Dorong Ekonomi Hijau, Patriot UGM Sulap Kulit Kopi Jadi Pupuk Kompos Organik

  • 30 Sep 2026 13:35 WIB
  •  Merauke

RRI.CO.ID, Merauke : Kulit kopi selama ini sering dianggap sisa yang tidak berguna setelah panen. Di Alfasera 2, Kawasan Transmigrasi Muting, anggapan itu mulai berubah. Sebanyak 12 petani kopi setempat belajar mengolah limbah tersebut menjadi pupuk kompos organik dalam pelatihan yang digelar Patriot UGM di Alfasera 2, Distrik Muting pada Hari Senin, 28 September 2026.

Bertindak sebagai fasilitator, Patriot UGM mengajak petani setempat praktik langsung pembuatan pupuk kompos dengan memanfaatkan kulit kopi yang tidak dipakai di lahan perkebunan. Kulit kopi dicampur dengan kotoran sapi dan bahan pendukung lainnya, dan hasilnya 24 kilogram pupuk kompos organik berhasil dibuat.

Langkah sederhana ini sejalan dengan semangat ekonomi hijau, yaitu model pembangunan yang mendorong pertumbuhan ekonomi tanpa mengorbankan kelestarian lingkungan. Dalam praktiknya, limbah kulit kopi tidak lagi berakhir sebagai sampah, tetapi kembali ke kebun sebagai pupuk. Pola "limbah jadi sumber daya" ini juga dikenal sebagai ekonomi sirkular, salah satu pilar penting ekonomi hijau.

Manfaatnya terasa di beberapa sisi. Dari sisi lingkungan, kompos memperbaiki kesuburan tanah dan mengurangi limbah pertanian. Dari sisi ekonomi, petani bisa menekan ketergantungan pada pupuk kimia, sehingga biaya produksi berpotensi lebih hemat karena bahan bakunya tersedia dari kebun sendiri. Dari sisi keberlanjutan, tanah yang sehat menjadi modal jangka panjang untuk hasil panen kopi yang lebih baik.

"Lewat pelatihan ini, kami ingin petani melihat bahwa menjaga lingkungan dan meningkatkan pendapatan bisa berjalan bersamaan. Limbah kulit kopi kembali ke kebun sebagai pupuk, dan tanah yang sehat akan menjadi modal panen yang lebih baik di masa depan " ujar Wiski Irawan, S.P., M.Sc.

Ke depannya, petani kopi di Muting diharapkan dapat melanjutkan praktik tersebut secara mandiri. Dari kulit kopi yang sebelumnya dianggap sebagai limbah, muncul peluang untuk membangun pola budidaya yang lebih hemat sumber daya dan berkelanjutan. (TEP UGM)

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....