Peluh Dibalik TMMD di Ufuk Timur

  • 11 Agt 2026 06:13 WIB
  •  Merauke

RRI.CO.ID, Merauke : Tik... tik... tik... Suara air hujan menetes dari atap seng yang bocor.

Air menggenang di lantai rumah Albertus Moiwend.

Rumah kayu itu sudah lapuk.

Tiangnya melemah, dindingnya tak lagi kokoh.

Setiap hujan turun, Albertus dihantui ketakutan rumahnya roboh dan keluarganya kehilangan tempat berlindung.

Namun ia tetap bertahan.

Bukan karena rumah itu layak, tetapi karena hanya itu yang ia punya.

Begitulah kehidupan warga Kampung Wanam, Distrik Ilwayab, Kabupaten Merauke.

Air bersih sulit didapat, MCK seadanya, jembatan mulai rapuh, sementara sakit terkadang harus ditahan karena biaya berobat.

Hingga suara langkah prajurit TNI Angkatan Darat terdengar di kampung itu.

Melalui TMMD ke-129 Kodim 1707/Merauke, mereka datang membawa material, tenaga, dan harapan.

Harapan untuk rumah yang hampir roboh.

Harapan bagi warga yang terlalu lama bertahan.

Ancaman Badai

Badai pernah membuat Albertus Moiwend takut kehilangan rumahnya.

Angin kencang menghantam dinding kayu yang lapuk.

Seng bergetar, rumah bergoyang dan nyaris roboh.

Di tengah kepanikan, Albertus hanya memikirkan anaknya yang sedang sakit.

Ia memeluk sang anak, melindunginya dari kemungkinan reruntuhan.

“Waktu angin kencang, sa takut rumah roboh. Anak saya ada sakit di dalam rumah,” ujarnya.

Badai berlalu, tetapi ketakutan tetap tinggal.

Rumah itu hanya diperbaiki seadanya.

Kini, melalui TMMD, rumah Albertus dibangun kembali menjadi lebih layak.

“Sekarang kalau hujan, kita sudah tidak terlalu takut,” ujarnya.

Hujan yang dulu membawa kecemasan, kini hanya terdengar dari balik atap yang lebih kokoh.

Rumah yang dulu membuat Albertus takut kehilangan keluarganya, kini kembali menjadi tempat berlindung.

Albertus Moiwend ketika berada di areal perbaikan rumah tidak layak huni di Kampung Wanam. (Foto RRI)

MCK di Balik Seng Bekas

Setiap hari, Cerelius Maiwend Hende dan keluarganya menggunakan MCK yang jauh dari kata layak.

Atapnya hampir tak ada.

Dindingnya hanya seng bekas yang disusun seadanya.

Saat hujan turun, air masuk dari berbagai sisi.

Saat panas, ruang sempit itu terasa pengap.

Bukan karena mereka tak ingin memiliki MCK yang lebih baik.

Mereka hanya tak punya pilihan.

Bertahun-tahun, kondisi itu mereka terima sebagai bagian dari kehidupan.

Hingga prajurit TMMD datang dan membangun MCK yang lebih layak.

“Puji Tuhan, bapak tentara dong kasih kita MCK baru,” ujarnya.

Kini, hujan tak lagi menjadi masalah.

Seng bekas telah berganti, ruang seadanya berubah menjadi tempat yang lebih nyaman.

Bagi keluarga Cerelius, MCK sederhana itu bukan hanya bangunan.

Di tempat kecil itu, mereka akhirnya menemukan rasa nyaman yang selama ini sulit didapat.

Air yang Dinanti

Bertahun-tahun, Maria Moiwend hanya bisa berharap pada hujan.

Saat hujan turun, air ditampung untuk kebutuhan sehari-hari.

Namun ketika kemarau datang, air sulit didapat.

Warga bahkan harus berjalan kaki jauh ke kampung lain untuk mencari air bersih.

Jika tidak mendapat air, rawa menjadi pilihan terakhir.

Air keruh tetap diminum karena tidak ada pilihan.

Diare dan muntaber pun datang.

Anak-anak menjadi yang paling sering sakit.

“Kalau kemarau panjang, kita susah air. Anak-anak banyak yang sakit diare dan muntaber,” ujarnya.

Kondisi itu berlangsung bertahun-tahun, hingga prajurit TMMD menggali sumur di Kampung Wanam.

Kini, Maria tak lagi harus menunggu hujan atau berjalan jauh mencari air.

“Kita bersyukur, bapak tentara sudah buat kita sumur. Semoga anak-anak tidak minum air rawa lagi,” katanya.

Bagi sebagian orang, air bersih adalah hal biasa.

Namun bagi Maria dan warga Wanam, air adalah penantian panjang.

Kini, harapan itu tak hanya jatuh dari langit, tetapi mengalir dari tanah yang mereka pijak.

Jembatan Kehidupan

Fabianus Gebze masih ingat ketika beberapa warga terjatuh di jembatan Kampung Wanam.

Papan kayunya telah lapuk.

Setiap langkah terasa berbahaya.

Namun jembatan itu tetap harus dilewati untuk membawa hasil alam, sumber penghidupan warga.

“Kalau jembatan ini putus, kita susah mau bawa hasil alam untuk dijual,” ujarnya.

Kekhawatiran itu berubah ketika Satgas TMMD datang memperbaiki jembatan.

Kayu-kayu rapuh diganti.

Jembatan yang hampir roboh kembali kokoh.

Kini, warga tak lagi melangkah dengan rasa takut.

Mereka kembali membawa hasil alam, mencari nafkah, dan membawa harapan untuk keluarga.

Fabianus Gebze ketika berada di wilayah perbaikan jembatan di Kampung Wanam. (Foto RRI)

Sakit yang Tak Terobati

Di Kampung Wanam, sakit pernah berakhir dengan kehilangan.

Kemiskinan membuat warga tak mampu berobat.

Obat tradisional menjadi satu-satunya andalan, hingga pernah ada warga yang meninggal karena tidak mendapatkan pengobatan.

Kisah itu masih diingat Lukas Moiwend.

Kini, ia menjadi salah satu warga yang mendapat pengobatan gratis dari Satgas TMMD.

“Banyak warga sakit, tetapi tidak mampu berobat. Bantuan ini sangat membantu,” ujarnya.

Hari itu, Lukas pulang membawa obat.

Bagi warga Wanam, obat itu membawa harapan.

Harapan agar sakit bisa diobati, dan tidak lagi berakhir dengan kehilangan.

Lukas Moiwend (dua dari kiri) ketika memperoleh pengobatan gratis dari Anggota Satgas TMMD. (Foto RRI)

Ancaman Stunting

Yohana Ndiken datang membawa anaknya.

Di wajahnya tersimpan kecemasan seorang ibu, ingin memastikan anaknya tumbuh sehat.

Di Kampung Wanam, stunting masih menjadi kekhawatiran.

Keterbatasan ekonomi membuat tidak semua keluarga mampu memenuhi kebutuhan gizi anak dengan cukup.

Saat layanan kesehatan dan pencegahan stunting hadir melalui TMMD, Yohana membawa anaknya untuk diperiksa.

“Saya ingin anak saya tumbuh sehat dan tidak mengalami stunting,” ujarnya.

Keinginan itu sederhana.

Namun bagi keluarga yang hidup dalam keterbatasan, memastikan anak tumbuh sehat bukan perkara mudah.

Yohana hanya ingin melihat anaknya tumbuh besar, bersekolah, dan memiliki kehidupan yang lebih baik.

Yohana Ndiken (tengah baju kuning) ketika melakukan pemeriksaan kesehatan gratis dan pencegahan stunting bagi anaknya. (Foto RRI)

Guru Berseragam Loreng

“Satu... dua... tiga...” Suara aba-aba terdengar di halaman sekolah Kampung Wanam.

Natalina Yolmen, siswi kelas 5 SD, mengikuti gerakan prajurit.

Kakinya kecil, gerakannya belum sempurna, tetapi ia terus mencoba.

Hari itu, prajurit Satgas TMMD tidak hanya mengajarkan baris-berbaris, wawasan kebangsaan, dan bela negara.

Anak-anak juga mendapat sosialisasi tentang Sekolah Rakyat.

Natalina mendengarkan dengan penuh perhatian.

Sekolah yang memberi kesempatan anak-anak untuk belajar dan meraih masa depan membuatnya mulai menyimpan satu keinginan.

“Saya ingin jadi siswa Sekolah Rakyat,” ujarnya.

Bagi Natalina, keinginan itu sederhana.

Ia ingin terus sekolah, belajar lebih banyak, dan suatu hari memiliki masa depan yang lebih baik.

Di halaman sekolah yang sederhana itu, sebuah mimpi mulai tumbuh.

Mimpi seorang anak dari Kampung Wanam untuk melangkah lebih jauh melalui pendidikan.

Natalina Yolmen (baju merah) ketika mengikuti latihan baris berbaris dan sosialisasi tentang Sekolah Rakyat dari Anggota Satgas TMMD ke-129 Kodim 1707/Merauke

Ketika TMMD HADIR

Bertahun-tahun, Kampung Wanam terasa jauh dari perhatian.

Jauh dari pusat pemerintahan dan berbagai kemudahan.

Warga menjalani hidup dengan apa yang ada, sambil menunggu pembangunan yang terasa lama untuk sampai.

Sekretaris Kampung Wanam, Lusianus Moiwend, memahami kondisi itu.

Karena itu, saat prajurit TNI datang melalui TMMD, yang ia rasakan bukan sekadar pembangunan, tetapi juga haru.

Untuk pertama kalinya, perhatian terasa begitu dekat.

“Kami sangat berterima kasih. Prajurit TNI sudah membantu masyarakat Wanam,” ujarnya.

Kehadiran PSN, pembangunan lumbung pangan, hingga TMMD perlahan membawa perubahan.

Jalan diperbaiki, jembatan diperkuat, kesehatan diperhatikan, dan anak-anak mendapat perhatian.

Bagi warga Wanam, yang berubah bukan hanya wajah kampung.

Mereka mulai merasakan bahwa kampung di ujung Papua Selatan ini juga menjadi bagian dari pembangunan.

Bagi Lusianus, kedatangan para prajurit menjadi awal cerita baru, tentang Wanam yang perlahan bangkit dari keterisolasian.

Lusianus Moiwend (kiri) ketika berada di areal pembangunan TMMD di Kampung Wanam. (Foto RRI)

Dukungan Pemerintah

Harapan besar disematkan pada TMMD ke-129 Tahun 2026 di Kampung Wanam.

Saat pembukaan di Lapangan Makodim 1707/Merauke, Rabu, 15 Juli 2026, Bupati Merauke Yoseph Bladip Gebze berharap TMMD mampu menghadirkan perubahan yang benar-benar menyentuh kehidupan warga.

“Jangan hanya membangun fisiknya, tetapi bagaimana masyarakat bisa merasakan manfaatnya,” ujarnya.

Harapan itu menjadi penting.

Sebab, BPS mencatat 27,72 ribu penduduk Merauke masih hidup dalam kemiskinan pada Maret 2025, atau 11,31 persen penduduk.

Jumlah itu meningkat 3 ribu orang dibanding Maret 2024.

Bagi warga Wanam, pembangunan bukan hanya tentang rumah, sumur, atau jembatan.

Tetapi tentang menghadirkan kehidupan yang sedikit lebih layak, di tengah keterbatasan yang masih mereka rasakan.

Bupati Merauke Yoseph Bladip Gebze (dua dari kiri) ketika melepas Satgas TMMD ke-129 Kodim 1707/ Merauke. (Foto RRI)

Peluh di Sumur Galian

Di balik seragam loreng, ada keluarga yang harus ditinggalkan, rindu yang dipendam, dan lelah yang tak selalu terlihat.

Satgas TMMD ke-129 Kodim 1707/Merauke membawa kayu, semen, pasir, dan peralatan dari Merauke menuju Kampung Wanam menggunakan kapal laut.

Selama 3–4 hari, mereka menghadapi ombak dan angin.

Setibanya di Wanam, perjuangan belum selesai.

Balok kayu, semen, dan material lainnya masih harus dipikul menuju lokasi pembangunan.

Siang bekerja di bawah panas, malam tidur ditemani suara serangga dan gigitan nyamuk.

Selama sebulan, keluarga hanya bisa dihubungi melalui telepon.

Jaringan tidak stabil.

Ada yang menunggu berjam-jam hanya untuk mendengar suara keluarga.

Ada yang jatuh sakit.

Ada pula yang mendapat kabar orang tuanya sedang sakit.

Ingin pulang, tetapi jarak terlalu jauh.

Mereka hanya bisa mendengar suara keluarga sebentar, menahan rindu, lalu kembali bekerja.

Di antara 150 prajurit itu, ada Serda Rohim.

Bersama anggota lainnya, ia turun ke lubang galian untuk mencari air.

Di bawah terik matahari, tanah digali sedikit demi sedikit, diangkat ke atas, lalu digali lagi.

Tubuh lelah, rindu terpendam, tetapi mereka tetap bertahan.

Sebab di atas lubang itu, ada warga yang menunggu air bersih.

“Yang penting warga terbantu,” ujar Rohim.

Di tengah panas dan lelah, mereka terus menggali.

Untuk warga Wanam yang telah lama menunggu setetes harapan.

Serda Rohim (dua dari kiri) ketika berada di dalam lubang galian sumur di Kampung Wanam. (Foto RRI)

Memikul Harapan Warga

Langkah Prada Julfan terasa berat hari itu.

Tubuhnya sedang sakit.

Namun pekerjaan di Kampung Wanam tidak bisa menunggu.

Bersama anggota Satgas TMMD lainnya, ia memikul balok kayu, semen, dan material lain menuju titik pembangunan.

Jarak yang harus ditempuh cukup jauh.

Beban terasa semakin berat ketika tubuh sedang tidak sehat.

Sesekali rasa sakit memaksanya menahan langkah.

Namun Julfan kembali berdiri dan melanjutkan pekerjaan.

Di hadapannya ada rumah warga, sumur, dan fasilitas yang sedang dibangun.

Di belakangnya ada rasa sakit yang harus ditahan.

“Saya tetap bekerja karena ingin membantu warga,” ujarnya.

Bagi Julfan, sakit bisa ditahan.

Sebab ada warga Wanam yang sedang menunggu perubahan.

Dan setiap balok yang dipikulnya menjadi bagian dari harapan itu.

Prada Julfan ( baju hitam) ketika harus memikul material bangunan di areal pembangunan TMMD di Kampung Wanam. (Foto RRI)

Obat Untuk Warga

Sertu Evrayu Komond tahu, ada rasa sakit yang lebih berat dari sekadar tubuh yang sedang sakit.

Sebagai Bintara Kesehatan (Bakes) tim kesehatan TMMD ke-129 Kodim 1707/Merauke, setiap hari ia melihat warga Wanam datang membawa keluhan yang sudah lama mereka tahan.

Ada yang tidak punya uang untuk berobat.

Ada yang harus bertahan karena dokter tidak selalu ada.

Pemandangan itu membuat Evrayu teringat pada keluarga-keluarga yang pernah kehilangan orang tercinta hanya karena terlambat mendapat pertolongan.

Di Wanam, ia merasakan kesedihan itu dari dekat.

Karena itu, ketika pengobatan gratis dibuka, Evrayu memeriksa warga satu per satu.

Ia mendengarkan keluhan, memeriksa kondisi mereka, lalu memberikan obat.

“Saya bisa merasakan bagaimana susahnya masyarakat ketika sakit, tetapi tidak punya biaya untuk berobat,” ujarnya.

Baginya, setiap warga yang datang bukan hanya pasien.

Mereka adalah keluarga yang sedang berjuang agar sakit tidak membawa kehilangan.

Hari itu, Evrayu pulang dengan tubuh lelah.

Namun ada rasa lega, karena setidaknya hari itu, ada warga Wanam yang tidak harus menghadapi sakit seorang diri.

Sertu Evrayu Komond (kanan) ketika sedang menyerahkan obat kepada salah satu warga di Kampung Wanam. (Foto RRI)

TMMD untuk Rakyat

Bagi Letkol Inf Bayu Prabowo, pembangunan tidak cukup dilihat dari laporan di atas meja.

Kamis, 23 Juli 2026, Dandim 1707/Merauke sekaligus Dansatgas TMMD ke-129 Tahun 2026 turun langsung ke Kampung Wanam untuk melihat hasil pekerjaan personel Satgas TMMD.

Sebelum pembangunan dimulai, Satgas terlebih dahulu melakukan survei untuk mengetahui kebutuhan warga.

Hasilnya, warga membutuhkan air bersih, rumah yang layak, MCK, dan jembatan yang aman.

Kebutuhan itu diwujudkan melalui pembangunan lima sumur galian, perbaikan empat rumah tidak layak huni, dan pembangunan lima MCK.

Jembatan serta fasilitas warga lainnya juga diperbaiki.

Satgas juga memberikan penyuluhan kesehatan, pencegahan stunting, bela negara, wawasan kebangsaan, hukum, bahaya narkoba, dan keamanan.

“Kami ingin pembangunan ini memberikan manfaat nyata bagi masyarakat Wanam,” ujarnya.

Saat melihat hasil pembangunan, Bayu kembali menyaksikan kehidupan warga yang masih penuh keterbatasan.

Air bersih sulit didapat.

Rumah belum layak.

Jembatan yang menjadi akses penting warga juga rusak.

Selama satu bulan, 150 personel Satgas TMMD bertugas dan bekerja bersama masyarakat untuk menjawab kebutuhan warga yang selama ini hidup dalam keterbatasan.

Mereka bekerja bersama masyarakat, berharap apa yang dibangun dapat membawa kehidupan yang lebih baik bagi warga Wanam.

Jejak Panjang Pengabdian

Kampung Wanam hanyalah satu bagian dari perjalanan panjang TMMD.

Program ini dimulai pada 1980 dengan nama ABRI Masuk Desa atau AMD.

Setelah 46 tahun, TMMD terus menjangkau berbagai pelosok Indonesia.

Pada TMMD ke-129 Tahun 2026, program ini digelar serentak di 50 kabupaten/kota melalui pembangunan fisik dan nonfisik.

Kepala Staf Angkatan Darat Jenderal TNI Maruli Simanjuntak menegaskan bahwa TMMD merupakan wujud kehadiran negara hingga ke pelosok desa.

“TMMD adalah wujud hadirnya negara di tengah rakyat hingga ke pelosok-pelosok desa,” ujarnya.

Kalimat itu terasa nyata di Kampung Wanam.

Bertahun-tahun hidup dalam keterbatasan, warga kini melihat perubahan datang lebih dekat.

Ada rumah yang lebih aman.

Ada air yang lebih bersih.

Ada jembatan yang kembali bisa dilewati.

Warga juga mendapat layanan kesehatan, sementara anak-anak mendapat perhatian dan edukasi.

Bagi warga Wanam, kehadiran TMMD bukan hanya tentang pembangunan.

Ini tentang harapan bahwa mereka yang tinggal jauh di ujung negeri tetap diperhatikan.

Kepala Staf Angkatan Darat Jenderal TNI Maruli Simanjuntak (tengah) ketika bersama masyarakat lokal di Merauke. (Foto RRI)

Awal Perubahan

Kini, setelah para prajurit meninggalkan Kampung Wanam, kehidupan warga perlahan berubah.

Albertus Moiwend tak lagi takut saat hujan turun.

Rumah barunya memberi rasa aman bagi keluarganya.

Cerelius Maiwend Hende kini memiliki MCK yang lebih layak.

Maria Moiwend tak perlu lagi berjalan kaki berkilo-kilometer untuk mendapatkan air.

Sumur yang dibangun memberi harapan agar keluarganya tidak lagi bergantung pada air rawa.

Fabianus Gebze dapat melintasi jembatan dengan lebih tenang untuk membawa hasil alam.

Lukas Moiwend mendapat pemeriksaan kesehatan dan obat tanpa terbebani biaya.

Yohana Ndiken pulang dengan lega setelah anaknya diperiksa dan dinyatakan bebas stunting.

Di sekolah, Natalina Yolmen dan anak-anak lainnya kembali menyimpan mimpi tentang masa depan.

Bagi sebagian orang, semua itu mungkin terlihat sederhana.

Rumah, MCK, sumur, jembatan, obat-obatan.

Namun bagi warga Wanam yang bertahun-tahun hidup dalam keterbatasan, semua itu sangat berarti.

Kini, mereka tidak hanya mendapat fasilitas baru.

Mereka kembali memiliki rasa aman, harapan untuk hidup lebih sehat, dan keyakinan bahwa Wanam tidak dilupakan.

Senyum Bahagia

Tik... tik... tik...

Suara hujan kembali turun di Kampung Wanam.

Namun kali ini, Albertus Moiwend tidak lagi cemas.

Dulu, hujan membuatnya takut.

Air masuk dari atap seng yang bocor, dinding kayu berguncang, dan ia khawatir rumahnya roboh, terlebih ketika anaknya sedang sakit.

Kini, di rumah yang telah diperbaiki, Albertus duduk bersama keluarganya.

Di tengah suara hujan, ia mulai menyanyikan Bagimu Negeri, ciptaan Kusbini.

“Padamu negeri kami berjanji, padamu negeri kami mengabdi...”

Suaranya lirih, tetapi penuh syukur.

Hujan yang dahulu membuatnya takut, kini menjadi saksi bahwa hidup perlahan berubah.

Di Wanam, perubahan itu hadir melalui lima sumur, lima MCK, empat rumah, dan satu jembatan yang diperbaiki bersama 150 personel Satgas TMMD ke-129 Tahun 2026.

Para prajurit datang membawa tenaga.

Mereka meninggalkan harapan.

Harapan bahwa warga Wanam tidak lagi merasa sendiri ketika menghadapi hari-hari yang sulit.

Bersama Satgas TMMD di ufuk timur.

google-preference
Kata Kunci / Tags

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....