Jejak Eliminasi Kurang Gizi di Ufuk Timur

  • 30 Jun 2026 10:43 WIB
  •  Merauke

RRI.CO.ID, Merauke : Tiiiinnggg...! Bel sekolah berbunyi.

Suasana SD Inpres Kwamki Lama, Timika, seakan membawa kita kembali ke tahun 2016.

Saat itu, anak-anak berhamburan keluar kelas.

Namun sebelum makan, mereka lebih dulu mencuci tangan dengan sabun.

Di atas piring, telur rebus menjadi menu yang paling dinanti.

Bagi sebagian anak, makanan bergizi tidak selalu tersedia di rumah.

Ada yang datang ke sekolah dengan tubuh kurus dan kekurangan gizi.

Di tengah kondisi itu, JAPFA for Kids hadir.

Mereka membawa makanan bergizi sekaligus mengajarkan pentingnya gizi dan hidup bersih.

Sepuluh tahun berlalu.

Programnya telah berpindah ke daerah lain, tetapi kebiasaannya masih bertahan.

Anak-anak terus mencuci tangan sebelum makan dan mengenal pentingnya makanan bergizi.

Sebuah kenangan dari 2016 yang hingga kini masih meninggalkan jejak di sekolah ini.

Ketika Perut Tak Terisi

Bagi Beni Wamgi, masa kecil di SD Inpres Kwamki Lama menyimpan cerita tentang kekurangan.

Tubuhnya dulu kurus dan lemah karena kekurangan gizi.

Orang tuanya yang hanya berkebun tidak selalu mampu menyediakan makanan bergizi.

“Dulu sa badan kurus sekali. Sa kurang gizi,” ujarnya.

Hingga JAPFA for Kids hadir di sekolahnya.

Beni mendapat makanan bergizi dan belajar menjaga kebersihan.

Perlahan, tubuhnya tumbuh lebih sehat dan terbebas dari kurang gizi.

Kini Beni telah dewasa.

Namun kenangan itu tetap melekat.

Makanan yang dulu ia terima menjadi bagian penting dari perjalanan hidupnya.

Anak yang Pernah Lemah

Martha Wimbo masih mengingat masa kecilnya di SD Inpres Kwamki Lama.

Ia pernah mengalami malagizi.

Orang tuanya hanya bekerja sebagai buruh pelabuhan, sehingga makanan bergizi sulit tersedia di rumah.

Kesedihan Martha semakin dalam setelah adiknya meninggal karena gizi buruk.

Hingga JAPFA for Kids hadir di sekolahnya.

Ia mendapat makanan bergizi dan edukasi tentang kesehatan.

“Waktu JAPFA datang, kita dapat bantuan makanan bergizi,” ujarnya.

Perlahan, kondisi Martha membaik dan ia terbebas dari malagizi.

Kini ia telah dewasa.

Namun kenangan itu tetap tinggal, menjadi bagian dari masa kecil yang penuh kekurangan dan kehilangan.

Makanan yang Tak Selalu Ada

Bagi Marten Nimbo, makanan bergizi dulu terasa jauh dari kehidupannya.

Orang tuanya bekerja sebagai pemulung.

Untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari saja sulit, apalagi membeli makanan bergizi.

“Waktu itu, mama hanya pemulung, makanya mama tidak bisa beli ayam goreng,” ujarnya dengan mata berkaca-kaca.

Hingga JAPFA for Kids hadir di sekolahnya.

Marten mendapat makanan bergizi sekaligus belajar menjaga kesehatan.

Perlahan, tubuhnya tumbuh lebih kuat dan ia terbebas dari malagizi.

Kini Marten telah dewasa.

Namun perhatian yang diterimanya saat kecil masih menjadi kenangan yang tak terlupakan.

Beni Wamgi, Martha Wimbo dan Marten Nimbo bersama siswa SD Inpres Kwamki Lama lainnya, saat memperoleh bantuan makanan bergizi dari JAPFA For Kids pada tahun 2016 silam. (Foto RRI)

Telur untuk Yohana

Sepuluh tahun setelah JAPFA for Kids hadir, Yohana Habol kini duduk di kelas 5 SD Inpres Kwamki Lama.

Ia berasal dari keluarga kurang mampu.

Namun, ia tetap rajin bersekolah.

Yohana memang tidak merasakan langsung program JAPFA for Kids pada 2016.

Tetapi kebiasaan baik yang ditinggalkan masih ia jalani.

Setiap istirahat, ia mencuci tangan sebelum makan.

Telur rebus menjadi menu yang paling ditunggu.

“Pak guru bilang, kita harus makan telur setiap hari, biar sehat,” ujarnya.

Setelah makan, Yohana kembali ke kelas.

Di tengah keterbatasan, ia terus belajar dan menyimpan harapan untuk masa depan yang lebih baik.

Mariana dan Kursi Kosong

Di kelas 6, Mariana Bisap menjalani hari tanpa ayah dan ibu.

Ia tinggal bersama kakaknya yang berjualan ubi dan ikan.

Penghasilannya tak selalu cukup untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari, termasuk makanan bergizi.

Namun Mariana tetap bersekolah.

Jejak JAPFA for Kids yang hadir pada 2016 masih ia rasakan hingga kini.

Ia terbiasa mencuci tangan sebelum makan dan memahami pentingnya makanan bergizi.

“Sa senang bisa makan enak sama teman-teman,” ucapnya.

Bagi Mariana, makanan di sekolah menjadi kebahagiaan kecil di tengah keterbatasan.

Sepuluh tahun berlalu.

Programnya telah berpindah, tetapi kebiasaan baik yang ditanamkan tetap hidup.

Mariana Bisap (kanan) ketika akan menikmati menu wajib telur rebus di sekolah. (Foto RRI)

Ibu Melihat Perubahan

Di SD Inpres Kwamki Lama, makan telur dan mencuci tangan sebelum makan sudah menjadi kebiasaan setiap hari.

Anak-anak diwajibkan makan telur dan mencuci tangan dengan sabun sebelum makan.

Rosina Muyap, salah satu orang tua murid, mendukung kebiasaan tersebut.

Anak pertamanya sudah lulus tiga tahun lalu, sementara anak keduanya kini duduk di kelas 3.

“Di sekolah ini anak-anak wajib makan telur dan cuci tangan pakai sabun sebelum makan,” ujarnya.

Bagi Rosina, kebiasaan ini penting karena masih banyak anak yang menghadapi masalah gizi.

Ia berharap kebiasaan tersebut terus dijaga, agar anak-anak tidak hanya kenyang, tetapi juga tumbuh sehat.

Rosina Muyap ketika di wawancarai RRI. (Foto RRI)

Program yang Tak Hilang

Kepala SD Inpres Kwamki Lama, Salomina Rumainum, masih mengingat saat JAPFA for Kids hadir pada 2016.

Program itu kini telah berpindah, tetapi kebiasaannya tetap dijaga.

Anak-anak dibiasakan makan satu telur rebus setiap hari dan mencuci tangan dengan sabun sebelum makan.

Saat program Makan Bergizi Gratis hadir, sekolah tetap meminta telur disediakan sebagai menu tambahan.

“Kami tidak ingin kebiasaan baik itu berhenti,” ujarnya.

Bagi Salomina, kebiasaan sederhana ini penting untuk membantu anak-anak tumbuh sehat di tengah keterbatasan.

Sepuluh tahun berlalu, jejak JAPFA for Kids masih terlihat di sekolah ini.

MBG Datang Membawa Harapan

Satu menu selalu dinantikan anak-anak SD Inpres Kwamki Lama, telur rebus.

Menu lainnya berganti, mulai dari ikan, daging, sayur hingga buah.

Namun telur tetap diminta hadir setiap hari.

Kebiasaan itu telah ditanamkan sejak JAPFA for Kids hadir pada 2016.

Karena itu, sekolah meminta telur tetap menjadi menu tambahan dalam program Makan Bergizi Gratis atau MBG.

Kepala SPPG Timika, Jimmi Liber, mengatakan pihaknya berupaya memenuhi permintaan tersebut.

“Kami berusaha menghadirkan telur yang mengandung Omega 3,” ujarnya.

Bagi anak-anak yang tidak selalu mendapat makanan bergizi di rumah, telur di atas piring sekolah menjadi menu yang paling ditunggu.

Di Balik Angka Malagizi

Persoalan gizi dan stunting masih menjadi perhatian di Kabupaten Mimika.

Data Dinas Kesehatan tahun 2025 mencatat sekitar 1.100 hingga 1.200 kasus stunting.

“Malagizi masih menjadi perhatian kita,” ujar Plt Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Mimika, Godfried Maturbongs.

Untuk membantu mengatasinya, Dinas Kesehatan menjalankan program wajib makan telur rebus selama enam bulan bagi anak-anak di kampung yang ditemukan kasus gizi buruk.

Langkah ini diharapkan membantu memenuhi kebutuhan protein dan mencegah kondisi gizi anak semakin buruk.

Godfried berharap JAPFA for Kids kembali menjangkau sekolah dan kampung di Mimika.

Menurutnya, persoalan gizi membutuhkan kerja bersama pemerintah dan sektor swasta agar lebih banyak anak mendapat makanan bergizi dan edukasi kesehatan.

Anak anak asli Papua ketika menikmati telur rebus melalui program wajib makan telur dari Pemerintah Daerah Kabupaten Mimika.(Foto RRI)

Anak Adalah Masa Depan

Di tengah keterbatasan, masa depan anak-anak Mimika terus diperjuangkan.

Pemerintah Kabupaten Mimika berupaya mencegah dan menangani gizi buruk hingga ke kampung-kampung.

Upaya ini penting karena 31,31 ribu penduduk Mimika atau 13,70 persen masih hidup dalam kemiskinan pada Maret 2025.

Bupati Mimika, Johannes Rettob, mengatakan pemenuhan gizi anak merupakan bagian dari menyiapkan generasi menuju Indonesia Emas 2045.

“Anak-anak sehat adalah masa depan Mimika,” ujarnya.

Karena itu, pemerintah membutuhkan dukungan berbagai pihak, termasuk JAPFA, agar semakin banyak anak mendapat makanan bergizi.

Menuju 2045, Mimika membutuhkan generasi yang tidak hanya pintar, tetapi juga sehat.

Bupati Mimika Johanes Rettob ketika di wawancarai RRI dan para awak media. (Foto RRI)

Gizi Bukan Sekadar Kenyang

Ahli gizi di Timika, Andi Maulana, mengingatkan bahwa makanan bergizi tidak harus mahal.

“Satu telur sehari bisa menjadi langkah sederhana,” ujarnya.

Kebiasaan itu perlu dimulai dari sekolah dan diteruskan di rumah.

Anak dibiasakan mencuci tangan dengan sabun, sementara orang tua memastikan makanan bergizi tersedia.

Program seperti JAPFA for Kids juga penting karena mengajarkan gizi, protein hewani, dan hidup sehat kepada anak-anak di sekolah.

Menurut Andi, keterlibatan sektor swasta dapat menjadi contoh dalam membantu meningkatkan gizi dan kesehatan anak.

Membangun generasi sehat membutuhkan kerja bersama, termasuk melalui program nyata dari dunia usaha.

18 Tahun yang Berarti

Selama 18 tahun, JAPFA for Kids terus membawa edukasi gizi dan hidup sehat kepada anak-anak di berbagai daerah.

Hingga 2025, program ini telah menjangkau 201.056 siswa, 13.541 guru, dan 1.214 sekolah di 105 kabupaten/kota dan 28 provinsi.

Namun, persoalan gizi masih menjadi tantangan.

Survei Kesehatan Indonesia 2023 mencatat 11 persen anak usia 5–12 tahun mengalami gizi kurang dan gizi buruk.

Data JAPFA pada 2024 di tujuh lokasi juga mencatat 10,1 persen siswa mengalami kondisi serupa.

Head of Social Investment JAPFA, Retno Artsanti, mengatakan penanganannya dilakukan secara terintegrasi.

“Upayanya meliputi pemberian telur setiap hari selama enam bulan, pemantauan pertumbuhan, edukasi kesehatan, pelatihan guru, pendampingan orang tua, dan monitoring berkala,” ujarnya.

Hasilnya, pada 2024 sebanyak 762 dari 1.479 siswa atau 51,5 persen berhasil mencapai gizi baik.

Pada 2025, angkanya meningkat menjadi 646 dari 1.034 siswa atau 62,5 persen.

Memasuki 2026, JAPFA for Kids terus berjalan di berbagai daerah.

Selama 18 tahun, perjalanan ini terus dilanjutkan agar semakin banyak anak mendapat kesempatan untuk tumbuh sehat.

Jejak yang Mendapat Pengakuan

Kebaikan JAPFA for Kids tidak hanya tinggal di ruang kelas.

Perjalanan program ini juga mendapat pengakuan.

Pada 2024, JAPFA for Kids meraih Fortune Indonesia Change the World 2024 atas dampaknya bagi masyarakat.

Di tahun yang sama, JAPFA juga meraih TOP CSR Bintang 4 atas komitmennya melalui JAPFA for Kids.

Penghargaan itu menjadi bukti bahwa perhatian terhadap gizi anak memberi dampak nyata.

Dari makanan bergizi dan edukasi sederhana, tumbuh kebiasaan sehat yang dapat dibawa anak hingga dewasa.

JAPFA for Kids meraih Fortune Indonesia Change the World 2024, penghargaan bagi perusahaan yang dinilai memberi dampak nyata bagi masyarakat melalui program sosialnya. (Foto : IG @japfa.id)

Cita-cita yang Tak Padam

Tiiiinnggg...! Bel sekolah berbunyi.

Suara itu pernah mengiringi Beni, Martha, dan Marten belajar di SD Inpres Kwamki Lama.

Dulu, mereka mengalami malagizi.

Saat JAPFA for Kids hadir pada 2016, mereka mendapat makanan bergizi dan edukasi hidup sehat hingga tumbuh lebih kuat.

Kini mereka telah menjadi alumni.

Programnya memang telah berlalu, tetapi kebiasaan baiknya masih hidup.

Siswa di sekolah ini tetap mencuci tangan dengan sabun sebelum makan dan membiasakan makan telur setiap hari.

Di depan sekolah, Beni kembali berdiri.

Ia menyanyikan “Bangun Pemudi Pemuda” karya Alfred Simanjuntak.

“Bangun pemudi pemuda Indonesia.”

Suara itu membawa kembali kenangan masa kecil sekaligus pesan bagi generasi berikutnya.

JAPFA for Kids telah berlalu, tetapi warisannya tetap hidup melalui kebiasaan sehat yang terus dijaga agar anak-anak tumbuh kuat dan meraih masa depan.

Senyum Bahagia

Kini, Beni, Martha, dan Marten telah dewasa.

Langkah mereka telah jauh meninggalkan halaman SD Inpres Kwamki Lama.

Namun, satu bagian dari masa kecil tetap mereka bawa, pengalaman saat JAPFA for Kids hadir dan memberi kesempatan untuk tumbuh lebih sehat.

Hari ini, mereka bukan lagi anak-anak yang menunggu makanan di bangku sekolah.

Mereka adalah alumni yang pernah merasakan sendiri manfaat JAPFA for Kids.

Beni, Martha, dan Marten menjadi tiga dari ratusan anak Indonesia yang terbebas dari malagizi melalui JAPFA for Kids.

Selama 18 tahun, cerita seperti ini terus tumbuh di berbagai daerah Indonesia.

Dari satu sekolah dan satu anak, tumbuh harapan bagi anak-anak lainnya.

Ketika seorang anak tumbuh sehat, tumbuh pula kesempatan untuk belajar, bermimpi, dan meraih masa depan bersama JAPFA for Kids.

google-preference
Kata Kunci / Tags

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....