Terus Melangkah Tanpa Satu Kaki

  • 16 Jul 2026 05:31 WIB
  •  Merauke

RRI.CO.ID, Merauke : Tongkat aluminium usang tiba-tiba terlepas dari genggaman Yuliana Kanom (43) saat menyebar pupuk di kebun sawi Kampung Harapan Makmur, Distrik Kurik, Kabupaten Merauke.

Tubuhnya hampir terjatuh.

Perlahan, ia mengambil kembali tongkatnya dan mencoba berdiri.

Sejak kaki kanannya diamputasi akibat kecelakaan lalu lintas, setiap langkah bagi Yuliana adalah perjuangan.

Namun, ia memilih bangkit.

Yuliana kemudian mendirikan UMKM Difabel Papua Bangkit dan mengajak penyandang disabilitas untuk bekerja serta hidup mandiri.

Kini, 112 penyandang disabilitas dari Asmat, Mappi, dan Boven Digoel bersama-sama mengelola kebun sayur dan hasil pertanian.

Namun perjalanan mereka tidak mudah.

Keterbatasan modal dan sulitnya menjual hasil panen sempat membuat usaha mereka hampir berhenti.

Tetap Berdiri Tegak

Air mengalir dari selang yang digenggam Bernadetha Walem (45) saat menyiram tanaman terong di kebun Kampung Harapan Makmur, Distrik Kurik, Kabupaten Merauke.

Meski kehilangan kaki kiri dan menggunakan alat bantu berjalan, Bernadetha tetap merawat sayuran bersama UMKM Difabel Papua Bangkit.

Namun, perjuangannya sering tidak sebanding dengan hasil yang diperoleh.

Saat panen tiba, sayuran yang telah dirawat berbulan-bulan kerap layu karena tidak laku terjual.

Penghasilan yang tidak menentu membuat Bernadetha beberapa kali menunda membeli obat yang dibutuhkannya.

"Kita mau jual sayur susah sekali, kadang sayur sudah layu bahkan busuk karena tidak ada yang beli," ujarnya.

Anggota kelompok UMKM Difabel Papua Bangkit Bernadetha Walem ketika menyiram tanaman. (Foto RRI)

Suara Dalam Diam

Cangkul terus diayunkan Markus Butop (39) di kebun Kampung Harapan Makmur, Distrik Kurik, Kabupaten Merauke.

Sejak lahir tidak bisa berbicara, Markus tetap bekerja bersama UMKM Difabel Papua Bangkit.

Ia berkomunikasi menggunakan bahasa isyarat yang diterjemahkan rekannya.

Ketika hasil panen tidak laku, bukan hanya Markus yang bersedih.

Ibunya terpaksa meminjam uang kepada tetangga agar kebutuhan keluarga tetap terpenuhi.

"Kita punya sayur tidak laku, jadi kita rugi," ujarnya melalui bahasa isyarat.

Meski menghadapi banyak keterbatasan, Markus tetap bertahan dan terus bekerja.

Kekuatan Dari Hati

Dengan kedua kaki yang telah tiada, Yohanis Waleb (37) tetap menanam bibit cabai di kebun Kampung Harapan Makmur, Distrik Kurik, Kabupaten Merauke.

Setiap hari, ia merawat tanaman bersama anggota UMKM Difabel Papua Bangkit.

Meski hidup dengan keterbatasan, semangatnya untuk bekerja tidak pernah hilang.

Namun, hasil panen yang dirawat dengan susah payah sering sulit terjual.

Di rumah, keluarganya beberapa kali harus menahan lapar karena tidak ada lagi uang untuk membeli beras.

"Kita hanya bisa pasrah saja kalau sayur tidak laku," ujarnya.

Meski menghadapi banyak rintangan, Yohanis tetap percaya kebun kecil itu masih menyimpan harapan untuk kehidupan yang lebih baik.

Anggota kelompok UMKM Difabel Papua Bangkit Yohanis Waleb ketika menanam bibit cabai. (Foto RRI)

Hadirnya Koperasi

Setelah bertahun-tahun menghadapi keterbatasan modal dan pemasaran, UMKM Difabel Papua Bangkit mulai memperoleh harapan melalui Koperasi Desa Merah Putih Kampung Harapan Makmur, Distrik Kurik, Kabupaten Merauke.

Sejak diresmikan Presiden Prabowo Subianto pada 21 Juli 2025, koperasi tersebut membantu membeli dan memasarkan hasil kebun para penyandang disabilitas.

Meski banyak Koperasi Desa Merah Putih masih dalam tahap pengembangan, koperasi di Kampung Harapan Makmur telah lebih dulu berjalan berkat swadaya anggotanya.

Wakil Ketua Bidang Usaha Koperasi Desa Merah Putih Kampung Harapan Makmur, Rosikin, menjelaskan koperasi berkomitmen membantu usaha masyarakat, termasuk kaum difabel.

"Kami membeli hasil kebun dan membantu memasarkannya agar usaha masyarakat, termasuk kaum difabel, bisa terus berkembang," ujarnya.

Selain membantu pemasaran hasil pertanian, koperasi juga menyediakan sembako, minyak tanah dengan harga terjangkau, serta layanan perbankan.

Berbagai unit usaha tersebut kini menghasilkan omzet sekitar Rp200 juta per bulan, sekaligus menjadi penggerak ekonomi masyarakat Kampung Harapan Makmur.

Koperasi Buka Jalan

Harapan mulai tumbuh bagi anggota UMKM Difabel Papua Bangkit seiring hadirnya Koperasi Desa Merah Putih di Papua Selatan.

Kepala Dinas Koperasi dan UMKM Provinsi Papua Selatan, Laurensius Waimu, menuturkan dari 691 kampung dan kelurahan, sebanyak 56 koperasi telah berbadan hukum, sedangkan 690 kampung dan kelurahan telah menyelesaikan musyawarah pembentukan koperasi.

"Koperasi ini membuka akses pasar dan memperkuat usaha masyarakat," kata Laurensius.

Kini, hasil panen anggota UMKM Difabel Papua Bangkit yang sebelumnya sering sulit terjual mulai dipasarkan melalui Koperasi Desa Merah Putih Kampung Harapan Makmur.

“Sekarang mereka bisa meraup 80 hingga 90 juta dalam sekali penjualan hasil kebun,” ujarnya.

Koperasi Desa Merah Putih di Kampung Harapan Makmur Distrik Kurik Kabupaten Merauke. (Foto RRI)

Dukungan Pemerintah

Harapan Yuliana Kanom dan 112 penyandang disabilitas anggota UMKM Difabel Papua Bangkit mendapat dukungan melalui Program Koperasi Desa Merah Putih.

Hingga Juli 2026, pemerintah telah membentuk sekitar 30 ribu Koperasi Desa/Kelurahan Merah Putih di seluruh Indonesia dan menargetkan jumlahnya meningkat menjadi 40 ribu koperasi pada akhir 2026.

Untuk memastikan koperasi dikelola secara profesional, Kementerian Koperasi juga melatih 29.830 calon manajer Koperasi Desa/Kelurahan Merah Putih di Pusat Pendidikan Artileri Medan (Pusdik Armed), Cimahi, Jawa Barat.

Setelah mengikuti pelatihan, para peserta akan ditempatkan di berbagai daerah mulai Agustus 2026.

Menteri Koperasi Ferry Juliantono menegaskan Koperasi Desa Merah Putih menjadi salah satu upaya pemerintah memperkuat ekonomi masyarakat desa.

"Koperasi harus menjadi penggerak ekonomi dan meningkatkan kesejahteraan masyarakat," kata Ferry.

Pengakuan Nasional

Komitmen pemerintah membangun Koperasi Desa Merah Putih mendapat pengakuan di tingkat nasional.

Pada 3 Juli 2026, Menteri Koperasi Ferry Juliantono menerima Anugerah Figur Akselerator Kemajuan kategori Tokoh Penggerak Ekonomi Kerakyatan dan Transformasi Koperasi dalam ajang detikBali–Nusra Awards 2026 di Bali.

Penghargaan tersebut diberikan atas upaya pemerintah memperkuat koperasi sebagai penggerak ekonomi desa melalui Program Koperasi Desa Merah Putih.

Program ini membuka akses pemasaran hasil pertanian, memperkuat UMKM, dan meningkatkan kesejahteraan masyarakat.

Semangat itu kini mulai dirasakan anggota UMKM Difabel Papua Bangkit, yang hasil kebunnya tidak lagi sulit terjual karena telah dipasarkan melalui Koperasi Desa Merah Putih Kampung Harapan Makmur.

Berkah Panen

Hari itu, tak seorang pun bersorak.

Tidak ada pesta atau perayaan besar.

Yang terdengar hanya ucapan syukur dan isak haru.

Yuliana menggenggam uang hasil panen dengan tangan yang masih bergetar.

Bernadetha mengusap air matanya.

Markus tersenyum sambil mengangkat kedua jempolnya, sedangkan Yohanis memandangi kebun yang selama ini dirawat dengan penuh perjuangan.

Untuk pertama kalinya, masing-masing menerima sekitar Rp10 juta dari hasil panen yang dipasarkan melalui Koperasi Desa Merah Putih.

"Dulu sa sering tidur sambil pikir besok anak-anak makan apa. Sekarang sa bisa beli beras dan bayar sekolah mereka," ujar Yuliana.

Bernadetha menatap lembaran uang di tangannya.

"Sa tidak pernah pegang uang sebanyak ini. Sa mau beli obat supaya bisa tetap kerja," katanya lirih.

Melalui bahasa isyarat yang diterjemahkan rekannya, Markus mengucap syukur.

"Sa senang, sekarang mama tidak perlu pinjam uang lagi."

Yohanis tersenyum pelan.

"Sa cuma mau keluarga di rumah tidak lagi tidur dalam keadaan lapar," ujarnya.

Hari itu, mereka tidak hanya membawa pulang uang.

Mereka membawa pulang harapan bahwa kerja keras dan kesempatan yang sama mampu mengubah hidup, meski dijalani dengan segala keterbatasan.

Langkah Menuju Masa Depan

Senja mulai menyingsing di Kampung Harapan Makmur, Distrik Kurik, Kabupaten Merauke.

Tetes keringat masih terlihat di wajah Yuliana Kanom saat menyebar pupuk di kebun sawi.

Di bawah cahaya matahari yang mulai redup, ia perlahan menyanyikan lagu "Tanah Papua" ciptaan Yance Rumbino.

"Tanah Papua tanah yang kaya, surga kecil jatuh ke bumi."

Lagu itu mengiringi perjuangan Yuliana bersama Bernadetha, Markus dan Yohanis yang terus mengolah tanah meski hidup sebagai kaum difabel.

Kini, melalui Koperasi Desa Merah Putih, hasil panen mereka dapat dipasarkan dan menjadi penghasilan bagi keluarga.

Bagi mereka, koperasi bukan hanya tempat menjual hasil kebun, tetapi jalan untuk bangkit.

"Koperasi berdaya, Indonesia berjaya."

Dari tanah Papua, lahir kisah 112 penyandang disabilitas yang membuktikan bahwa keterbatasan fisik tidak mampu memadamkan semangat untuk terus bekerja dan berharap.

google-preference
Kata Kunci / Tags

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....