Dinkes Papua Selatan Dorong Masyarakat Lestarikan Jamu dan TOGA

  • 29 Agt 2026 07:42 WIB
  •  Merauke

RRI.CO.ID, Merauke : Dinas Kesehatan, Pengendalian Penduduk dan Keluarga Berencana Provinsi Papua Selatan mendorong masyarakat untuk melestarikan jamu dan Tanaman Obat Keluarga (TOGA) sebagai bagian dari upaya pencegahan dan menjaga kesehatan keluarga.

Penanggung Jawab Takelmas, Kesjaor dan Kesehatan Tradisional Dinas Kesehatan, Pengendalian Penduduk dan Keluarga Berencana Provinsi Papua Selatan, Christin Ulorlo, SKM, mengatakan jamu masih banyak digunakan masyarakat, baik melalui penjual tradisional maupun pengolahan di tingkat rumah tangga.

Menurut Christin, jamu lebih dikenal dalam konteks preventif atau pencegahan serta untuk mendukung vitalitas dan daya tahan tubuh, bukan sebagai pengobatan kuratif.

“Sebenarnya kalau untuk jamu sendiri kita tidak mengenalnya dengan pengobatan atau kuratif, tetapi jamu ini sebenarnya kita lebih mengenalnya dengan preventif atau juga pencegahan, atau juga sebagai untuk mendukung vitalitas tubuh atau daya tahan tubuh,” ujar Christin, Jumat, 28 Agustus 2026.

Ia menjelaskan, pemanfaatan TOGA dapat dimulai dari lahan pekarangan rumah. Masyarakat yang memiliki keterbatasan lahan tetap dapat menanam berbagai jenis tanaman obat menggunakan pot atau wadah lainnya.

Beberapa tanaman yang disebut Christin dapat ditanam di antaranya daun kelor, daun katuk, serai, jahe dan kunyit. Dinas Kesehatan, Pengendalian Penduduk dan Keluarga Berencana Provinsi Papua Selatan juga telah memulai penanaman TOGA di lahan pekarangan kantor.

Christin menilai konsep satu rumah minimal lima jenis TOGA dapat diterapkan masyarakat dengan memilih tanaman sesuai kebutuhan masing-masing keluarga.

“Jadi sebenarnya lima jenis untuk tanaman keluarga TOGA di lahan pekarangan rumah kita itu sangat efektif. Jadi boleh setiap rumah kita boleh memulainya dengan lima jenis tersebut sesuai dengan kebutuhan kita,” katanya.

Christin juga mengingatkan masyarakat agar tidak sembarangan dalam mengolah maupun mengonsumsi jamu. Informasi yang diperoleh dari berbagai referensi perlu dipahami dengan baik agar pemanfaatannya dilakukan secara tepat.

Ia menambahkan, keberadaan jamu yang telah dikenal secara turun-temurun perlu terus diperkenalkan, khususnya kepada generasi muda, sebagai bagian dari warisan budaya Indonesia.

Menurutnya, perhatian terhadap jamu semakin meningkat setelah jamu diperkenalkan UNESCO sebagai warisan budaya pada 2023. Karena itu, masyarakat Papua Selatan juga dinilai perlu ikut memperkenalkan dan melestarikan jamu sebagai bagian dari warisan budaya.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....