Ketika CKG Menembus Belantara Papua
- 06 Agt 2026 06:09 WIB
- Merauke
RRI.CO.ID, Merauke : Di tengah hutan Boven Digoel, Papua Selatan, rumah-rumah Suku Korowai berdiri 15 hingga 50 meter di atas pepohonan.
Rumah dari kayu dan rotan itu bertumpu pada pohon besar seperti wanim atau banyan raksasa.
Bagi masyarakat Korowai, rumah tinggi menjadi tempat berlindung dari banjir dan binatang buas sekaligus bagian dari tradisi turun-temurun.
Di Dusun Dayo, Distrik Yaniruma, Kabupaten Boven Digoel, masyarakat Korowai mulai dikenal dunia sekitar 35 tahun lalu setelah ditemukan misionaris Belanda.
Sejak itu, mereka dikenal sebagai “manusia pohon”.
Namun, di balik rumah-rumah tinggi itu, masyarakat Korowai bertahun-tahun hidup terisolasi.
Jarak dan medan berat membuat layanan dasar sulit dijangkau.
Di tengah hutan, mereka bertahan dengan apa yang tersedia.

Sakit di Tengah Pedalaman
Ketika sakit datang, warga Korowai sering kesulitan mencari pertolongan.
Sebelum Cek Kesehatan Gratis (CKG) hadir, mereka harus melewati sungai, rawa, dan hutan untuk mencapai layanan kesehatan.
Perjalanan bisa berlangsung berhari-hari, berjalan kaki atau naik perahu.
Obat pun sulit didapat.
“Dulu, kalau ada yang sakit, kita bingung mau bawa ke mana. Kadang kita tukar babi atau sagu dengan obat. Kalau sakitnya parah, kita hanya bisa pasrah,” kenang Marinus Wage, ayah tiga anak dari Dusun Dayo.
Bagi warga Korowai, sakit berarti menghadapi jarak, medan berat, biaya perjalanan, dan sulitnya mendapatkan obat.
Di tengah hutan, pertolongan kesehatan pernah menjadi perjuangan untuk bertahan hidup.
Kehilangan di Tengah Perjalanan
Di rumah pohonnya di Dusun Dayo, Lukas Wanim masih mengingat hari ketika anak sulungnya meninggal dalam perjalanan menuju Puskesmas Bomakia.
Saat kondisi sang anak memburuk, keluarga berusaha mencari pertolongan.
Namun, perjalanan panjang itu berakhir dengan duka.
“Sa punya anak sakit. Sa usaha bawa dia ke puskesmas, tapi dia meninggal di perjalanan,” katanya lirih.
Keterbatasan biaya membuat pertolongan medis terasa semakin jauh.
Hari itu, Lukas tidak membawa pulang obat, tetapi jenazah anak sulungnya.
Sang anak dimakamkan di dekat hutan tempat mereka tinggal.
Kesedihan itu masih membekas hingga kini.

Istri Pergi Tanpa Pertolongan
Sebelum Cek Kesehatan Gratis hadir, pertolongan medis bagi warga Korowai sulit dijangkau.
Jarak jauh dan keterbatasan biaya membuat warga kerap bertahan tanpa pengobatan.
Paulus Wanbo, warga Dusun Dayo, masih mengingat malam ketika istrinya meninggal setelah melahirkan anak bungsu mereka.
“Sa punya istri pendarahan tengah malam. Kita mau bawa ke Puskesmas Bomakia, tapi uang tidak ada. Sa cari bantuan ke tetangga, tetapi tidak ada,” katanya lirih.
Paulus berusaha membawa istrinya menuju sungai untuk mencari pertolongan.
Namun, nyawanya tak tertolong sebelum mendapat pengobatan.
“Kalau malam itu kita bisa sampai ke puskesmas, mungkin dia masih hidup,” ujarnya dengan suara serak.
Malam itu, Paulus pulang membawa duka.
Istrinya pergi tanpa sempat mendapat pertolongan medis.
Gizi Buruk Tak Terdeteksi
Sebelum Cek Kesehatan Gratis hadir, Maria Mupin tidak tahu anaknya mengalami gizi buruk.
Di Dusun Dayo, sulitnya akses pemeriksaan membuat kondisi anaknya terlambat diketahui.
Tubuhnya semakin kurus dan lemah.
“Anak saya kena gizi buruk. Kita tidak pernah periksa kesehatan, makanya kita tidak tahu,” kata Maria lirih.
Setiap hari, Maria merawatnya dengan makanan yang tersedia.
Sagu dan hasil tangkapan dari hutan menjadi sumber makanan mereka.
Sebagai ibu, Maria hanya bisa berharap makanan seadanya mampu membuat tubuh kecil anaknya bertahan.

Ketika Cek Kesehatan Gratis Hadir
Perubahan terjadi setelah Cek Kesehatan Gratis hadir di Dusun Dayo, warga Korowai lebih mudah memeriksakan kesehatan keluarga.
Yohan Wigi masih mengingat saat anaknya diperiksa.
Tubuhnya kurus dan lemah.
Hasil pemeriksaan menunjukkan anaknya mengalami gizi buruk.
“Untung ada cek kesehatan gratis, jadi kita tahu anak saya kena gizi buruk dan bisa langsung diobati,” kata Yohana.
Anaknya mendapat pengobatan hingga perlahan pulih dan kembali sehat.
Kini, Yohan kembali melihat senyum anaknya.
Ibu Hamil Menemukan Ketenangan
Jauh sebelum persalinan, Natalia Yewen diliputi kecemasan.
Hamil di pedalaman Korowai membuatnya khawatir jika terjadi sesuatu pada dirinya atau bayinya.
Namun, Cek Kesehatan Gratis membuatnya lebih tenang.
Natalia rutin memeriksakan kehamilan tanpa harus naik perahu atau berjalan jauh menembus hutan.
“Dulu sa takut kalau mau melahirkan. Setelah dapat cek kesehatan gratis, sa lebih tenang karena tahu kondisi saya dan bayi,” kata Natalia.
Hingga hari persalinan tiba, Natalia melahirkan dengan selamat.
Kini, ia bisa memeluk bayinya dengan tenang.
Anak Kedua Berhasil Diselamatkan
Hadirnya Cek Kesehatan Gratis memberi harapan bagi Lukas Waker, pemuda Korowai yang pernah kehilangan anak pertama akibat demam berdarah.
Saat anak keduanya mengalami demam tinggi, ketakutan itu kembali muncul.
Namun, kali ini Lukas segera membawa anaknya mengikuti pemeriksaan CKG.
“Sa langsung takut karena ingat kakaknya dulu meninggal karena demam berdarah. Tapi kali ini anak saya diperiksa,” kata Lukas.
Pemeriksaan lebih awal membuat kondisi anaknya cepat diketahui dan ditangani.
Perlahan, kondisinya membaik hingga sembuh.
“Sa sangat bersyukur. Anak kedua saya bisa tertolong, karena kita cek kesehatan lebih awal,” ujarnya.
Bagi Lukas, CKG membuktikan bahwa pemeriksaan lebih awal dapat menyelamatkan nyawa.
Penyakit Tersembunyi Mulai Terungkap
Hadirnya Cek Kesehatan Gratis membuka harapan baru bagi warga Korowai yang selama ini sulit memeriksakan kesehatan karena keterbatasan biaya dan jauhnya fasilitas kesehatan.
Musa Kewage, warga Dusun Dayo, baru mengetahui dirinya mengalami asma setelah diperiksa.
“Sa tidak sangka. Selama ini sa merasa baik-baik saja,” katanya.
Ruben Wanimbo juga mengetahui dirinya mengalami masalah jantung setelah sering lelah dan sesak.
“Sekarang sa tahu penyakit saya dan langsung ditangani,” ujarnya.
Sementara Helena Kogeya mengetahui anaknya mengalami campak setelah membawanya mengikuti pemeriksaan.
Ketiganya mendapat penanganan dan pengobatan hingga kondisi mereka membaik.
Bagi warga Korowai, CKG membantu menemukan penyakit lebih awal dan mendapat penanganan tanpa biaya.
Petugas Menembus Hutan Korowai
Di balik Cek Kesehatan Gratis bagi warga Korowai, ada perjuangan tenaga kesehatan yang menempuh perjalanan panjang.
Setiap pekan, Marten Enok bersama dua tenaga kesehatan Puskesmas Bomakia naik perahu menyusuri sungai, lalu berjalan kaki menembus hutan menuju Dusun Dayo.
Tanpa jaringan telepon, mereka menghadapi risiko ular dan serangga beracun.
“Kadang kita takut ketemu ular atau serangga beracun. Tapi kita tahu warga di sana menunggu kita,” kata Marten.
Perjalanan terkadang membuat mereka harus menginap di rumah warga.
“Kalau mereka tidak bisa datang, kami yang harus datang,” ujarnya.
Setiap pekan, tiga tenaga kesehatan itu kembali membawa alat pemeriksaan dan obat, agar warga Korowai tidak lagi sakit tanpa mendapat pemeriksaan.

CKG Menjangkau Papua Selatan
Di balik perjalanan petugas ke pedalaman, layanan Cek Kesehatan Gratis (CKG) terus meluas di Papua Selatan.
Kepala Dinas Kesehatan, P2KB Papua Selatan, dr. Benedicta Rahanggiar, mengatakan hingga Juli 2026, sebanyak 47.425 warga telah mengikuti CKG dari 51.730 pendaftar.
“Cakupan program CKG di Papua Selatan hingga bulan Juli 2026 mencapai 91,86 persen,” kata Benedicta kepada RRI, Minggu (23/8/2026).
Dari 553.793 penduduk, Merauke mencatat 23.880 peserta dari 26.464 pendaftar.
Mappi 9.915 dari 10.398, Boven Digoel 9.149 dari 10.015, dan Asmat 4.481 dari 4.853 pendaftar.
Kini, CKG telah berjalan di 81 dari 83 puskesmas di Papua Selatan.
Di pedalaman Korowai, angka itu berarti sederhana, petugas datang, warga diperiksa, dan penyakit ditemukan lebih awal untuk ditangani.
Layanan Kesehatan Mendatangi Warga
Di tengah senja di Yaniruma, Bupati Boven Digoel Roni Omba mengenang masa ketika warga Korowai sulit mendapatkan layanan kesehatan.
Jarak yang jauh dan keterbatasan ekonomi menjadi penghalang.
Data BPS mencatat, pada Maret 2024 terdapat 14.050 penduduk miskin di Boven Digoel atau 19,24 persen dari jumlah penduduk.
“Dulu masyarakat sakit sulit mendapat pemeriksaan. Jaraknya jauh, biaya juga menjadi persoalan,” ujar Roni.
Kini, melalui Cek Kesehatan Gratis, petugas datang langsung ke kampung-kampung pedalaman.
“Ini sangat berarti. Masyarakat tidak harus datang jauh-jauh hanya untuk diperiksa,” katanya.
Roni mengapresiasi tenaga kesehatan yang menembus sungai dan hutan untuk menjangkau warga Korowai.

JKN Menjamin Pengobatan Lanjutan
Bagi warga Korowai, menemukan penyakit melalui Cek Kesehatan Gratis (CKG) menjadi awal untuk mendapat pertolongan.
Jika membutuhkan pengobatan lanjutan, mereka tetap membutuhkan jaminan kesehatan.
Di Papua Selatan, 631.362 jiwa telah menjadi peserta JKN, dengan kepesertaan aktif mencapai 90,87 persen.
Seluruh kabupaten juga telah mencapai Universal Health Coverage (UHC).
Kepala BPJS Kesehatan Cabang Merauke, Dani Hamdani, mengatakan CKG dan JKN saling melengkapi.
“Kalau dari hasil pemeriksaan ditemukan masalah kesehatan, peserta dapat melanjutkan pelayanan sesuai ketentuan JKN,” kata Dani.
Bagi warga Korowai, dukungan ini memastikan penyakit yang ditemukan dapat dilanjutkan dengan pengobatan.
CKG Raih Pengakuan Asia-Pasifik
Penyakit sering baru diketahui saat kondisi sudah parah.
Cek Kesehatan Gratis (CKG) hadir untuk mendorong masyarakat memeriksakan kesehatan lebih awal.
Program ini meraih Special Mention kategori Agility Award dalam Festival of Innovation Award 2026 yang digelar GovInsider di Singapura, Rabu (4/3/2026).
CKG merupakan bagian dari Program Hasil Terbaik Cepat (PHTC) Presiden Prabowo Subianto, yang memperkuat layanan kesehatan preventif melalui teknologi dan data near real-time.
Penghargaan ini menjadi satu dari dua Special Mention yang diraih Kementerian Kesehatan RI.
Penghargaan lainnya, Digital Leader of the Year, diberikan kepada Menteri Kesehatan RI Budi G. Sadikin atas pengembangan SATUSEHAT.
Kepala Biro Komunikasi dan Informasi Publik Kemenkes RI, Aji Muhawarman, mengatakan penghargaan tersebut mendorong perluasan CKG.
“Yang utama, setiap warga harus mudah dan cepat mendapat layanan kesehatan preventif,” ujar Aji di Jakarta.
Pengakuan Asia-Pasifik ini memperkuat posisi CKG sebagai inovasi layanan kesehatan Indonesia untuk memperluas pemeriksaan dan pencegahan penyakit sejak dini.

Berujung Bahagia
Matahari mulai terbenam di balik pepohonan Dusun Dayo.
Lukas Waker masih menyimpan duka setelah anak pertamanya meninggal dalam perjalanan menuju puskesmas.
“Sa punya anak sakit. Sa usaha bawa dia ke puskesmas, tapi dia meninggal di perjalanan,” katanya lirih.
Kini, sejak Cek Kesehatan Gratis (CKG) hadir, warga bisa memeriksakan kesehatan lebih dekat.
Gizi buruk, DBD, asma, gangguan jantung, dan campak dapat ditemukan dan ditangani lebih awal.
Ibu hamil juga bisa memantau kondisi diri dan bayinya.
“Cek Kesehatan Gratis, cegah dini, tuntas obati”.
Bagi Lukas, manfaat itu terasa nyata.
Saat anak keduanya mengalami demam tinggi, ia segera membawanya untuk diperiksa.
Setelah mendapat penanganan, anaknya akhirnya sembuh.
“Sa sangat bersyukur. Anak kedua saya bisa tertolong, karena kita cek kesehatan lebih awal,” ujarnya.
Menjelang senja, Lukas melantunkan lagu Tanah Papua karya Yance Rumbino.
“Tanah Papua tanah yang kaya, surga kecil jatuh ke bumi…”
Lantunan itu mengalun di tengah rimbunnya pepohonan, di tanah yang pernah memberinya kehilangan.
Namun kini, di tempat yang sama, Lukas menemukan harapan baru.
Harapan bahwa melalui CKG, penyakit dapat ditemukan lebih awal, pengobatan segera dilakukan, dan keluarga memiliki kesempatan untuk tetap bersama.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....