Ketika Karya Gobel Group Hadir di Pelosok Papua
- 18 Jun 2026 15:10 WIB
- Merauke
RRI.CO.ID, Merauke : Suara berderak memecah keheningan pagi di tengah lebatnya hutan Papua.
Albertus Maiwa (35) perlahan memutar tombol radio Panasonic yang berada di sampingnya.
"Kr...k...kr..."
Tak lama kemudian, suara penyiar Radio Republik Indonesia (RRI) terdengar jernih. Senyum tipis pun mengembang di wajahnya.
Pagi itu, Albertus mendengarkan radio bukan dari sebuah rumah biasa.
Ia berada di rumah pohonnya yang berdiri sekitar 40 meter di atas tanah, di Dusun Dayo, Distrik Yaniruma, Kabupaten Boven Digoel, Papua Selatan.
Dusun tersebut merupakan tempat tinggal masyarakat Suku Korowai, suku asli Papua yang dikenal sebagai manusia pohon.
Secara turun-temurun, mereka membangun rumah di atas pohon dengan ketinggian 30 hingga 50 meter.
Menurut kepercayaan adat, rumah yang tinggi dipercaya dapat melindungi keluarga dari gangguan roh-roh jahat sekaligus menghindari serangan binatang buas.
Di pedalaman hutan Papua itu, listrik belum menjangkau permukiman dan jaringan internet masih sulit ditemukan.
Karena itulah radio tetap menjadi bagian penting dalam kehidupan masyarakat Korowai.
Melalui radio, mereka mendengar berita, informasi kesehatan, pendidikan, cuaca, hingga lagu-lagu yang menemani aktivitas sehari-hari.
Di saat sebagian besar masyarakat menikmati informasi melalui telepon pintar, masyarakat Korowai masih setia mendengarkan suara Indonesia melalui gelombang radio.
Suara Kemerdekaan
Sebelum menjadi teman masyarakat Suku Korowai di pedalaman Papua, radio lebih dulu menjadi bagian penting dalam perjalanan bangsa Indonesia.
Radio bukan sekadar alat elektronik.
Saat Proklamasi Kemerdekaan Indonesia pada 17 Agustus 1945, berita kemerdekaan disebarkan ke berbagai daerah melalui siaran radio dan corong-corong penyiaran yang kemudian berkembang menjadi Radio Republik Indonesia (RRI).
Melalui gelombang udara, kabar kemerdekaan menjangkau berbagai penjuru negeri.
Radio pun menjadi suara yang menyatukan Indonesia.
Kini, radio tidak lagi menyampaikan kabar proklamasi.
Namun perannya tetap sama, yakni menghubungkan masyarakat di daerah terpencil dengan berbagai informasi.
Perjalanan radio di Indonesia kemudian terus berlanjut.
Dari media penyebar kabar kemerdekaan, radio berkembang menjadi bagian dari kemajuan industri elektronik nasional yang kemudian melahirkan radio-radio buatan anak bangsa melalui Gobel Group.
Lahirnya Radio Tjawang
Pada 1956, almarhum Drs. H. Thayeb Mohammad Gobel bercita-cita agar Indonesia mampu memproduksi sendiri perangkat elektronik.
Dari mimpi itu lahirlah radio transistor pertama buatan Indonesia dengan merek Tjawang.
Radio berbentuk kotak dengan tombol pencari frekuensi besar di sudut kanan atas itu menjadi salah satu produk elektronik yang digemari masyarakat.
Dalam kurun waktu 1956 hingga 1964, lebih dari satu juta unit radio Tjawang berhasil terjual.
Keberhasilan tersebut menjadi awal lahirnya industri elektronik nasional yang kemudian berkembang menjadi Gobel Group.
Kini, hampir tujuh dekade kemudian, Gobel Group tumbuh menjadi salah satu kelompok usaha nasional yang menaungi lebih dari 18 ribu karyawan dan bergerak di berbagai bidang usaha.
Meski telah berkembang pesat, radio tetap menjadi bagian penting dari sejarah Gobel Group.
Dari sebuah radio bernama Tjawang, perjalanan panjang industri elektronik Indonesia dimulai hingga akhirnya mampu menjangkau masyarakat di berbagai pelosok negeri, termasuk rumah-rumah pohon masyarakat Suku Korowai di pedalaman Papua.

Panasonic Menembus Papua
Perjalanan Gobel Group terus berkembang.
Pada tahun 1970, berdirilah Panasonic Manufacturing Indonesia, salah satu anak perusahaan Gobel Group yang menjadi produsen berbagai peralatan elektronik.
Perusahaan tersebut memproduksi beragam kebutuhan rumah tangga, mulai dari pompa air, pendingin ruangan, lemari es, mesin cuci, kipas angin, hingga produk audio dan video, termasuk radio yang kemudian dikenal luas oleh masyarakat Indonesia.
Bagi sebagian masyarakat perkotaan, radio mungkin hanya menjadi salah satu fitur dari perangkat elektronik.
Namun di kampung-kampung pedalaman Papua, radio Panasonic justru menjadi kebutuhan utama.
Karena ketika listrik belum tersedia sepanjang hari dan internet belum menjangkau seluruh wilayah, radio tetap bisa menyampaikan suara.
Gelombangnya mampu menembus lebatnya hutan Papua hingga menjangkau rumah-rumah pohon masyarakat Korowai.
Suara di Rumah Pohon
Setiap pagi, Albertus Maiwa (35) hampir selalu memutar radionya.
Ia sudah terbiasa mendengarkan siaran RRI sebelum memulai aktivitas berburu atau mencari sagu di hutan.
"Kalau radio tidak hidup, rumah terasa sepi. Dari radio kami tahu berita, informasi pemerintah, cuaca, juga lagu-lagu," ujarnya.
Albertus mengaku radio menjadi satu-satunya media informasi yang paling mudah dijangkau masyarakat Suku Korowai di Dusun Dayo.
Televisi sulit digunakan karena belum tersedia listrik yang memadai.
Internet juga belum tersedia.
Karena itu, radio tetap menjadi pilihan utama.
"Kalau ada informasi penting, biasanya kami dengarnya dari radio."

Jendela Dunia Korowai
Bagi Robert Jikwa (27), radio menjadi penghubung masyarakat Korowai dengan dunia luar.
Meski tinggal jauh di pedalaman hutan Papua, ia tetap bisa mengikuti berbagai kabar dari seluruh Indonesia.
"Dari radio kami tahu banyak hal. Kami tahu sekarang Presiden Indonesia adalah Bapak Prabowo Subianto. Semua informasi tentang Indonesia kami dengar dari radio," katanya.
Menurut Robert, radio membuat masyarakat Korowai tidak merasa jauh dari negaranya.
Ia berharap siaran radio akan terus hadir agar warga di pedalaman tetap mengikuti perkembangan Indonesia.
Mengusir Sepi
Di rumah pohon sederhana milik Yustina Mawai (31), radio hampir tidak pernah dimatikan.
Saat suaminya pergi berburu atau mencari sagu di hutan, radio menjadi teman yang menemaninya mengurus rumah dan anak-anak.
"Dengar lagu membuat hati senang. Anak-anak juga suka mendengar cerita dan siaran dari radio," tuturnya.
Ia mengatakan radio memberikan hiburan yang sederhana, tetapi sangat berarti.
Di tengah kesunyian hutan Papua, suara penyiar seolah menjadi teman berbincang setiap hari.

Menjaga Nusantara
Kepala Distrik Yaniruma Kabupaten Boven Digoel, Kambutop Weremba, mengatakan radio masih sangat penting bagi masyarakat pedalaman. Menurutnya, radio menjadi media yang mampu menjangkau warga di wilayah yang belum memiliki akses komunikasi secara maksimal.
“Melalui radio, warga bisa mengetahui kegiatan seperti posyandu sehingga mereka bisa datang ke kantor distrik. Mereka juga mendapat informasi tentang sekolah rakyat, MBG, dan program pemerintah lainnya,” ujarnya.
Ia menambahkan, radio juga membantu memperkuat rasa kebangsaan masyarakat Suku Korowai yang tinggal jauh di pedalaman Papua.

500 Radio Panasonic
Bagi masyarakat yang tinggal jauh di tengah hutan Papua, radio masih menjadi jembatan yang menghubungkan mereka dengan dunia luar.
Atas kondisi tersebut, Gubernur Papua Selatan, Apollo Safanpo, menyerahkan 500 unit radio Panasonic produksi Gobel Group kepada masyarakat di berbagai kampung pedalaman.
Apollo mengatakan, bantuan ini bukan sekadar pemberian alat elektronik, tetapi untuk memastikan masyarakat di wilayah terpencil tetap mendapatkan akses informasi yang dibutuhkan.
“Radio masih menjadi media yang paling efektif di banyak kampung. Melalui radio, masyarakat bisa memperoleh informasi yang benar, pendidikan, hiburan, serta berbagai siaran yang bermanfaat,” ujarnya.
Ia berharap bantuan radio tersebut dapat menghadirkan informasi hingga ke kampung-kampung yang belum terjangkau jaringan komunikasi modern.

Masih Dicari
Radio Panasonic produk Gobel Group masih banyak dicari masyarakat di kampung-kampung pedalaman Papua.
Dalam sebulan, sekitar 100 unit radio terjual.
Harganya pun cukup terjangkau, mulai Rp175 ribu hingga Rp650 ribu, tergantung tipe.
Hal itu disampaikan Okki Putra, pemilik toko elektronik di Boven Digoel.
Menurutnya, tingginya kebutuhan radio juga terlihat saat Pemerintah Provinsi Papua Selatan bekerja sama dengan RRI dalam pengadaan 500 unit radio Panasonic untuk masyarakat kampung.
Bagi Okki, tingginya permintaan tersebut menunjukkan bahwa radio masih menjadi kebutuhan penting bagi masyarakat pedalaman yang mengandalkan siaran radio sebagai sumber informasi dan hiburan sehari-hari.
Radio Tetap Menyala
Lantunan lagu "Indonesia Raya" karya Wage Rudolf Supratman terdengar pelan dari sebuah radio Panasonic di rumah pohon milik Albertus Maiwa.
"Indonesia tanah airku, tanah tumpah darahku..."
Lagu itu mengalun setiap pagi sebelum Albertus berangkat berburu di hutan.
"Baterainya awet, jadi kami tidak sering ganti," katanya sambil tersenyum.
Tak jauh dari sana, Robert Jikwa juga menyalakan radio Panasonic miliknya.
Menurutnya, radio tersebut lebih mudah menangkap siaran dibanding radio lain yang pernah digunakan warga.
"Kalau sudah dapat frekuensi, suaranya jelas," ujarnya.
Sementara itu, Yustina Mawai masih setia menggunakan radio Panasonic yang telah menemaninya lebih dari 10 tahun.
Meski penutup tempat baterainya sudah tidak rapat dan harus diikat dengan karet, radio itu tetap berfungsi dengan baik.
"Sudah lama sekali dipakai. Walau diikat karet, masih bisa dengar berita dan lagu setiap hari," tuturnya.
Bagi masyarakat Suku Korowai, radio Panasonic produksi Gobel Group bukan sekadar alat elektronik.
Di tengah hutan Papua yang belum terjangkau listrik dan internet, radio yang awet, hemat baterai, serta tetap mampu menangkap siaran dengan jernih menjadi teman setia yang menghadirkan informasi dan hiburan setiap hari dari atas rumah-rumah pohon.

Gelombang Tak Hilang
Teknologi terus berkembang.
Telepon pintar semakin canggih.
Internet semakin cepat.
Namun, di Dusun Dayo, Distrik Yaniruma, Kabupaten Boven Digoel, radio Panasonic masih setia menemani kehidupan masyarakat Korowai di rumah-rumah pohon.
Melalui radio itulah mereka mendengar berita, pendidikan, hiburan, dan berbagai informasi dari seluruh Indonesia.
Menjelang 70 tahun perjalanan Gobel Group, jejak yang dimulai dari radio transistor pertama buatan Indonesia masih terus berlanjut.
Berawal dari radio Tjawang, kini radio Panasonic tetap menjadi sumber informasi bagi masyarakat di pedalaman Papua.
Jika dahulu radio menyebarkan kabar kemerdekaan, kini radio menjaga masyarakat Korowai tetap terhubung dengan Indonesia.
Di tengah hutan Papua, radio Panasonic produksi Gobel Group bukan sekadar perangkat elektronik, tetapi menjadi penghubung yang memastikan suara Indonesia terus hadir hingga ke rumah-rumah pohon di pelosok negeri.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....