Shopee, Hidupkan 450 Warga Marginal di Papua Selatan

  • 04 Agt 2026 08:06 WIB
  •  Merauke

RRI.CO.ID, Merauke : Suara notifikasi dari telepon genggam Maria Pirap memecah kesunyian pagi di Distrik Agats, Kabupaten Asmat, Papua Selatan.

“Puji Tuhan, ada yang pesan lagi,” ucapnya pelan sambil tersenyum tipis.

Maria segera mengambil noken yang selesai dianyamnya malam sebelumnya.

Di layar Shopee, terlihat pesanan dari Jakarta, dua noken, satu hiasan kepala khas Papua, dan satu botol minyak kayu putih.

Kini, pesanan seperti itu mulai sering datang.

Padahal, beberapa tahun lalu, Maria menjual noken dan kerajinan khas Papua di emperan kios.

Pembeli tidak selalu datang.

Sering kali, barangnya tidak terjual dan menumpuk di rumah.

Malam hari menjadi waktu yang berat.

Saat anak-anak tertidur, ia hanya bisa memandangi noken yang belum laku.

“Sa pernah menangis karena tidak ada pembeli. Sa bingung harus cari uang dari mana untuk beli beras,” katanya.

Di Asmat, banyak kerajinan masih hanya berputar di pasar sekitar.

Bagi Maria, setiap noken adalah harapan untuk menghidupi keluarga dan menyekolahkan anak.

Jalan Menuju Pasar

Perubahan itu datang dari hal yang tidak pernah dibayangkan Maria sebelumnya.

Suatu hari, anaknya mengajarkan cara menggunakan aplikasi Shopee.

Awalnya, Maria hanya merekam aktivitas sehari-hari saat menganyam noken.

Ia juga merekam proses membuat hiasan kepala khas Papua, mengolah sarang semut, menyuling minyak kayu putih, hingga mengolah pati buah merah.

Video-video sederhana itu menarik perhatian banyak orang.

Komentar mulai berdatangan.

“Apakah bisa dikirim ke Jakarta?”

“Masih tersedia?”

“Bagaimana cara pesan?”

Maria sempat tidak percaya.

“Saya pikir siapa yang mau beli produk dari kampung kami yang jauh ini,” ujarnya.

Namun perlahan, pesanan mulai datang.

Dari satu menjadi dua, lalu terus bertambah.

Hari-hari yang dulu sepi berubah menjadi kesibukan.

Bagi Maria, Shopee membuka jalan agar produk Asmat dikenal lebih luas.

Noken yang dianyam dengan tangan di Agats kini bisa dipesan dari Jakarta.

Minyak kayu putih dan kerajinan mama-mama Papua juga bisa dikirim ke berbagai daerah.

Kini, Maria tidak lagi hanya menunggu pembeli datang ke kios.

Pembeli bisa ditemukan melalui layar telepon genggam.

Dulu, Maria berpikir pasar adalah orang yang datang ke tempat usahanya.

Sekarang, pasar bisa berada ribuan kilometer jauhnya.

Shopee membantu membuka pintu itu.

Namun Maria tahu, pintu yang terbuka belum tentu bisa dilewati sendirian.

Penggagas UMKM Papua Bangkit, Maria Pirap ketika sedang live di aplikasi Shopee. (Foto RRI)

Merangkul yang Tersisih

Seiring pesanan meningkat, Maria menyadari ia tidak bisa bekerja sendiri.

Ia kemudian membentuk UMKM Papua Bangkit sebagai wadah bersama warga Distrik Agats untuk mengembangkan usaha dan saling membantu.

Langkah ini membuka kesempatan kerja bagi kelompok rentan, termasuk 34 penyintas kusta.

Sebagian kehilangan jari tangan dan kaki, bahkan ada yang mengalami kelumpuhan.

Ada juga tujuh orang dengan HIV/AIDS (ODHA) serta warga asli Papua dari keluarga kurang mampu.

Mereka bekerja sesuai kemampuan.

Ada yang menganyam noken, mengolah sarang semut, menyuling minyak kayu putih, hingga mengolah pati buah merah.

Produk-produk itu kemudian dipasarkan secara digital hingga menjangkau pembeli di luar Asmat.

Bagi mereka, pasar yang lebih luas berarti lebih dari penjualan.

Ada pekerjaan.

Ada penghasilan.

Ada rasa percaya diri.

UMKM Papua Bangkit kini melibatkan sekitar 450 orang asli Papua dari keluarga kurang mampu.

“Sa rangkul teman-teman kusta dan ODHA, sa mau mereka juga bisa dapat kerja, bisa dapat uang,” kata Maria.

Kini, omzet usaha mencapai sekitar Rp5 juta hingga Rp10 juta per hari.

Namun bagi Maria, angka itu bukan yang utama.

Yang lebih penting, mereka yang dulu merasa tidak memiliki kesempatan kini mulai merasa dibutuhkan.

Tangan yang Kembali Berguna

Di antara para pekerja itu ada Yuliana Katom, seorang penyintas kusta.

Ia kehilangan sebagian jari tangan akibat penyakit yang pernah dideritanya.

Sebelum bergabung, Yuliana hanya mengandalkan hasil kebun yang tidak menentu.

Saat panen gagal, keluarganya ikut kesulitan.

“Dulu sa bingung mau kasih makan anak apa,” ujarnya pelan.

Kini, Yuliana mengolah sarang semut, salah satu produk herbal khas Papua.

Setiap hari, ia mengolah 10 hingga 15 sarang semut untuk dikirim ke berbagai daerah.

Melalui Shopee, produk yang dihasilkan Yuliana bisa dipasarkan lebih luas dan menjangkau pembeli di luar Asmat.

Bagi Yuliana, yang paling mengharukan bukan produknya sampai ke kota besar, tetapi ia masih bisa menghasilkan sesuatu yang dibutuhkan orang lain.

“Sa senang, biar sa cacat, hasil kerja saya bisa sampai ke kota-kota besar. Dulu sa tidak pernah bayangkan itu,” katanya.

Pekerjaan ini membantunya membiayai sekolah anak dan memenuhi kebutuhan keluarga.

Tangannya memang tidak lagi lengkap.

Tetapi dari tangan yang tersisa, ia kembali menemukan jalan untuk menghidupi keluarganya.

Anggota UMKM Papua Bangkit, Yuliana Katom ketika sedang menyusun produk herbal sarang semut. (Foto RRI)

Ketika Rasa Takut Berubah

Cerita lain datang dari wanita berinisial MY, anggota UMKM Papua Bangkit yang hidup dengan HIV/AIDS.

Sebelumnya, ia tidak memiliki pekerjaan tetap dan hanya mengandalkan hasil kebun yang sering tidak mencukupi kebutuhan keluarga.

Ia juga pernah dikucilkan dan kesulitan mendapatkan pekerjaan karena kondisi kesehatannya.

“Sa sempat putus asa waktu tahu sa kena HIV, puji Tuhan sa sudah dapat kerja sekarang,” katanya.

Kini, MY bekerja mengolah berbagai produk UMKM, termasuk membuat noken.

Dalam sehari, ia bisa menyelesaikan hingga 10 noken untuk dikirim ke berbagai daerah di Indonesia.

Melalui Shopee, produk yang dibuat MY bisa dipasarkan lebih luas dan menjangkau pembeli di luar Asmat.

Bagi MY, setiap pesanan bukan hanya berarti penghasilan.

Pesanan itu membuatnya merasa masih dibutuhkan dan mampu membantu keluarga.

“Sa merasa berguna. Sa bisa bantu keluarga,” ujarnya.

Dari Asmat ke Kota Besar

Di tempat lain, Martina Sirap, anggota UMKM Papua Bangkit dan penyintas kusta dengan kondisi lumpuh, kembali menyiapkan noken untuk dikemas.

Anyaman dirapikan, lalu noken dimasukkan ke dalam kemasan dan dikirim ke berbagai daerah.

Dulu, Martina bahkan pernah menukar noken dengan beras untuk memenuhi kebutuhan makan.

“Sa sampet tukar noken dengan beras untuk makan,” katanya.

Kini, melalui Shopee, noken yang dibuat Martina dapat dipasarkan lebih luas dan menjangkau pembeli di luar Asmat.

Nama kota seperti Jakarta, Surabaya, hingga Makassar kini muncul dalam daftar pesanan.

Bagi Martina dan anggota UMKM Papua Bangkit, Shopee membantu mempertemukan hasil karya mereka dengan konsumen di berbagai daerah.

Produk lokal tidak lagi hanya menunggu pembeli datang ke Asmat.

Dari tangan mereka, noken bisa sampai ke berbagai kota di Indonesia.

Anggota UMKM Papua Bangkit, Martina Sirap ketika sedang merajut noken. (Foto RRI)

Minyak Kayu Putih dan Luka Lama

Sementara itu, Ribka Jenni membantu produksi minyak kayu putih.

Ia juga penyintas kusta dan kehilangan sebagian jari kaki akibat penyakit yang pernah dideritanya.

Meski memiliki keterbatasan fisik, Ribka tetap bekerja.

Setiap hari, ia mampu menghasilkan sekitar 15 hingga 20 botol minyak kayu putih untuk dikirim ke berbagai daerah.

Ia pernah mengalami masa paling berat ketika kehilangan anak karena tidak memiliki biaya untuk berobat.

“Anak saya meninggal karena sa tidak punya uang untuk ke dokter,” ujarnya lirih.

Kini, hidupnya mulai berubah.

Ia memiliki pekerjaan dan penghasilan untuk membantu keluarganya.

“Shopee sudah bantu kita jualan, sa biasa live di Shopee,” katanya.

Melalui Shopee, minyak kayu putih yang dibuat Ribka dapat dipasarkan lebih luas dan menjangkau pembeli di luar Asmat.

Di tangannya, setiap botol minyak kayu putih bukan hanya barang dagangan.

Ada biaya makan, biaya sekolah, kebutuhan rumah, dan harapan untuk keluarganya.

Bukan Hanya Soal Menjual

Dulu, Maria dan anggota UMKM Papua Bangkit hanya bisa menunggu.

Produk yang selesai dibuat sering kembali disimpan karena pembeli tidak datang.

Kini, keadaan perlahan berubah.

Melalui Shopee, produk mereka bisa ditawarkan kepada pembeli di luar Asmat melalui Shopee Video dan Shopee Live.

Fitur promosi, voucher, hingga Gratis Ongkir juga membantu menarik pembeli.

Pesanan pun mulai datang dari berbagai daerah.

“Kita biasa buat video promosi terus kita juga live di Shopee, ada jadwalnya masing masing, puji Tuhan banyak yang pesan lewat Shopee.” imbuhnya.

Bagi Maria dan anggota UMKM Papua Bangkit, pesanan berarti produksi kembali berjalan.

Mama-mama kembali menganyam.

Sarang semut kembali diolah.

Minyak kayu putih kembali diproduksi.

Dan ada penghasilan yang bisa dibawa pulang.

Dari telepon genggam, pasar yang dulu terasa jauh kini menjadi lebih dekat.

Namun bagi mereka, membuka pasar hanyalah awal.

Kini, tantangannya adalah bagaimana usaha kecil di Asmat dapat terus tumbuh dan bertahan.

Salah satu produk noken UMKM Papua Bangkit yang di pasarkan melalui aplikasi Shopee. (Foto tangkapan layar Shopee)

Pemerintah Buka Jalan

Bupati Asmat Thomas Eppe Safanpo memahami bahwa pengembangan UMKM tidak cukup hanya dengan modal.

Pada Februari 2026, Pemerintah Kabupaten Asmat menyalurkan Rp4,44 miliar kepada 995 pelaku UMKM Orang Asli Papua di sejumlah distrik dan kampung.

Bantuan itu perlu disertai pendampingan dan pembinaan agar usaha terus berkembang.

UMKM Papua Bangkit yang melibatkan sekitar 450 orang asli Papua, termasuk penyintas kusta dan ODHA, juga membutuhkan akses pasar.

Melalui Shopee, produk mereka kini dapat menjangkau pembeli dari berbagai daerah.

“Selain noken, banyak juga kerajinan tangan seperti ukiran Asmat yang bisa dipasarkan lewat Shopee,” ujarnya.

Pasar Makin Jauh

Bagi Maria dan anggota UMKM Papua Bangkit, Shopee membuka jalan menuju pasar yang lebih luas.

Melalui Shopee Video dan Shopee Live, produk Asmat dapat ditawarkan kepada pembeli di berbagai daerah, bahkan luar negeri.

Sepanjang 2025, hampir 40 juta produk lokal diekspor melalui Program Ekspor Shopee ke Asia Timur, Asia Tenggara, dan Amerika Latin.

Deputy Director of Public Affairs Shopee Indonesia, Radynal Nataprawira, mengatakan teknologi digital membantu pelaku usaha kecil memperluas pasar.

“Platform digital tidak hanya menyederhanakan urusan transaksi dan logistik, tetapi juga meruntuhkan sekat pembatas,” ujar Radynal.

Kini, noken, sarang semut, minyak kayu putih, dan kerajinan khas Papua memiliki peluang menjangkau pasar yang lebih jauh.

Digitalisasi Buka Pasar

Jalan UMKM Papua menuju pasar digital terus terbuka.

Bank Indonesia mencatat 54 UMKM Papua telah masuk ke berbagai platform e-commerce sepanjang 2020–2025.

Pelaksana Harian Kepala Kantor Perwakilan Bank Indonesia Provinsi Papua, David Sipahutar, mengatakan digitalisasi membantu UMKM memperluas pasar dan meningkatkan daya saing.

“Transformasi digital perlu dilakukan secara berkelanjutan, sehingga UMKM Papua tidak hanya mampu masuk ke ekosistem digital, tetapi juga berkembang dan naik kelas,” kata David.

Pada 2026, BI kembali melibatkan 50 UMKM baru untuk masuk ke ekosistem digital.

Dukungan ini memperkuat langkah Shopee dalam membuka akses pasar yang lebih luas bagi pelaku UMKM, termasuk dari Papua.

Usaha Tetap Bertahan

Dukungan pemerintah juga diberikan untuk meringankan beban pelaku UMKM.

Menteri UMKM Maman Abdurrahman mengatakan pemerintah menargetkan potongan biaya layanan marketplace hingga 50 persen bagi UMKM yang menjual produk lokal, mulai akhir Agustus 2026.

Kebijakan ini diatur dalam Permen UMKM Nomor 3 Tahun 2026, dan Shopee bersama sejumlah marketplace lainnya telah menyelesaikan integrasi teknis.

“Ini untuk meringankan beban UMKM agar mereka bisa berkembang,” kata Maman.

Biaya layanan yang lebih ringan diharapkan membantu UMKM menjaga modal dan mengembangkan usaha.

Menteri UMKM Maman Abdurrahman ketika berada di Papua. (Foto RRI)

Pengakuan atas Inovasi

Perjalanan Shopee dalam menghadirkan inovasi digital mendapat pengakuan pada Kamis, 30 Juli 2026.

Dalam ajang JawaPos.com Digital Excellence Awards 2026 di Jakarta, Shopee meraih Top Digital Application Marketplace.

Penghargaan itu diterima langsung Head of Corporate Affairs Shopee Indonesia, Satrya Pinandita.

“Penghargaan ini menjadi motivasi bagi kami untuk terus berinovasi dalam menghadirkan layanan yang memberikan nilai tambah bagi seluruh pengguna,” kata Satrya.

Penghargaan tersebut menjadi dorongan bagi Shopee untuk terus memperkuat ekosistem digital di Indonesia.

Head of Corporate Affairs Shopee Indonesia, Satrya Pinandita ketika menerima penghargaan bagi Shopee Indonesia. (Foto : IG @shopee_id)

Ketika Pesanan Menjadi Harapan

Sore mulai turun di Agats.

Maria Pirap masih menganyam noken.

Di sampingnya, anggota UMKM Papua Bangkit terus menyelesaikan pesanan yang datang.

Dulu, mereka hanya membuat produk untuk pembeli yang datang langsung ke Agats.

Jarak membuat hasil karya mereka sulit dikenal di luar daerah.

Kini, Shopee membuka kesempatan baru.

Noken, sarang semut, minyak kayu putih, hingga kerajinan khas Asmat dapat ditawarkan kepada pembeli dari berbagai kota.

Pesanan pun mulai berdatangan.

Produksi meningkat dan pekerjaan terus berjalan.

Omzet UMKM Papua Bangkit kini mencapai sekitar Rp5 juta hingga Rp10 juta per hari.

Bagi Maria, perubahan itu terasa besar.

Tidak hanya karena produknya semakin dikenal, tetapi karena semakin banyak warga dapat terlibat dan memperoleh penghasilan dari pekerjaan mereka.

Maria tersenyum ketika notifikasi kembali berbunyi.

“Puji Tuhan, ada yang pesan lagi,” katanya lirih.

Pesanan yang datang perlahan mengubah cara mereka melihat masa depan.

Senyum Bahagia

Suara canda tawa bahagia, memecah keheningan di tengah kesibukan sore itu.

“Ha...ha... ha... cair cair,” tawa Maria di sertai lesung pipi.

Hari itu, Maria dan anggota UMKM Papua Bangkit menerima upah dari hasil kerja mereka.

Uang diterima dengan senyum.

Ada yang membeli beras, membayar sekolah anak, dan memenuhi kebutuhan keluarga.

Yuliana kehilangan sebagian jari.

Martina tetap menganyam meski lumpuh.

Ribka kehilangan sebagian jari kaki.

MY pernah kehilangan pekerjaan karena hidup dengan HIV.

Namun keterbatasan tidak lagi membuat mereka berhenti bekerja.

Sambil menganyam, Maria menyanyikan lagu “Tanah Papua” karya Frans Kapisa.

“Tanah Papua, tanah yang kaya, surga kecil jatuh ke bumi.”

Suaranya pelan, berpadu dengan jemari yang terus merajut noken.

Bagi mereka, upah hari itu bukan hanya uang.

Ada harga diri.

Ada harapan.

Dan ada keyakinan bahwa keterbatasan tidak harus menghentikan langkah.

Dari tangan yang pernah terluka, 450 orang asli Papua kembali merajut masa depan bersama Shopee.

google-preference
Kata Kunci / Tags

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....