Ketika JKN Hadir di Pelosok Papua
- 27 Mei 2026 12:19 WIB
- Merauke
RRI.CO.ID, Merauke : "Kejar... kejar...!" teriak anak-anak Suku Dani sambil berlari di halaman honai.
Gelak tawa mereka menggema di Lembah Baliem, Distrik Kurulu, Kabupaten Jayawijaya, Papua Pegunungan.
Dunia mengenal Suku Dani pada 23 Juni 1938, saat ekspedisi Richard Archbold dari Amerika Serikat menemukan lembah yang tersembunyi di balik Pegunungan Jayawijaya.
Hingga kini, warisan leluhur tetap hidup, mulai dari koteka, tradisi bakar batu, hingga potong jari sebagai simbol duka.
Di Kampung Jiwika, empat mumi, yakni Jiwika, Pumo, Araboda, dan Aikima, masih menjadi saksi perjalanan panjang masyarakat Dani.
Namun, ada kisah tentang keluarga yang kehilangan orang tercinta bukan karena perang suku, melainkan karena sulit menjangkau layanan kesehatan.

Pelukan Terakhir
Merry Mabel masih mengingat malam ketika anaknya mendadak lemas akibat demam tinggi.
Ia hanya mampu mengompres tubuh kecil itu sambil berharap panasnya turun.
Namun pagi membawa kenyataan pahit.
Ia tak punya uang untuk membawa anaknya berobat.
Di pangkuannya, napas kecil itu akhirnya berhenti.
"Sa tidak bisa bawa anak berobat karena tidak ada uang," ujar Merry dengan suara bergetar.
Rasa bersalah itu tak pernah hilang.
Kini, setiap menggenggam kartu JKN, ia hanya bisa membatin, andai kartu ini hadir lebih cepat.

Harapan Tertinggal
Yanto Jikwa tak pernah melupakan perjalanan terakhir bersama ibunya.
Sang ibu digendong menyusuri jalan setapak di pegunungan,
berharap tiba di rumah sakit tepat waktu.
Namun harapan itu pupus.
Ibunya mengembuskan napas terakhir di tengah perjalanan tanpa sempat mendapat pertolongan medis.
"Kalau dulu ada BPJS Kesehatan, mungkin mama masih hidup," ucap Yanto lirih.
Penyesalan itu tak pernah pergi.
Sebab, tak ada perjalanan yang lebih berat daripada mengantar ibu untuk terakhir kalinya.
| Baca juga: Bantuan Renovasi Lapak untuk Mama-Mama Papua |
Dua Nisan
Di halaman rumah Wilem Padwa, dua makam kecil menjadi saksi kehilangan yang tak pernah usai.
Di sanalah kedua anaknya beristirahat untuk selamanya.
Yang pertama meninggal karena malaria, yang kedua akibat infeksi dari luka kecil yang tak sempat diobati.
Bukan karena mereka tak ingin berobat, tetapi karena keluarga itu tak mampu membayar pengobatan.
"Kita tidak mampu bayar dokter," ucap Wilem lirih, menatap pusara kedua buah hatinya.
Kini seluruh keluarganya telah memiliki JKN.
Wilem percaya JKN memberi keluarganya kesempatan berobat sebelum terlambat.

Jantung Harapan
Martha Habol tak pernah membayangkan ayahnya divonis mengidap tumor.
Kabar itu membuat harapan keluarganya seolah runtuh.
Yang mereka takutkan bukan hanya kehilangan sang ayah, tetapi juga biaya pengobatan yang tak sanggup mereka tanggung.
"Untung ada JKN," ucap Martha lirih.
Di tengah keputusasaan, JKN membuka harapan agar sang ayah dapat menjalani pemeriksaan dan pengobatan.
Melawan Kematian
Feri Kabes dibesarkan oleh neneknya, sosok yang menggantikan kasih sayang orang tua sejak kecil.
Suatu hari, dokter memvonis sang nenek mengidap kanker.
Keluarga bukan hanya takut kehilangannya, tetapi juga tak mampu membiayai pengobatan.
"Kalau bayar sendiri, kita tidak mampu," ujar Feri menahan tangis.
JKN menjadi jalan agar neneknya dapat menjalani pemeriksaan dan terapi.
Kini, Feri tak lagi khawatir akan biaya berobat neneknya.

Menjemput Harapan
Yulius Balom masih mengingat wajah-wajah warga yang hanya menggeleng saat ditanya, "Sudah punya JKN?"
Bukan karena menolak, tetapi karena belum tahu cara mendapatkannya.
Sebagai Agen PESIAR BPJS Kesehatan Cabang Wamena, Yulius mendatangi honai ke honai di Distrik Kurulu, membantu warga Suku Dani mengurus kepesertaan JKN yang iurannya ditanggung pemerintah.
"Dulu orang takut sakit. Kini mereka punya JKN," ujar Yulius.
Kini, hampir seluruh warga Suku Dani di Distrik Kurulu telah memiliki JKN.
Bagi mereka, JKN membuka jalan menuju layanan kesehatan tanpa dibayangi biaya.
Harapan Baru
Dulu, bagi banyak keluarga di Distrik Kurulu, sakit berarti pasrah.
Mereka bertahan di honai karena tak mampu membayar pengobatan.
Kini, sekitar 90 persen dari 1.186 jiwa penduduk Kurulu telah menjadi peserta JKN, sebagian besar melalui PBI yang iurannya ditanggung pemerintah.
Kepala Distrik Kurulu Natalis Sorabut mengatakan, warga kini tak lagi menunggu penyakit parah untuk berobat.
"Orang sakit kini berani berobat karena punya JKN," ujarnya.
Di tanah yang pernah dipenuhi kisah kehilangan, JKN menghadirkan harapan baru bagi masyarakat Kurulu.
Janji Pemerintah
Tak ada orang tua yang ingin kehilangan anak, begitu pula anak yang kehilangan orang tuanya karena biaya berobat.
Harapan itu menjadi komitmen Bupati Jayawijaya, Atenius Murip, untuk memastikan seluruh warga memiliki jaminan kesehatan, baik di lembah maupun pegunungan.
"Kami ingin seluruh warga terlindungi BPJS Kesehatan," ujarnya.
Dengan 278.107 jiwa penduduk, Pemkab Jayawijaya menargetkan kepesertaan JKN mencapai 100 persen agar tak ada lagi kisah kehilangan karena biaya berobat.
Menembus Pegunungan
Di balik pegunungan Jayawijaya, perluasan JKN terus menjangkau masyarakat adat di wilayah yang sulit mengakses layanan kesehatan.
Kepala BPJS Kesehatan Cabang Wamena, Gregorius D. Kapiatan, memastikan dukungan agar seluruh warga memperoleh jaminan kesehatan.
"BPJS Kesehatan akan terus melayani masyarakat," ujarnya.
Hingga kini, 196.821 jiwa masyarakat Jayawijaya telah menjadi peserta JKN, terdiri atas 143.924 jiwa peserta PBI APBN, 19.903 jiwa peserta PBI APBD, dan 13.959 jiwa peserta ASN.
Capaian Universal Health Coverage (UHC) hampir 98 persen, sehingga semakin banyak warga dapat berobat tanpa dihantui biaya.

Gotong Royong
Semangat gotong royong menjadi fondasi JKN.
Direktur Utama BPJS Kesehatan, Prihati Pujowaskito, menegaskan setiap warga berhak memperoleh pelayanan kesehatan tanpa terkendala biaya.
"JKN memberi kesempatan yang sama untuk memperoleh pelayanan kesehatan," ujarnya.
Hingga kini, JKN telah melindungi 282,7 juta jiwa atau 98,62 persen penduduk Indonesia.
Layanan ini didukung 1 kantor pusat, 12 kantor kedeputian wilayah, 126 kantor cabang, 387 kantor kabupaten/kota, dan 10.214 pegawai.
BPJS Kesehatan menghadirkan 30.317 titik layanan BPJS Keliling dengan 698.227 transaksi, 265 Mall Pelayanan Publik dengan 736.268 transaksi, serta 6.281 Agen PESIAR dan 1.171 Kader JKN.
Jaringan pelayanan diperkuat 23.770 fasilitas kesehatan tingkat pertama, 3.194 fasilitas kesehatan rujukan tingkat lanjutan, dan 6.190 fasilitas kesehatan penunjang di seluruh Indonesia.

Prestasi Internasional
Komitmen BPJS Kesehatan menghadirkan pelayanan yang semakin baik tidak hanya dirasakan peserta Program JKN, tetapi juga diakui dunia.
Pada Kamis (13/11/2025), BPJS Kesehatan meraih penghargaan Best Employee Driven Customer Experience dalam ajang International Customer Experience Awards (ICXA) di London.
Penghargaan itu menjadi bukti komitmen Duta BPJS Kesehatan memberikan pelayanan yang berintegritas, profesional, dan berorientasi pada kebutuhan peserta hingga mengantarkan BPJS Kesehatan meraih apresiasi dunia.
Doa Senja
Senja turun di Lembah Baliem.
Asap tungku bakar batu perlahan naik melewati honai di antara pegunungan yang diselimuti kabut.
Di beranda rumahnya, Merry Mabel lirih menyanyikan lagu "Untuk Kita Renungkan" karya Ebiet G. Ade.
"Kita mesti telanjang dan benar-benar bersih..."
Bait itu menjadi suara hati seorang ibu yang kehilangan anak, tetapi tetap percaya harapan masih ada bagi keluarga lain di tanah Baliem.
Merry tahu anaknya tak akan kembali.
Namun ia berharap, tak ada lagi ibu yang kehilangan buah hati karena terlambat mendapat pertolongan.
Di lembah yang dikenal dengan koteka, bakar batu, potong jari, dan mumi leluhur, kini tumbuh harapan baru.
Bukan lagi tentang kehilangan, melainkan harapan yang menjangkau pegunungan paling sunyi.
Harapan itu bernama BPJS Kesehatan.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....