Jejak Prajurit dan Kaum Difabel di Ufuk Timur
- 02 Agt 2026 20:20 WIB
- Merauke
RRI.CO.ID, Merauke : Suara tali sepatu terdengar pelan memecah kesunyian pagi.
Srek... srek...
Jari-jari itu perlahan mengikat simpul sepatu dinasnya.
Sebuah kebiasaan sederhana sebelum memulai hari.
Namun pagi itu, langkah seorang prajurit TNI Angkatan Udara bukan menuju medan tugas atau pengamanan.
Ia berjalan menuju rumah-rumah sederhana, tempat para penyandang disabilitas menjalani perjuangan hidup dalam diam.
"Bapak pamit dulu, mau kunjungi teman-teman difabel," ucapnya sebelum berangkat.
Dialah Peltu Deni Zulkarnaen, S.IP, anggota Intelijen Lanud J.A. Dimara Merauke.
Sejak 1999, ia mengabdi di Merauke setelah sebelumnya bertugas di Lanud Halim Perdanakusuma dan Lanud Baucau, Timor Timur.
Di balik seragam loreng yang dikenakannya, tersimpan kepedulian yang tulus.
Baginya, tugas seorang prajurit bukan hanya menjaga keamanan negara, tetapi juga merawat harapan mereka yang kerap merasa terlupakan.
Bagi Peltu Deni, penyandang disabilitas bukanlah orang yang patut dikasihani.
Mereka adalah manusia yang memiliki mimpi, kemampuan, dan hak yang sama untuk hidup bermartabat.

Masa Depan Nyaris Sirna
Sejak kecil, Jhon Odu Peragi hidup dengan keterbatasan.
Sebagai penyandang tuna daksa, setiap langkahnya tidak pernah mudah.
Namun yang paling berat bukanlah kondisi fisiknya, melainkan kemiskinan yang membayangi keluarganya.
Tak jarang Jhon berangkat kuliah dengan perut kosong karena tak ingin membebani orang tuanya.
Saat terkendala masalah administrasi, ia hampir putus kuliah dan merasa mimpinya telah berakhir.
"Sa pikir, mungkin sampai di sini saja sekolah saya," kenangnya.
Di saat harapan itu nyaris padam, Peltu Deni Zulkarnaen hadir membantu.
Ia mendampingi Jhon menyelesaikan persoalan administrasi hingga akhirnya bisa melanjutkan kuliah di STISIPOL Yaleka Maro Merauke.
Sejak itu, Jhon kembali menata mimpinya.
Bukan karena semua kesulitannya telah hilang, tetapi karena ia tahu masih ada orang yang peduli dan membuatnya tidak lagi berjuang sendirian.
Arti Sebuah Kursi Roda
Di sebuah rumah kayu sederhana di pinggiran Merauke, Anselina Pirimapun lebih banyak menghabiskan waktunya di dalam rumah.
Sebagai penyandang tuna daksa, ia tak mampu bergerak bebas karena keluarganya tidak sanggup membeli kursi roda.
Hari demi hari, Anselina hanya bisa memandang dunia dari balik pintu rumahnya.
Hingga suatu hari, Peltu Deni Zulkarnaen datang membawa sebuah kursi roda.
Dengan mata berkaca-kaca, Anselina untuk pertama kalinya bisa keluar rumah dan kembali merasakan hangatnya sinar matahari.
"Waktu pertama kali duduk di kursi roda itu, sa menangis. Akhirnya sa bisa lihat dunia di luar rumah lagi," ujarnya lirih.
Bagi orang lain, kursi roda mungkin hanya alat bantu.
Namun bagi Anselina, kursi roda itu adalah harapan yang mengembalikan kebebasan dan semangat untuk menjalani hidup.

Melangkah Dengan Tongkat
Setiap pagi, Yustinus Wartaiser menggenggam tongkat aluminium sebelum berjalan menuju Universitas Musamus Merauke.
Sebagai penyandang tuna daksa, setiap langkah menuju kampus membutuhkan perjuangan.
Di balik semangatnya kuliah, Yustinus hidup dalam keterbatasan.
Tak jarang ia berangkat tanpa bekal dan menahan lapar karena orang tuanya kesulitan memenuhi kebutuhan keluarga.
Sepulang kuliah, ia hampir selalu singgah ke rumah Peltu Deni Zulkarnaen.
Di rumah sederhana itu, Yustinus menemukan sepiring nasi hangat, tempat bercerita, dan semangat untuk terus bertahan.
"Kalau makan di rumah Pak Deni, sa merasa seperti punya keluarga yang selalu menunggu sa pulang," ucapnya lirih.
Rumah sederhana itu menjadi tempat Yustinus memulihkan semangat.
Dari sanalah ia kembali melangkah, membawa harapan yang sempat hampir padam.

Sahabat Difabel
Setiap kali mendengar suara motor berhenti di depan rumahnya, Petrus Ambenoan perlahan berusaha bangkit.
Penyandang tuna daksa asal Suku Muyu Mandobo itu tahu, tamu yang datang hampir selalu sama, Peltu Deni Zulkarnaen.
Hidup dalam kemiskinan membuat Petrus kesulitan memenuhi kebutuhan sehari-hari.
Tak jarang dapurnya kosong dan ia hanya berharap esok akan membawa kabar yang lebih baik.
Namun harapan itu sering datang bersama Peltu Deni.
Ia membawa beras, mi instan, minyak goreng, dan kebutuhan pokok lainnya.
Lebih dari itu, ia membawa perhatian bagi seseorang yang kerap merasa dilupakan.
"Kalau Pak Deni datang, sa rasa masih ada orang yang peduli dengan hidup saya. Beliau sudah seperti keluarga sendiri," tutur Petrus lirih.
Bantuan itu mungkin akan habis.
Namun kepedulian yang terus datang membuat Petrus tetap memiliki harapan untuk bertahan menjalani hidup.

Sahabat Autis
Di depan sebuah toko, Rahmat menghabiskan hari-harinya menjadi tukang parkir.
Sebagai penyandang autisme, mendapatkan pekerjaan bukan hal mudah.
Pekerjaan itu menjadi satu-satunya cara untuk membantu memenuhi kebutuhan hidupnya.
Penghasilannya sering kali tidak cukup untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari.
Namun di tengah keterbatasan itu, Peltu Deni Zulkarnaen rutin datang membawa sembako dan kebutuhan pokok.
Bagi Rahmat, yang paling berharga bukanlah isi bingkisan itu, melainkan perhatian yang selalu diberikan.
"Pak Deni selalu ingat saya. Itu saja sudah membuat sa merasa hidup saya masih berarti," ucap Rahmat pelan.
Bantuan itu mungkin akan habis.
Namun kepedulian yang terus hadir membuat Rahmat yakin bahwa ia tidak lagi menjalani hidup seorang diri.

Sampai Akhir Hayat
Tidak semua perjuangan berakhir dengan kesembuhan.
Begitulah kisah almarhum Idris Narang, penyandang tuna daksa yang bertahun-tahun berjuang melawan penyakit.
Saat kondisinya memburuk, Peltu Deni Zulkarnaen mendampinginya berobat hingga membantu proses rujukan untuk menjalani perawatan di Makassar.
Sebelum mengembuskan napas terakhir, Idris masih sempat melakukan panggilan video dengan Peltu Deni.
Dengan suara lemah, ia mengucapkan terima kasih atas semua perhatian yang telah diterimanya.
"Pak Deni, terima kasih sudah selalu ada untuk Idris," kenang Ahmad, anggota keluarga Idris, mengulang ucapan terakhir yang masih membekas di ingatannya.
Bagi keluarga, panggilan video itu menjadi kenangan yang tak pernah hilang.
Di akhir hidupnya, Idris pergi dengan perasaan bahwa masih ada orang yang peduli dan menyayanginya seperti keluarga sendiri.

Merangkul Dalam Organisasi
Kepedulian Peltu Deni Zulkarnaen tidak berhenti pada memberi bantuan.
Ia ingin penyandang disabilitas memiliki wadah untuk berkembang dan menunjukkan kemampuan mereka.
Karena itu, ia ikut menginisiasi pembentukan National Paralympic Committee Indonesia (NPCI) Kabupaten Merauke.
Peltu Deni bahkan menerima langsung Surat Keputusan pembentukan organisasi dari Ketua Umum NPCI Pusat di Solo.
Kini, ia dipercaya sebagai Kepala Bidang Pembinaan Prestasi NPCI Kabupaten Merauke.
Baginya, setiap penyandang disabilitas berhak memiliki kesempatan yang sama untuk berprestasi dan meraih masa depan yang lebih baik.
Wadah Bagi Difabel
Tidak hanya melalui NPCI, perjuangan Peltu Deni Zulkarnaen juga berlanjut di Perkumpulan Penyandang Disabilitas Indonesia (PPDI).
Ia dipercaya menerima mandat dari Ketua Umum PPDI Pusat untuk membentuk PPDI Provinsi Papua Selatan sekaligus menjabat sebagai ketuanya.
Bagi Peltu Deni, perjuangan tidak cukup dilakukan seorang diri.
Karena itulah ia ingin penyandang disabilitas memiliki wadah untuk saling menguatkan, memperjuangkan hak, dan menatap masa depan dengan lebih percaya diri.
Prestasi di Tengah Keterbatasan
Ketika Papua Selatan tampil pada ajang PEPARNAS di Solo, Peltu Deni kembali mengambil peran.
Ia dipercaya sebagai Koordinator Perlengkapan sekaligus Asisten Pelatih Kontingen Papua Selatan.
Bersama dua atlet difabel, perjuangan itu membuahkan hasil membanggakan.
Kontingen Papua Selatan berhasil membawa pulang tujuh medali, terdiri atas satu emas, tiga perak, dan tiga perunggu.
Prestasi tersebut menjadi bukti bahwa para atlet difabel mampu berprestasi dan mengharumkan nama daerah ketika diberi kesempatan yang sama.
Meredam Konflik Sosial
Pada 26 Juli 2021, nama Steven mendadak menjadi perhatian.
Penyandang disabilitas tuna wicara itu menjadi korban kekerasan oleh dua oknum anggota TNI AU Lanud J.A. Dimara Merauke.
Video kejadian tersebut menyebar luas di media sosial hingga menjadi sorotan nasional dan luar negeri.
Di tengah ramainya pemberitaan, Peltu Deni Zulkarnaen memilih datang menemui Steven.
Keduanya telah saling mengenal karena Peltu Deni selama bertahun-tahun mendampingi para penyandang disabilitas di Merauke.
Dengan bahasa isyarat, Peltu Deni mendengarkan cerita Steven.
Tanpa suara, gerakan tangan dan tatapan mata menyampaikan luka yang sulit diungkapkan dengan kata-kata.
Berbekal kepercayaan yang telah terjalin, Peltu Deni membantu menjembatani komunikasi hingga proses mediasi berjalan damai.
Setelah persoalan selesai, ia tetap mendampingi Steven dan berusaha mencarikannya pekerjaan agar hidupnya tidak terus dikenang karena peristiwa yang menyakitkan, melainkan karena kesempatan untuk bangkit kembali.
Kadang, kehadiran dan kepedulian mampu menyembuhkan luka yang tak pernah sanggup diucapkan dengan kata-kata.

Ketulusan Tanpa Batas
Setelah bertahun-tahun mendampingi penyandang disabilitas, Peltu Deni Zulkarnaen ingin merangkul seluruh penyandang disabilitas di Merauke agar tidak ada yang merasa sendirian.
Ia aktif menggelar berbagai kegiatan dalam rangka Hari Disabilitas Internasional, memberi perhatian kepada anak-anak penyandang disabilitas di Panti Asuhan Vincensius, serta berkoordinasi dengan Dinas Sosial Kabupaten Merauke dan Provinsi Papua Selatan untuk menyalurkan bantuan sembako yang melibatkan komunitas difabel dan sekolah luar biasa (SLB).
Peltu Deni juga membantu memediasi pendidikan inklusif agar penyandang disabilitas mendapat kesempatan belajar yang sama.
Menjelang peringatan HUT Kemerdekaan RI, ia turut mengupayakan agar keluarga besar penyandang disabilitas dapat ikut serta dalam karnaval.
"Saya hanya ingin mereka merasa bahwa mereka tidak sendiri. Mereka punya kemampuan, punya mimpi, dan punya kesempatan," ujar Peltu Deni.
Baginya, kepedulian bukan hanya tentang memberi bantuan, tetapi juga membuka ruang agar penyandang disabilitas dapat hidup setara, berdaya, dan tidak lagi merasa sendiri.
TNI AU Sahabat Warga
Kepedulian Peltu Deni Zulkarnaen dikenal luas di Merauke bukan karena ia menceritakannya, tetapi karena dirasakan langsung oleh mereka yang pernah ia bantu.
Tokoh pemuda Merauke, Syahmuhar Gebze, menilai Peltu Deni telah membuktikan bahwa seorang prajurit bukan hanya menjaga keamanan, tetapi juga menjaga kemanusiaan.
"Beliau hadir bukan hanya sebagai anggota TNI AU, tetapi sebagai sahabat bagi penyandang disabilitas. Itulah yang membuat beliau begitu dihormati," ujar Syahmuhar.
Di balik seragam lorengnya, Peltu Deni memilih tetap hadir mendampingi mereka yang selama ini kerap merasa sendirian.
Berbuah Penghargaan
Atas pengabdian dan kepeduliannya, Peltu Deni Zulkarnaen menerima berbagai penghargaan.
Salah satunya dari Pemerintah Provinsi Papua Selatan yang diberikan kepada para pelatih, atlet, dan pendamping kontingen Papua Selatan atas kontribusi mereka pada ajang PEPARNAS di Solo.
Penghargaan juga diberikan oleh Pangkoopsudnas Marsekal Madya TNI Minggit Tribowo, S.IP melalui Piagam Penghargaan kategori Prajurit Berdedikasi dalam Melaksanakan Tugas dan Prestasi pada nominasi Soedirman Awards.
Selain itu, Komandan Lanud J.A. Dimara Merauke, Kolonel Pnb Beny Aprianto, S.M., turut memberikan piagam penghargaan atas dedikasi dan loyalitasnya sebagai prajurit.
"Dedikasi dan loyalitas yang ditunjukkan Peltu Deni menjadi contoh bahwa seorang prajurit harus mampu hadir dan memberikan manfaat bagi masyarakat," ujar Kolonel Pnb Beny Aprianto.
Bagi Peltu Deni, penghargaan bukanlah tujuan akhir.
Penghargaan itu menjadi pengingat bahwa kepedulian sekecil apa pun dapat memberi arti besar bagi kehidupan para penyandang disabilitas yang selama ini ia dampingi.

Kebangkitan Difabel
Malam mulai menyelimuti Merauke.
Di teras rumahnya, Jhon Odu Peragi, seorang penyandang tuna daksa, kembali memetik gitar sambil menyanyikan lagu Untuk Kita Renungkan karya Ebiet G. Ade.
"Kita mesti telanjang dan benar-benar bersih, suci lahir dan di dalam batin..."
Lagu itu mengalun bersama kenangan.
Anselina Pirimapun, penyandang disabilitas akibat keterbatasan fisik pada kakinya, kini kembali bisa beraktivitas dengan kursi rodanya.
Yustinus Wartaiser, penyandang disabilitas fisik, terus melanjutkan kuliah dan mengejar cita-cita.
Petrus Ambenoan, penyandang disabilitas daksa, tetap menjalani hidup dengan harapan yang kembali tumbuh.
Rahmat, penyandang autisme, terus bekerja sebagai tukang parkir dengan semangat baru.
Sementara Ahmad, keluarga almarhum Idris Narang, masih menyimpan kenangan tentang kepedulian Peltu Deni Zulkarnaen yang mendampingi Idris hingga akhir hayatnya.
Mereka memiliki kisah yang berbeda.
Namun kepedulian Peltu Deni telah memberi mereka kekuatan untuk bangkit dan melanjutkan hidup.
Karena itulah, ada satu nama yang tak pernah mereka lupakan dan selalu mereka sebut dalam doa. Peltu Deni Zulkarnaen.
Senyum Bahagia Para Kaum Difabel
Larut malam.
Suara langkah itu kembali terdengar memasuki halaman rumah.
Peltu Deni Zulkarnaen duduk di teras, lalu perlahan melepaskan tali sepatu dinas yang sejak pagi menemaninya menyusuri rumah-rumah para penyandang disabilitas.
Srek...
Simpul itu terurai.
Hari telah usai.
Beras akan dimasak, mi instan akan habis dimakan, kursi roda akan menua, dan luka perlahan menjadi kenangan.
Namun harapan yang ia tinggalkan tak pernah habis.
Esok pagi, tali sepatu itu akan kembali diikat.
Akan ada lagi pintu yang diketuk, tangan yang digenggam, dan penyandang disabilitas yang diyakinkan bahwa mereka tidak berjuang sendirian.
Bagi Peltu Deni Zulkarnaen, "Pengabdian tanpa batas" bukan sekadar slogan, melainkan komitmen untuk terus hadir, menguatkan, dan menumbuhkan harapan.
Semangat itulah yang diwujudkan dalam "TNI AU AMPUH, Indonesia Maju", bahwa seorang prajurit tidak hanya menjaga negara, tetapi juga mengabdi kepada sesama.
Pada akhirnya, Peltu Deni dikenang bukan karena seragam yang dikenakannya, melainkan karena harapan yang ia tumbuhkan di hati para penyandang disabilitas di ufuk timur.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....