Langkah Jemaah Tertua Menanti Baitullah

  • 21 Feb 2026 08:46 WIB
  •  Merauke

RRI.CO.ID, Merauke : Langit pagi di Merauke masih diselimuti warna pucat ketika persiapan itu dimulai. Di antara koper-koper yang mulai ditata dan doa-doa yang diam-diam dipanjatkan, seorang lelaki renta berdiri dengan tubuh yang tak lagi tegap, tetapi dengan hati yang justru paling kokoh.

Namanya Jamaludin. Usianya 80 tahun. Ia adalah jemaah haji tertua asal Kabupaten Merauke pada musim haji 2026.

Namun perjalanan itu belum benar-benar dimulai. Ia dan rombongan jemaah lainnya dijadwalkan akan berangkat pada Mei 2026 melalui embarkasi Makassar, sebuah titik awal dari perjalanan panjang menuju Tanah Suci yang selama ini hanya ia simpan dalam doa-doanya.

Delapan Puluh Tahun Menunggu Panggilan

Di rumah sederhana miliknya, Jamaludin duduk sambil merapikan perlengkapan haji. Tangannya bergetar halus saat melipat kain ihram, seolah sedang menyentuh mimpi yang akhirnya menjadi nyata.

“Saya masih seperti tidak percaya,” ujarnya pelan.

Puluhan tahun ia menunggu. Menyisihkan rezeki sedikit demi sedikit, menahan keinginan, dan menyimpan harapan yang tak pernah ia ceritakan kepada banyak orang.

Kini, ketika panggilan itu benar-benar datang, tubuhnya justru tidak lagi sekuat dulu.

“Kalau Allah sudah panggil, saya harus siap,” katanya.

Ada jeda panjang. Matanya berkaca-kaca.

“Saya hanya ingin bisa sampai, melihat Ka’bah,” ucapnya lirih.

Dipapah Sejak dari Tanah Air

Ketua Kelompok 3 jemaah haji Merauke, Mulyono, mengatakan perhatian terhadap jemaah lansia sudah dimulai bahkan sebelum keberangkatan.

“Kami sudah siapkan pendampingan sejak dari Merauke sampai ke embarkasi Makassar,” jelasnya.

Menurutnya, perjalanan panjang menuju Tanah Suci dimulai dari langkah kecil, bahkan sejak di bandara.

“Ada kursi roda, ada pendamping. Kami pastikan mereka tidak kelelahan,” katanya.

Ia mengaku, mendampingi lansia bukan hanya soal tugas, tetapi juga soal rasa.

“Kadang mereka diam saja, tapi kita tahu mereka capek. Di situ kita harus hadir,” ujarnya.

Dua Puluh Lansia, Dua Puluh Harapan

Kepala Kantor Kementerian Agama Merauke, Herman Wona, menyebut bahwa tahun 2026 ini terdapat 20 jemaah lansia asal Merauke yang akan diberangkatkan melalui embarkasi Makassar.

“Mereka adalah bagian dari kelompok rentan yang menjadi perhatian khusus pemerintah,” jelasnya.

Menurut Herman, setiap lansia membawa kisah panjang tentang kesabaran.

“Ada yang menunggu belasan hingga puluhan tahun. Ini bukan perjalanan biasa bagi mereka,” katanya.

Ia menegaskan, kesiapan fisik dan mental menjadi fokus utama sebelum keberangkatan.

“Kami ingin mereka berangkat dengan tenang, bukan dengan kekhawatiran,” ujarnya.

Lansia Jadi Prioritas Nasional

Ketua Dewan Pengawas BPKH, Firmansyah N. Nazaroedin, menegaskan bahwa jemaah lansia menjadi salah satu fokus utama dalam penyelenggaraan haji tahun 2026.

“Komposisi jemaah kita saat ini didominasi kelompok rentan, termasuk lansia,” ujarnya.

Data nasional menunjukkan bahwa sekitar 25 persen jemaah haji Indonesia tahun 2026 merupakan lansia . Bahkan, jumlah jemaah dengan kategori risiko tinggi, yang sebagian besar adalah lansia dan memiliki penyakit penyerta, mencapai lebih dari 177 ribu orang.

Angka itu menggambarkan satu hal, perjalanan haji hari ini tidak lagi sekadar ibadah, tetapi juga perjuangan fisik yang berat bagi banyak orang tua.

Karena itu, menurut Firmansyah, kehadiran BPKH menjadi sangat penting.

“Melalui pengelolaan dana haji, kami memastikan ada nilai manfaat yang kembali ke jemaah,” katanya.

Nilai manfaat itu digunakan untuk meningkatkan kualitas layanan, mulai dari akomodasi yang lebih layak, transportasi yang lebih nyaman, hingga penyediaan fasilitas ramah lansia seperti kursi roda dan pendampingan khusus.

“Ini bukan hanya soal angka, tapi soal bagaimana negara hadir untuk mereka,” tegasnya.

Menunggu di Ambang Keberangkatan

Kini, Jamaludin masih di Merauke. Ia belum melangkah ke Tanah Suci, tetapi hatinya seperti sudah lebih dulu berangkat.

Setiap hari, ia bersiap. Bukan hanya mengemasi barang, tetapi juga menata harapan.

Di sela-sela waktu, ia sering terdiam. Menatap jauh, seolah melihat sesuatu yang belum pernah ia lihat, tetapi begitu ia rindukan.

Perjalanan itu memang belum dimulai.

Pesawat belum lepas landas.

Langkah belum menapak tanah suci.

Namun bagi Jamaludin, perjalanan itu sudah dimulai sejak lama, sejak ia pertama kali menyebut nama Tuhan dalam doa-doanya.

Dan di balik langkah-langkah yang akan segera dimulai itu, ada satu hal yang ikut berjalan bersama mereka.

Hadirnya negara melalui Badan Pengelola Keuangan Haji.

Melalui manfaat dana umat yang dikelola, perjalanan para lansia seperti Jamaludin menjadi sedikit lebih ringan. Ada kursi roda yang disiapkan, ada layanan yang diperbaiki, ada perhatian yang terus dijaga.

Di usia yang renta, mereka tidak lagi berjalan sendiri.

Ada tangan-tangan yang menopang.

Ada sistem yang melindungi.

Ada harapan yang dirawat bersama.

Dan ketika nanti pesawat itu benar-benar lepas landas dari Makassar,

Jamaludin tidak hanya membawa doa.

Ia juga membawa bukti,

Bahwa di ujung penantian panjang, selalu ada jalan yang dipersiapkan.

Bahkan untuk langkah yang paling pelan sekalipun.

Kata Kunci / Tags

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....