Kisah Kaum Difabel di Ufuk Timur

  • 28 Mei 2026 16:10 WIB
  •  Merauke

RRI.CO.ID, Merauke : "Ting..." Suara notifikasi itu terdengar pelan dari sebuah telepon genggam di Kampung Harapan Makmur, Distrik Kurik, Kabupaten Merauke.

Bagi Marthen Kanom, bunyi sederhana itu memiliki arti besar.

Kini, ia tidak perlu lagi menunggu lama dengan tongkatnya hanya untuk membayar tagihan, membeli pulsa, atau berbelanja.

Bagi banyak orang, urusan itu mungkin hanya memakan waktu beberapa menit.

Namun bagi penyandang disabilitas, setiap langkah membutuhkan tenaga dan perjuangan.

Di kampung kecil itu, lima penyandang disabilitas memiliki kisah hidup yang berbeda.

Meski begitu, mereka memiliki harapan yang sama, yakni hidup lebih mandiri.

Kini, kemudahan layanan digital membantu mereka menjalani aktivitas sehari-hari dengan lebih ringan.

Langkah yang Hilang

Marthen Kanom masih mengingat kecelakaan lalu lintas yang membuat kaki kirinya harus diamputasi.

Sejak saat itu, tongkat aluminium selalu menemaninya berjalan.

Bagi Marthen, setiap langkah membutuhkan tenaga lebih.

Berbelanja di minimarket pun menjadi tantangan.

Kini, melalui QRIS AstraPay, ia cukup memindai kode QR dengan telepon genggam.

Pembayaran selesai lebih cepat tanpa membawa uang tunai atau menunggu uang kembalian.

"Sa senang karena tidak perlu bawa uang tunai lagi. Kita bisa dapat poin juga, jadi lebih hemat," ujar Marthen.

Bagi Marthen, QRIS AstraPay membuat setiap langkah menuju kasir terasa lebih ringan.

Marthen Kanom ketika membayar menggunakan Qris AstraPay. (Foto RRI)

Dunia dari Kursi Roda

Di rumahnya, Jessi Walem tersenyum menatap layar telepon genggam.

Sejak lumpuh akibat polio, ia menggunakan kursi roda untuk beraktivitas.

Dulu, membeli pulsa atau paket internet harus meminta bantuan keluarga.

Kini, semua itu bisa ia lakukan sendiri melalui AstraPay.

"Sa kalau beli pulsa pakai AstraPay lebih praktis. Setiap transaksi dapat poin, nanti bisa ditukar," ujar Jessi.

Bagi Jessi, kemudahan itu membuatnya lebih leluasa memenuhi kebutuhan tanpa harus bergantung pada orang lain.

Bahasa Tanpa Kata

Renni Butop terlahir sebagai penyandang tunawicara.

Meski tidak bisa berbicara, ia berkomunikasi melalui bahasa isyarat.

Dulu, membeli pulsa listrik sering menjadi kendala karena keterbatasan komunikasi.

Kini, ia cukup membuka AstraPay untuk membeli token listrik dalam beberapa sentuhan.

Melalui bahasa isyarat yang diterjemahkan pendampingnya, Renni mengatakan, "Sekarang lebih mudah. Sa bisa beli pulsa listrik di mana saja, yang penting ada HP," ungkap Renni.

Saat notifikasi "Transaksi Berhasil" muncul di layar, Renni hanya tersenyum.

Senyum itu menjadi tanda bahwa kini ia bisa memenuhi kebutuhan listrik rumahnya dengan lebih mudah dan mandiri.

Satu Tangan, Seribu Semangat

Musibah membuat Paskalis Waleb kehilangan tangan kirinya.

Ia pernah berpikir hidupnya tidak akan pernah sama lagi.

Namun, waktu mengajarkannya bahwa selalu ada cara untuk bangkit.

Dengan satu tangan yang tersisa, ia belajar mengoperasikan AstraPay untuk mengisi pulsa.

"Sa suka pakai AstraPay karena mudah. Banyak promonya juga, jadi sangat membantu kita," ujarnya.

Bagi Paskalis, AstraPay bukan sekadar aplikasi, melainkan kesempatan untuk tetap hidup mandiri.

Paskalis Waleb ketika membeli pulsa menggunakan aplikasi AstraPay. (Foto RRI)

Diam yang Bermakna

Yohan Antop lahir tanpa kemampuan berbicara. Namun, setiap bulan ia rutin membayar tagihan PDAM melalui AstraPay.

Dulu, keterbatasan komunikasi sering membuatnya kesulitan bertransaksi. Kini, ia cukup membuka aplikasi untuk menyelesaikan pembayaran.

Melalui bahasa isyarat yang diterjemahkan pendampingnya, Yohan mengatakan, "Sekarang lebih praktis. Sa tidak bingung lagi kalau mau bayar tagihan."

Bagi Yohan, kini membayar tagihan PDAM menjadi lebih mudah tanpa harus terkendala komunikasi.

Dukung Asta Cita

Bagi banyak orang, pembayaran digital hanya soal kemudahan.

Namun bagi penyandang disabilitas di Kampung Harapan Makmur, teknologi membuka jalan menuju hidup yang lebih mandiri.

Wakil Ketua Bidang Usaha Koperasi Desa Merah Putih Kampung Harapan Makmur, Rosikin, mengatakan semakin banyak warga, termasuk penyandang disabilitas, menggunakan AstraPay karena praktis, mudah, serta menawarkan promo dan AstraPoints.

"Warga di sini mulai pakai AstraPay. Kami ajarkan cara menggunakannya," ujar Rosikin.

Menurutnya, penggunaan pembayaran digital juga mendukung Asta Cita Pemerintah melalui transformasi digital yang inklusif.

Bagi warga Kampung Harapan Makmur, AstraPay bukan sekadar alat pembayaran, tetapi juga mempermudah aktivitas sehari-hari.

Komitmen Astra Pay

Kemudahan yang dirasakan Marthen dan rekan-rekannya menjadi bagian dari komitmen AstraPay menghadirkan layanan pembayaran digital yang mudah, aman, dan dapat diakses semua kalangan.

Chief Executive Officer AstraPay, Rina Apriana, mengatakan AstraPay hadir untuk memudahkan transaksi sehari-hari.

"Kami ingin AstraPay menjadi solusi pembayaran digital yang mudah, aman, dan dapat digunakan oleh seluruh masyarakat Indonesia," ujar Rina.

AstraPay telah berizin dan diawasi OJK serta Bank Indonesia, juga mengantongi sertifikasi ISO 27001:2022 dan ISO 27701:2019 untuk menjaga keamanan dan privasi pengguna.

Setiap transaksi juga memberikan AstraPoints yang dapat ditukarkan dengan berbagai promo.

Hingga tahun keenam operasionalnya, AstraPay telah digunakan sekitar 17,5 juta pengguna, mencatat lebih dari 300 juta transaksi, dengan nilai transaksi melampaui Rp150 triliun.

Bagi Marthen, Jessi, Renni, Paskalis, dan Yohan, AstraPay membantu memenuhi kebutuhan sehari-hari dengan lebih mudah, aman, dan praktis.

Suara yang Sama

Menjelang sore, suara notifikasi kembali terdengar dari telepon genggam di Kampung Harapan Makmur.

Bagi Marthen Kanom, bunyi itu menandakan pembayaran belanja di minimarket selesai lebih cepat tanpa uang tunai maupun menunggu uang kembalian.

"Kalau belanja pakai AstraPay tinggal scan. Cepat sekali, sa tidak repot lagi," ujar Marthen.

Jessi kini bisa membeli pulsa dan paket internet sendiri.

"Pakai AstraPay sa bisa beli pulsa sendiri. Lebih praktis dari rumah," kata Jessi.

Renni tak lagi kesulitan membeli token listrik.

"Kalau pakai AstraPay, sa langsung beli pulsa listrik sendiri. Cepat dan mudah," ungkap Renni melalui bahasa isyarat yang diterjemahkan pendampingnya.

Yohan juga lebih mudah membayar tagihan PDAM.

Lewat bahasa isyarat, Yohan menyampaikan, "Pakai AstraPay, sa bisa bayar tagihan sendiri."

Meski memiliki keterbatasan berbeda, mereka kini dapat memenuhi kebutuhan sehari-hari tanpa selalu bergantung pada orang lain.

Lima kisah itu bermuara pada harapan yang sama, hidup lebih mandiri.

Harapan di Ufuk Timur

Senja turun perlahan di Kampung Harapan Makmur.

Di teras rumahnya, Marthen Kanom menyanyikan pelan lagu "Bunda" karya Melly Goeslaw.

"Ku hanya bisa berharap, semoga hidupku kan lebih baik."

Bagi Marthen, lagu itu adalah gambaran perjalanan hidupnya.

Bersama Jessi, Renni, Paskalis, dan Yohan, ia belajar bahwa keterbatasan bukan akhir dari harapan.

Kini, satu sentuhan di telepon genggam membuat mereka lebih mudah memenuhi kebutuhan sehari-hari.

Lalu terdengar suara sederhana.

"Ting..."

Bagi sebagian orang, itu hanya notifikasi biasa.

Namun bagi mereka di Kampung Harapan Makmur, bunyi itu adalah tanda kemandirian, kepercayaan diri, dan harapan baru bersama AstraPay.

google-preference
Kata Kunci / Tags

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....