Bangkit dari Keterpurukan
- 31 Jul 2026 17:23 WIB
- Merauke
RRI.CO.ID, Merauke : Pagi, Senin 19 Juli 2026, suasana Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Merauke tampak ramai.
Pelayanan di loket pendaftaran pasien rawat jalan berlangsung tertib.
Para pengunjung menggenggam kartu BPJS Kesehatan sambil menunggu nama mereka dipanggil petugas.
Pukul 08.10 WIT, seorang perempuan bertubuh mungil berbaju merah, berambut pendek, dan mengenakan masker terdengar dipanggil petugas. "Fatma Irianti."
Fatma berjalan dari kursi antrean menuju loket sambil menyerahkan kartu BPJS Kesehatan, kartu berobat, dan KTP yang sedari tadi digenggamnya.
Setelah mendapat arahan, ia menuju ruangan di sebelah loket.
Saya mengikutinya.
Di depan ruangan itu sudah mengantre berbagai kalangan, mulai dari ibu-ibu, laki-laki, hingga orang tua dan anak muda.
Fatma tampak menjadi pasien termuda. Tujuan mereka sama, memasuki ruangan bertuliskan Poli Jiwa.
Tak lama kemudian, nama Fatma kembali dipanggil.
Sekitar 10 menit berada di dalam ruangan, ia keluar usai berkonsultasi dengan dokter.
“Saya ambil obat dan berkonsultasi sama dokter di dalam, kak,” ujar Fatma kepada media ini.
Perjalanan pengobatan Fatma dimulai pada Juni 2025.
Atas saran sang ibu, ia memeriksakan diri ke Puskesmas karena sering mengalami pusing, sakit lambung, dan sesak di dada.
Namun, hingga Agustus 2025, pemeriksaan di Puskesmas belum menemukan penyebab pasti dari keluhan yang dialaminya.
Kekhawatiran Ibu dan Nenek
Setiap hari, ibu dan nenek Fatma diliputi kekhawatiran.
Mereka melihat Fatma sering tiba-tiba menangis, mengurung diri di kamar, enggan berbicara, bahkan tidak mau mandi.
“Kami di rumah takut, kita kan tinggal dengan ibu saya, awalnya ngeluh pusing, sesak, sama lambung. Suka nangis, ngurung diri di kamar dan tidak mau mandi, sampai saya bilang, ‘Nak, mandi nak, kasih siram air di kepala itu, supaya segar,’ tapi dia tidak mau,” kisah ibu Fatma, Nani Yuningsih, saat ditemui di kediamannya, Selasa (20/7).
Sejak berusia enam tahun, Fatma harus menerima kenyataan ditinggal ayahnya yang menikah lagi.
Saat Fatma beranjak remaja, Nani pun membangun rumah tangga baru.
Kondisi itu membuat Nani bertanya-tanya apakah pengalaman masa kecil anaknya menjadi penyebab perubahan perilaku yang dialami.
“Anak saya ini kenapa, apa karena ditinggal bapaknya nikah dan saya menikah lagi, apa mungkin ada trauma,” ungkap Nani.
Rasa penasaran itu mendorong Nani mencari informasi di internet mengenai kondisi anaknya.
Ia juga mencari tahu apakah BPJS Kesehatan menanggung biaya pengobatan ke dokter jiwa.
“Bulan Februari lalu, saya cari di internet, saya tanya chatGPT juga, apakah BPJS Kesehatan bisa ke dokter jiwa, dijawab bisa. Selama ini kita taunya cuma penyakit fisik gitu kan. Puskesmas kasih rujukan ke RS Angkatan Laut,” ujar Nani.
Di RSAL yang telah bekerja sama dengan BPJS Kesehatan, Fatma diperiksa oleh dokter paru sebelum akhirnya dirujuk ke RSUD Merauke untuk mendapatkan penanganan lebih lanjut.
“Dokter RSAL bilang, anak saya ini GERD dan kecemasan, saya tanya, ‘Apa boleh ke dokter jiwa?’ Dokter bilang, ‘Memang harus ke situ, nanti di RSUD pakai BPJS.’” lanjut Nani.

Sering Dihantui Ketakutan Mati
Fatma mengaku kerap mengalami sesak, dihantui ketakutan akan kematian, takut bertemu orang lain, hingga akhirnya memutuskan berobat ke Poli Jiwa RSUD Merauke.
“Saya bilang ke dokter jiwa, saya kepikiran takut mati, saya pusing, trauma, sesak, saya takut ketemu orang. Dokter bilang, ‘Hidup kamu masih panjang, jangan diisi sama ketakutan-ketakutan begitu, kamu masih muda.’ Saya dimotivasi, dikasih obat juga,” ungkap perempuan 25 tahun itu.
Di hadapan ibu dan neneknya, Fatma hanya tersenyum saat ditanya apakah ia masih memikirkan masa lalu keluarganya dan kasih sayang dari sang ayah.
Sejak Maret 2026, Fatma rutin menjalani pengobatan di Poli Jiwa RSUD Merauke sebanyak empat kali setiap bulan.
“Sekarang alhamdulillah kak, lebih tenang, kalau tahun lalu itu terpuruk sekali. Sesak hilang, setiap Senin saya ke poli jiwa, semua gratis, kalau dipikir tanpa BPJS Kesehatan pasti besar biaya, tambah belum punya kerjaan, mama cuma pembantu rumah tangga, hati pikiran saya lebih stabil sekarang, dan saya mau cari kerja,” tegas Fatma.
Nani telah menjadi peserta BPJS Kesehatan sejak 2008, saat program itu masih bernama Jamkesmas.
Hingga kini, ia terus memastikan keluarganya tetap terdaftar dalam Program Jaminan Kesehatan Nasional (JKN).
Keempat anaknya dan sang nenek tercatat sebagai peserta BPJS Kesehatan skema Penerima Bantuan Iuran (PBI) Daerah.
“Mulai zaman Pak SBY saya terus ikuti perkembangan, pergi kelurahan, dinas sosial, kantor BPJS memastikan kami semua masih terdaftar, kan sempat ada pemberitaan nonaktif berjuta-juta itu, saya cek dinsos dan sempat bertanya ke mobil BPJS (BPJS Keliling), ternyata semua masih aktif. Takut kalau tidak aktif, sementara pekerjaan cuma PRT,” tutur Nani.
Kepada putrinya, Nani kembali menegaskan bahwa ia dan sang nenek selalu memberikan kasih sayang dan dukungan.
“Kita semua ini sayang ko, jangan pikir aneh-aneh, ada harapan baik di depan,” kata ibu memotivasi anaknya, disambut senyum sang nenek.

Dijamin BPJS Kesehatan, Layanan ODGJ Perlu Ditingkatkan
Dokter Jiwa RSUD Merauke, dr. Uminah, Sp.KJ, menilai pelayanan kesehatan jiwa di Puskesmas masih perlu ditingkatkan, terutama dari sisi sarana, prasarana, dan ketersediaan obat bagi Orang Dengan Gangguan Jiwa (ODGJ).
Menurutnya, layanan gangguan kejiwaan telah dijamin BPJS Kesehatan dan dapat dirujuk ke rumah sakit.
“Menurut saya perlu perhatian lebih terhadap sarana prasarana, dan obat di Puskesmas ya. Tapi dibanding dulu, sekarang lebih baik karena ini rujukan BPJS,” kata dr. Uminah.
Pelayanan rawat jalan kesehatan jiwa di RSUD Merauke dibuka setiap Senin hingga Sabtu.
Pasien mendapat terapi berupa obat dan psikoterapi sehingga kunjungan ke Poli Jiwa terus meningkat.
Direktur RSUD Merauke, dr. Dewi Wulandari, mengatakan Poli Jiwa menjadi penyumbang pendapatan terbesar kedua di rumah sakit setelah penyakit dalam.
“95 persen pasien di sini peserta BPJS, Poli Jiwa kedua terbesar penerimaannya. Gangguan cemas, depresi, dikasih obat dan psikoterapi,” ujar dr. Dewi.
Untuk mendukung pelayanan kesehatan jiwa, RSUD Merauke kini memiliki dua dokter psikiater. Pemerintah juga sedang membangun gedung baru untuk Poli Jiwa.
“Ada dua dokter. Gedung poli jiwa juga sedang dibangun,” ucapnya.
BPJS Kesehatan Klaim Biaya Ribuan ODGJ di Merauke
BPJS Kesehatan Cabang Merauke mencatat sebanyak 3.027 kasus Orang Dengan Gangguan Jiwa (ODGJ) berkunjung ke Poli Jiwa RSUD Merauke sepanjang 2025.
Sementara hingga akhir Juni 2026, jumlah kunjungan telah mencapai 2.287 kasus.
Selain itu, pada 2025 tercatat 266 kasus kunjungan ODGJ ke RS Bunda Pengharapan.
“Poli jiwa dijamin BPJS, yang penting menjadi peserta aktif, kendala di Papua Selatan khususnya Merauke, FKTP obat belum tersedia, makanya semua diarahkan ke RSUD yang memiliki obat,” jelas Kepala BPJS Kesehatan Cabang Merauke, Dani Hamdani.
Apresiasi dari Ujung Timur Indonesia untuk BPJS Kesehatan
Yayasan Pulih, lembaga swadaya masyarakat (LSM) yang bergerak di bidang psikososial, mengapresiasi jaminan BPJS Kesehatan bagi Orang Dengan Gangguan Jiwa (ODGJ) di ujung timur Indonesia.
“Kalau BPJS Kesehatan sudah mengcover kesehatan jiwa masyarakat, itu sangat baik. Artinya sudah peduli dan punya ruang khusus untuk pembiayaan maupun penanganan terhadap ODGJ, itu sangat baik sekali,” ujar Koordinator Yayasan Pulih di Merauke, Beatrix Gebze.
Sebelumnya, Yayasan Pulih menggelar program bertajuk Refresh Lokakarya Kesehatan Jiwa dan Psikososial di Merauke yang dinilai memiliki beragam dinamika konflik.
Kegiatan tersebut menjadi bagian dari upaya menjaga kesehatan mental masyarakat.
“Situasi hari ini, banyak tekanan di lingkungan sekitar, pemerintahan, keluarga. Itu kita tidak tahu, mungkin orang melihat seseorang baik-baik saja. Tapi saat dilakukan penilaian baru diketahui kejiwaan kita ada di level berapa, nah saya pikir ketika sudah dijamin BPJS Kesehatan semoga tidak ada lagi orang yang mati karena bunuh diri, atau sampai level kronis,” tutup Beatrix.
Meski pernah ditinggal sang ayah sejak kecil, Fatma Irianti memilih bangkit dan menatap masa depan.
Ia bertekad mencari pekerjaan setelah kondisi kesehatan jiwanya berangsur membaik.
Kartu BPJS Kesehatan skema PBI Daerah membantunya memperoleh layanan berjenjang, mulai dari Puskesmas, RSAL, hingga Poli Jiwa RSUD Merauke.
Tak ada kasih sayang dari sang ayah.
Namun, Fatma tetap memiliki pelukan hangat dari ibu, nenek, dan BPJS Kesehatan.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....