, menjelaskan bahwa karakteristik tanah di kawasan tersebut menjadi salah satu faktor yang mendukung keberagaman tumbuhan. Kondisi tersebut dinilai dapat menjadi peluang untuk mengembangkan potensi alam menjadi kegiatan ekonomi yang tetap memperhatikan lingkungan.

Pengembangan komoditas juga akan mempertimbangkan pengetahuan masyarakat yang telah diwariskan secara turun-temurun dalam memanfaatkan hasil hutan. Oleh karena itu pengolahan potensi lokal diarahkan untuk tidak hanya mengejar nilai ekonomi, tetapi juga mempertahankan praktik pemanfaatan sumber daya alam yang berkelanjutan.

Sebagai tindak lanjut, FGD akan kembali dilaksanakan dengan pembahasan yang lebih spesifik mengenai teknik pengolahan, pengemasan dan pemasaran sagu serta sarang semut. Kegiatan tersebut mendapat dukungan Kementerian Transmigrasi sebagai bagian dari upaya pendampingan program ekonomi hijau berbasis pengetahuan lokal di Kawasan Transmigrasi Muting.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....