Energi untuk Ujung Negeri

  • 30 Apr 2026 16:29 WIB
  •  Merauke

RRI.CO.ID, Merauke : Di belantara Boven Digoel, Papua Selatan, rumah-rumah tinggi milik Suku Korowai berdiri menjulang di atas pohon setinggi 15 hingga 50 meter.

Rumah itu dibangun menggunakan kayu dan rotan di atas pohon besar seperti wanim atau banyan raksasa.

Bagi Suku Korowai, rumah pohon bukan sekadar tempat tinggal, tetapi perlindungan dari banjir, binatang buas, dan roh jahat.

Suku yang tinggal di Dusun Dayo, Distrik Yaniruma, Kabupaten Boven Digoel ini baru dikenal dunia sekitar 35 tahun lalu saat ditemukan misionaris Belanda.

Dunia luar menyebut mereka “manusia pohon”, namun di balik kehidupan unik itu, tersimpan kisah panjang tentang keterasingan dan kemiskinan di pedalaman Papua.

Sebelum BBM

Sebelum pembangunan masuk ke pedalaman, hidup Suku Korowai berjalan dalam keterasingan. Tidak ada listrik, jalan, maupun akses mudah mendapatkan bahan bakar minyak.

Di wilayah ini, harga minyak bisa mencapai Rp100 ribu hingga Rp150 ribu per liter. Untuk mendapatkannya, warga harus berjalan kaki berhari-hari melewati sungai dan rawa menuju Tanah Merah.

“Dulu, kita jalan kaki dua atau tiga hari. Kadang tukar minyak dengan babi atau sagu. Kalau hujan deras, kita hanya tunggu nasib,” kenang Yohanis Kewage, ayah tiga anak dari Dusun Dayo.

Bagi masyarakat Korowai, setiap tetes minyak menentukan kehidupan. Saat minyak habis, perahu tak bisa berjalan, orang sakit sulit ke puskesmas, dan anak-anak belajar dalam gelap.

“Kalau minyak habis, kami tidak bisa ke kota atau jual hasil sagu,” kata tokoh masyarakat Beneas Tabi. “Kadang kami merasa Tuhan lupa jalan ke sini.”

Yohanis Kewage ketika di wawancarai RRI di atas rumah pohon di Dusun Dayo Distrik Yaniruma Kabupaten Bovendigoel. (Foto RRI)

Luka Rumah Pohon

Di rumah pohonnya di Dusun Dayo, Marek Wanimbo (50) masih mengingat kematian anak sulungnya di tengah perjalanan menuju puskesmas Bomakia. Saat itu, perahu mereka tak bisa berjalan karena minyak habis.

“Anak saya sakit. Kami dorong perahu lawan arus, tapi dia meninggal di perjalanan,” katanya lirih.

Marek mengaku saat itu keluarganya tidak mampu membeli minyak yang harganya sangat mahal. Anaknya akhirnya dimakamkan di bawah pohon dekat hutan tempat mereka tinggal.

Sebelum BBM Satu Harga hadir dengan dukungan PT Elnusa Petrofin, banyak keluarga Korowai mengalami kesulitan serupa. Jika mesin rusak atau minyak habis, warga harus mendayung perahu seharian atau berjalan kaki membawa hasil hutan di punggung mereka.

“Kami sering merasa hidup terus dalam gelap,” ucap Marek pelan.

Kesehatan Terbatas

Sebelum BBM Satu Harga hadir melalui distribusi PT Elnusa Petrofin, kesehatan bagi masyarakat Korowai sering ditentukan oleh ada atau tidaknya minyak di jeriken mereka.

Di tengah hutan pedalaman, BBM menjadi satu-satunya jalan menuju keselamatan.

Agustinus Wanimbo, warga Dusun Dayo, masih mengingat malam ketika istrinya meninggal setelah melahirkan anak bungsu mereka.

“Istri saya pendarahan tengah malam. Kami mau bawa ke puskesmas Bomakia, tapi minyak habis. Saya cari ke tetangga juga tidak ada,” katanya lirih.

Ia sempat memanggul istrinya dengan tandu menuju sungai, namun sang istri meninggal sebelum mendapat pertolongan.

“Kalau malam itu ada minyak, mungkin dia masih hidup,” ujarnya dengan suara serak.

Cerita serupa dirasakan Maria Ndimbo, ibu empat anak dari Distrik Yaniruma.

“Kalau ada orang sakit, kami hanya bisa berdoa. Dokter jauh, minyak tidak ada,” katanya.

Bagi masyarakat Korowai saat itu, satu liter minyak bisa berarti satu nyawa.

Agustinus Wanimbo (kanan) ketika melakukan aktifitas di Dusun Dayo. (Foto RRI)

Pendidikan Terhambat

Sebelum BBM Satu Harga hadir melalui PT Elnusa Petrofin, pendidikan bagi anak-anak Korowai di Dusun Dayo berjalan dalam keterbatasan.

Sekolah terdekat berjarak puluhan kilometer, sementara guru sering datang dan pergi karena beratnya medan.

Maria Wanimbo, guru honorer di kampung itu, mengatakan anak-anak tetap ingin belajar meski hidup dalam gelap.

“Kalau hujan atau minyak habis, mereka tidak datang. Kadang kami menulis di kulit pohon karena kertas habis. Malam hari, anak-anak belajar pakai obor damar,” katanya dengan mata berkaca.

Satu-satunya genset kampung hanya menyala saat ada minyak. Karena mahal, warga sering patungan demi menyalakan lampu satu malam.

“Kami ingin anak-anak tahu huruf dan angka, tapi minyak menentukan semuanya,” ujar Maria.

Bagi anak-anak Korowai saat itu, gelap bukan hanya malam, tetapi juga batas bagi mimpi mereka.

BBM Hadir

Ketika program BBM Satu Harga hadir melalui distribusi PT Elnusa Petrofin, perubahan mulai dirasakan masyarakat Korowai di pedalaman Boven Digoel.

Untuk pertama kalinya, warga bisa membeli pertalite dengan harga Rp10 ribu per liter, sama seperti di kota.

Markus Weya, Kepala Dusun Dayo, masih mengingat saat mobil tangki PT Elnusa Petrofin tiba di kampungnya melewati sungai dan jalan berlumpur.

“Saya menangis waktu lihat mobil tangki datang. Kami pikir itu mimpi. Minyak yang dulu hanya untuk orang kota, sekarang ada di tengah hutan kami,” katanya haru.

Sejak itu, perahu warga kembali beroperasi, genset menyala setiap malam, dan anak-anak bisa belajar di bawah cahaya lampu, bukan lagi obor damar. Hasil sagu dan ikan pun lebih mudah dibawa ke distrik untuk dijual.

Bagi masyarakat Korowai, BBM Satu Harga dan PT Elnusa Petrofin menjadi harapan baru yang menghubungkan mereka dengan dunia luar.

Markus Weya (tiga dari kiri) ketika bersama masyarakat Suku Korowai.(Foto RRI)

Harapan Medis

Kini, setelah PT Elnusa Petrofin menghadirkan BBM Satu Harga di pedalaman Korowai, suara mesin perahu kembali terdengar di tengah hutan.

BBM tidak lagi langka seperti dulu, dan warga bisa lebih cepat membawa orang sakit ke puskesmas di distrik.

Bidan Puskesmas Bomakia, Elisabet Waker, mengaku perubahan itu sangat terasa.

“Dulu banyak pasien datang sudah tidak bernyawa. Sekarang keluarga bisa langsung bawa pakai perahu motor karena BBM mudah dibeli,” katanya.

Ia masih mengingat seorang ibu muda yang melahirkan di rumah pohon dan berhasil diselamatkan karena keluarganya bisa segera membeli BBM di pom bensin.

“Saya menangis waktu dengar tangisan pertama bayinya,” ujar Elisabet lirih.

Bagi masyarakat Korowai, kehadiran PT Elnusa Petrofin dan BBM Satu Harga bukan sekadar menghadirkan bahan bakar, tetapi juga menghadirkan harapan baru.

“Sekarang kami tidak takut lagi kalau anak sakit,” kata Agustinus Wanimbo. “Kalau minyak habis, kami bisa beli dengan harga yang sama seperti orang kota.”

Dari rumah-rumah pohon di tengah rimba, anak-anak Korowai kini mulai tumbuh dengan harapan yang lebih terang.

Cahaya Baru

Lukas Waker, pemuda Korowai berusia 30 tahun, masih mengingat saat ibunya sakit demam tinggi dan tidak bisa dibawa ke puskesmas karena tidak ada BBM.

“Kami hanya bisa kipas dan berdoa. Setelah PT Elnusa Petrofin membawa BBM Satu Harga, kalau ada yang sakit kami bisa langsung antar ke distrik. Sekarang mama sehat,” katanya haru.

Kini Lukas juga bisa menyekolahkan dua anaknya di SD Bomakia. Setiap malam, anak-anaknya belajar di bawah cahaya lampu, bukan lagi gelap hutan.

“Dulu saya pikir anak saya tidak akan bisa baca. Saya sendiri tidak bisa baca, tapi saya senang lihat mereka pegang buku,” ujarnya pelan.

Bagi Lukas, kehadiran PT Elnusa Petrofin dan BBM Satu Harga bukan sekadar bahan bakar, tetapi cahaya yang mengubah kehidupan masyarakat Korowai.

Lukas Waker (kanan) ketika sedang membuat atap rumah pohon ( Foto RRI)

Perubahan Hidup

Nikson Haluk, pemuda Korowai berusia 27 tahun, masih menyimpan luka setelah kehilangan adiknya karena terlambat mendapat pertolongan medis.

“Kami mau antar dia ke puskesmas, tapi minyak habis. Kami dorong perahu sampai sungai besar, tapi adik saya meninggal di perahu,” katanya lirih.

Dulu, malam di kampungnya hanya ditemani gelap, suara jangkrik, dan doa. Bagi masyarakat Korowai, BBM adalah jalan menuju keselamatan.

“Kalau minyak habis, kami kehilangan harapan,” ujarnya.

Setelah PT Elnusa Petrofin menghadirkan BBM Satu Harga, hidup Nikson berubah. Kini ia bisa mengantar warga sakit ke puskesmas dengan perahu motornya tanpa harus menunggu lama.

“Sekarang kami tidak takut lagi kehilangan orang,” katanya.

Ia juga bisa menyekolahkan adik bungsunya di Tanah Merah. “Dulu kami tidak berani mimpi sekolah jauh, tapi sekarang bisa. Semua karena minyak,” ucapnya haru.

Bagi masyarakat Korowai, program BBM Satu Harga melalui PT Elnusa Petrofin bukan hanya menghadirkan BBM, tetapi juga menyalakan harapan baru di tengah hutan.

Pendidikan dan Harapan

Perubahan besar juga dirasakan di dunia pendidikan Korowai. Dengan BBM dari PT Elnusa Petrofin melalui program BBM Satu Harga, genset sekolah kini bisa menyala setiap malam dan guru lebih mudah datang ke kampung.

Maria Wanimbo tak lagi mengajar dalam gelap.

“Malam hari kami nyalakan genset dua jam untuk belajar. Anak-anak bilang lampu ini seperti matahari kecil di hutan,” katanya haru.

Salah satu muridnya, Yarus Kewage (10), kini bercita-cita menjadi pilot.

“Supaya saya bisa antar orang Korowai naik pesawat, biar tidak susah lagi ke kota,” katanya polos.

Bagi anak-anak Korowai, BBM kini bukan hanya bahan bakar mesin, tetapi juga bahan bakar mimpi mereka.

Ekonomi Bangkit

Dulu, masyarakat Korowai hanya menukar hasil hutan dengan sagu atau daging. Kini, setelah BBM Satu Harga hadir melalui PT Elnusa Petrofin, mereka mulai menjual hasil hutan dan membeli kebutuhan pokok seperti beras, gula, dan minyak goreng.

“Kami bisa beli kebutuhan yang dulu hanya mimpi,” kata Markus Weya.

Warga juga mulai membuka usaha kecil, menjual madu hutan, ikan, hingga kayu legal ke pasar Bomakia. Beberapa keluarga bahkan sudah memiliki radio dan telepon genggam meski sinyal masih terbatas.

“Sekarang kami bisa dengar berita dan tahu Indonesia itu luas,” ujar Markus tersenyum.

Bagi masyarakat Korowai, kehadiran BBM Satu Harga dan PT Elnusa Petrofin bukan hanya membuka akses ekonomi, tetapi juga membuka dunia yang dulu terasa sangat jauh.

Harapan dari Pohon

Kini, suara genset menjadi bagian dari malam di rumah-rumah pohon Korowai. Anak-anak belajar di bawah lampu, sementara keluarga berkumpul tanpa gelap seperti dulu.

“Kalau dulu kami hidup dalam diam, sekarang kami hidup dengan harapan,” ujar Maria Wanimbo lirih.

“Kami tahu Indonesia peduli. Kami tidak lagi sendirian di hutan ini.”

Melalui BBM Satu Harga dan distribusi PT Elnusa Petrofin, masyarakat Korowai perlahan mengenal kehidupan yang lebih terang dan penuh harapan di tengah hutan Papua.

Maria Wanimbo ketika memotong daun sagu.(Foto RRI)

Boven Digoel Bersinar

Di tengah senja dan hujan yang mengguyur Yaniruma, Bupati Boven Digoel, Roni Omba, mengenang masa ketika wilayah itu masih terisolasi.

Harga BBM saat itu bisa mencapai puluhan ribu rupiah per liter, sementara akses transportasi sangat terbatas.

“Dulu kalau bahan bakar tidak sampai, aktivitas berhenti. Perahu tidak jalan dan malam begitu gelap,” ujarnya pelan.

Menurut Roni, kehadiran PT Elnusa Petrofin melalui program BBM Satu Harga membawa perubahan besar bagi masyarakat pedalaman.

Anak-anak yang dulu belajar dengan lampu pelita kini bisa menikmati cahaya listrik pada malam hari.

“Itu bukan perubahan kecil, itu perubahan hidup,” katanya haru.

Ia juga mengapresiasi perjuangan PT Elnusa Petrofin yang harus menembus sungai, hutan, dan cuaca buruk demi menyalurkan BBM ke pedalaman Papua.

“PT Elnusa Petrofin bukan hanya membawa BBM, tapi juga membawa harapan dan rasa bahwa negara hadir di tengah masyarakat Papua,” ujar Roni.

“Ketika lampu menyala di tengah hutan ini, kami tahu Indonesia benar-benar ada di sini.”

Bupati Bovendigoel Roni Omba ketika di wawancarai RRI. (Foto RRI)

SPBU Bagi Korowai

Di tengah lebatnya hutan Distrik Bomakia, Nikson Pampang, pemilik SPBU BBM Satu Harga yang mendapat suplai dari PT Elnusa Petrofin, menjadi saksi perubahan hidup masyarakat Korowai sejak SPBU itu hadir pada 2020.

Setiap hari, ia bersama para pekerja harus melewati jalan berlumpur dan kabut tebal demi memastikan Pertalite dan Bio Solar dari PT Elnusa Petrofin tetap tiba untuk warga pedalaman.

“Kami punya jatah Pertalite 30 KL dan Bio Solar 5 KL untuk masyarakat sekitar Bomakia, termasuk warga rumah pohon Suku Korowai,” katanya dengan suara pelan.

Bagi Nikson, BBM bukan sekadar bahan bakar, tetapi harapan bagi warga yang dulu harus menukar hasil hutan demi mendapatkan segalon minyak.

“Saya sering lihat anak-anak Korowai datang beli pertalite bersama bapaknya. Mereka bilang mau sekolah dan belajar pakai lampu terang. Saya tidak bisa tahan air mata,” ujarnya lirih.

Kini, BBM yang disalurkan PT Elnusa Petrofin menjadi cahaya bagi masyarakat pedalaman, membantu anak-anak belajar di malam hari hingga warga membawa orang sakit ke puskesmas.

“SPBU kecil ini bukan cuma tempat jual BBM, tapi jantung harapan bagi masyarakat yang lama hidup dalam gelap,” katanya.

Keadilan di Timur

Komitmen Pertamina menghadirkan energi berkeadilan di wilayah timur Indonesia terus diwujudkan melalui program BBM Satu Harga bersama PT Elnusa Petrofin sebagai pengantar BBM di Papua dan Maluku.

Sejak diluncurkan pada 2017 hingga akhir 2024, telah hadir 208 titik SPBU BBM Satu Harga. Rinciannya, Papua 12 titik, Papua Pegunungan 28 titik, Papua Selatan 17 titik, Papua Tengah 14 titik, Papua Barat 9 titik, Papua Barat Daya 41 titik, Maluku 35 titik, dan Maluku Utara 52 titik.

Area Manager Communication, Relations & CSR Pertamina Regional Papua Maluku, Ispiani Abbas, mengatakan distribusi BBM di wilayah timur bukan pekerjaan mudah bagi para petugas PT Elnusa Petrofin.

“Petugas PT Elnusa Petrofin harus melewati sungai, mendaki bukit, bahkan menggunakan pesawat kecil dan kapal demi memastikan energi sampai ke masyarakat. Tapi kami percaya, setiap tetes BBM yang tersalurkan adalah cahaya bagi kehidupan,” ujarnya.

Menurutnya, program BBM Satu Harga bukan hanya menekan disparitas harga, tetapi juga menghidupkan ekonomi warga di kampung-kampung terpencil.

“Sekarang warga bisa berdagang, beraktivitas, dan anak-anak belajar pada malam hari tanpa takut gelap. Kami ingin memastikan semua masyarakat merasakan harga energi yang sama,” tutur Ispiani.

Bagi Pertamina dan PT Elnusa Petrofin, menghadirkan energi hingga pelosok timur Indonesia bukan sekadar tugas distribusi, melainkan panggilan moral untuk menghadirkan keadilan sosial bagi masyarakat yang lama hidup dalam keterisolasian.

Data titik penyebaran lembaga penyalur BBM satu harga di wilayah Maluku Papua. (Sumber Data : IG @pertaminamalupa)


PT Elnusa Petrofin Menembus Nalar

Di balik sampainya BBM Satu Harga ke pedalaman Boven Digoel, ada perjuangan sunyi para awak mobil tangki PT Elnusa Petrofin yang setiap hari mempertaruhkan keselamatan di jalan berlumpur Papua.

Danang, salah satu awak mobil tangki PT Elnusa Petrofin, masih mengingat malam ketika truk yang dikendarainya hampir terperosok ke jurang berlumpur menuju Bomakia.

Hujan deras mengguyur hutan, sementara kabut menutup jalan sempit di tengah belantara.

“Kadang kami jalan pelan sekali. Kalau salah sedikit, mobil bisa masuk rawa,” katanya lirih.

Meski medan berat, Danang dan rekan-rekannya tetap mengenakan alat pelindung diri lengkap seperti helm, sepatu safety, pakaian khusus, dan sabuk pengaman selama perjalanan.

Sebelum bertugas, mereka juga wajib menjalani pemeriksaan kesehatan, mengikuti SOP keselamatan, serta dilarang melebihi batas kecepatan demi menjaga distribusi BBM tetap aman hingga ke pedalaman Papua.

Donisius, awak mobil tangki lainnya, mengaku perjalanan panjang sering membuat mereka harus tidur di dalam mobil di tengah hutan.

“Kami pernah terjebak lumpur sampai subuh. Tidak ada sinyal, hanya suara hujan dan binatang malam,” ujarnya pelan.

“Tapi kami ingat di ujung jalan ada masyarakat yang menunggu BBM.”

Bagi mereka, perjalanan membawa BBM bukan sekadar pekerjaan, melainkan tanggung jawab untuk menghadirkan harapan bagi warga pedalaman.

Hal serupa dirasakan Lukman. Ia mengaku pernah mendapat telepon dari istrinya saat sedang mengantar BBM ke pedalaman Boven Digoel. Anak bungsunya di rumah sedang sakit demam tinggi.

“Saya cuma bisa diam di dalam mobil. Mau pulang juga perjalanan masih jauh,” katanya lirih.

Namun Lukman tetap melanjutkan perjalanan membawa BBM bersama tim PT Elnusa Petrofin menuju Bomakia.

“Saya ingat masih ada banyak anak di kampung yang juga menunggu lampu menyala malam itu,” ujarnya pelan.

Di tengah lumpur, hujan, dan sunyi hutan Papua, para awak mobil tangki PT Elnusa Petrofin terus melaju membawa energi hingga ke ujung negeri, memastikan cahaya tetap menyala di rumah-rumah pohon Korowai.

Sebanyak 114 peserta ketika mengikuti pelatihan dan sertifikasi awak angkutan barang berbahaya dan defensive driving training Awak Mobil Tangki (AMT) BBM Fuel Terminal Merauke

PT Elnusa Petrofin dan Teknologi

Distribusi BBM ke daerah terpencil kini tidak hanya mengandalkan kekuatan armada dan awak mobil tangki, tetapi juga pengawasan ketat serta dukungan teknologi digital demi menjaga keselamatan perjalanan dan keamanan distribusi energi.

Dalam dialog Pro 4 RRI Makassar, Rabu (20/5/2026), Manager Corporate Communication & Relation PT Elnusa Petrofin, Putiarsa Bagus Wibowo, mengatakan setiap armada mobil tangki dipantau melalui teknologi digital Road Traffic Control (RTC) berbasis AI.

“Jika pengemudi terdeteksi mengantuk atau menerima telepon saat berkendara, sistem akan langsung memberikan alert secara real time,” ujarnya.

Menurutnya, sebelum mobil tangki diberangkatkan, seluruh awak juga wajib menjalani pemeriksaan kesehatan dan pemeriksaan konsumsi alkohol. Pengawasan itu sekaligus untuk mengantisipasi penyalahgunaan distribusi BBM atau istilah “kencing BBM” yang akan langsung ditindaklanjuti melalui investigasi internal.

Saat ini, PT Elnusa Petrofin didukung lebih dari 2.000 armada mobil tangki (MT) dan 8.000 lebih awak mobil tangki (AMT) yang melayani distribusi energi di seluruh Indonesia, termasuk hingga wilayah tertinggal, terdepan, dan terluar (3T).

Komitmen tersebut terus dilakukan PT Elnusa Petrofin untuk memastikan program BBM Satu Harga dapat dirasakan masyarakat hingga pelosok negeri.

Manager Corporate Communication & Relation PT Elnusa Petrofin, Putiarsa Bagus Wibowo ketika melaksanakan dialog di Pro 4 RRI Makassar. (Foto RRI)

PT Elnusa Petrofin Raih Best CSR Award

Selain menyalurkan BBM Satu Harga hingga daerah terpencil, PT Elnusa Petrofin juga menjalankan program CSR di 98 unit operasional di seluruh Indonesia.

Sepanjang 2025, perusahaan telah melaksanakan 1.010 kegiatan CSR melalui program Petrofin Pintar, Petrofin Sehat, Petrofin Resik, Petrofin Aman, dan Petrofin Tanggap yang berfokus pada pendidikan, kesehatan, lingkungan, keselamatan, dan tanggap bencana.

Komitmen itu mengantarkan PT Elnusa Petrofin (EPN), anak usaha PT Elnusa Tbk di bawah Subholding Upstream Pertamina, meraih penghargaan 8th Indonesia Best CSR Award 2026 kategori Perusahaan Sektor Energi yang digelar The Iconomics bersama Axia Research di Gedung Aneka Bakti Kementerian Sosial RI, Jakarta, Kamis (21/5/2026).

Manager Corporate Communication & Relations PT Elnusa Petrofin, Putiarsa Bagus Wibowo, mengatakan program CSR perusahaan diarahkan untuk mendukung pencapaian 17 target SDGs melalui delapan target utama, yakni pengentasan kemiskinan, tanpa kelaparan, kehidupan sehat dan sejahtera, pendidikan berkualitas, pekerjaan layak dan pertumbuhan ekonomi, kota dan komunitas berkelanjutan, konsumsi dan produksi yang bertanggung jawab, serta aksi penanganan perubahan iklim.

“CSR menjadi bagian dari komitmen kami untuk menghadirkan dampak berkelanjutan bagi masyarakat,” ujarnya.

Wakil Menteri Sosial, Agus Jabo Priyono, turut mengapresiasi perusahaan penerima penghargaan karena dinilai mampu menjalankan CSR yang mendukung pembangunan nasional menuju Indonesia yang adil dan makmur.

Menjelang tiga dekade perjalanan perusahaan, PT Elnusa Petrofin menegaskan komitmennya untuk terus menghadirkan energi sekaligus energi kebaikan bagi masyarakat hingga pelosok Indonesia.

Manager Corporate Communication & Relations PT Elnusa Petrofin, Putiarsa Bagus Wibowo (tengah) ketika meraih penghargaan 8th Indonesia Best CSR Award 2026. (Foto : IG @elnusapetrofin official)

Berujung Bahagia

Di tepian sungai Dusun Dayo, Anita Wanimbo masih mengingat masa ketika tangisan orang sakit sering kalah cepat dari habisnya minyak di jeriken warga.

Di tengah hutan pedalaman Korowai, BBM dulu terasa lebih mahal dari harapan.

“Kalau malam ada yang sakit, kami takut. Bukan takut penyakitnya, tapi takut tidak bisa bawa ke puskesmas karena minyak tidak ada,” katanya lirih.

Ia pernah kehilangan anaknya sendiri karena perahu tak dapat menyala menuju Bomakia.

Sejak BBM Satu Harga hadir melalui distribusi PT Elnusa Petrofin, ketakutan itu perlahan mulai hilang.

Kini warga bisa membawa pasien lebih cepat ke puskesmas, ibu hamil dapat ditolong lebih cepat, dan suara mesin perahu pada malam hari tidak lagi terdengar seperti kabar duka.

Perubahan juga terasa dalam kehidupan sehari-hari masyarakat Korowai.

Hasil sagu, ikan, dan madu hutan kini lebih mudah dijual ke distrik sehingga warga bisa membeli beras, gula, dan kebutuhan sekolah anak-anak mereka.

Di rumah-rumah pohon, anak-anak yang dulu belajar dalam asap obor damar kini mulai mengenal cahaya lampu dan buku tulis.

“Sekarang kalau malam, saya lihat lampu di rumah-rumah pohon menyala seperti bintang jatuh ke bumi. Dulu kami cuma lihat bintang di langit, sekarang bintang itu ada di rumah kami sendiri,” katanya lirih.

Di tengah suara burung malam dan deru perahu motor, Anita pelan melantunkan lagu “Aku Papua” karya Franky Sahilatua.

“Tanah Papua tanah yang kaya, surga kecil jatuh ke bumi…”

Ia lalu menatap langit senja yang mulai ungu.

“Dulu kami menangis karena gelap. Sekarang kami menangis karena terang,” katanya.

BBM Satu Harga yang diantar hingga pelosok oleh PT Elnusa Petrofin kini bukan hanya menyalakan lampu di tengah hutan, tetapi juga menghadirkan harapan baru bagi masyarakat Korowai.

Selama 30 tahun, PT Elnusa Petrofin terus menghadirkan semangat “Connecting Your Energy”, menghubungkan energi, kehidupan, dan harapan hingga ke rumah-rumah pohon di pedalaman Papua.

google-preference
Kata Kunci / Tags

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....