Suara Adzan dari Gudang Arang Merauke

  • 30 Apr 2026 07:21 WIB
  •  Merauke

RRI.CO.ID, Merauke : Fajar belum sepenuhnya pecah di langit Gudang Arang, Merauke. Udara masih dingin, sunyi menyelimuti kawasan itu. Di antara rumah-rumah sederhana yang masih terlelap, satu suara perlahan memecah keheningan, lantunan adzan yang mengalun tenang dari sebuah masjid di Gudang Arang.

Suara itu milik Tri Prasetyo Sugestiawan.

Di usianya yang baru 20 tahun, Tri telah menjadi bagian tak terpisahkan dari denyut kehidupan masjid di Gudang Arang, Merauke. Ia adalah muadzin—panggilan yang mungkin terdengar sederhana, tetapi bagi Tri, itu adalah jalan hidup yang ia pilih dengan sepenuh hati.

Setiap hari, sebelum banyak orang terbangun, Tri sudah lebih dulu berada di masjid. Langkahnya pelan, tapi pasti. Ia menyalakan lampu, memastikan semuanya siap, lalu berdiri untuk mengumandangkan adzan.

“Kalau sudah adzan, rasanya hati jadi tenang. Seperti ada yang memanggil juga dari dalam diri,” ujar Tri.

Hidup tidak pernah benar-benar mudah baginya. Ia adalah seorang anak yatim piatu. Sejak kecil, ia belajar menjalani hidup tanpa kehadiran kedua orang tua. Masjid kemudian menjadi tempatnya pulang, ruang yang memberinya ketenangan, sekaligus tempat ia tumbuh.

Sebagian masa mudanya ia habiskan di sana. Selain menjadi muadzin, ia juga kerap membantu sebagai marbot, membersihkan masjid, merapikan sajadah, hingga memastikan jamaah merasa nyaman saat beribadah.

Namun kehidupan tetap harus berjalan. Di luar masjid, Tri juga berjuang memenuhi kebutuhan hidupnya.

Sesekali, ia pergi ke Sungai Maro. Dengan peralatan sederhana, ia menangkap ikan. Hasil tangkapannya kemudian ia jual untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari.

“Kalau lagi tidak ada kegiatan di masjid, saya pergi cari ikan. Lumayan untuk tambahan,” katanya.

Tak banyak yang ia keluhkan. Hidup yang dijalani dengan keterbatasan justru membuatnya lebih kuat. Ia belajar menerima, sekaligus terus berusaha.

Bagi jamaah, suara adzan Tri bukan sekadar penanda waktu salat. Ia telah menjadi bagian dari keseharian yang dirindukan di Gudang Arang, Merauke.

Indra Alsian Mauw, salah satu jamaah masjid, mengaku sudah terbiasa mendengar suara Tri setiap hari.

“Adzannya itu khas. Tenang, enak didengar. Kalau tidak dengar, rasanya seperti ada yang kurang,” ujar Indra.

Menurutnya, sosok Tri juga dikenal sebagai pemuda yang sederhana dan rajin.

“Dia sering bantu di masjid. Anak baik, tidak banyak bicara, tapi selalu ada,” tambahnya.

Di tengah kehidupan yang tak selalu berpihak, Tri memilih jalan yang mungkin tak banyak dilirik anak muda seusianya. Ia tidak mengejar gemerlap dunia, tidak pula larut dalam hiruk-pikuk yang sering memikat.

Ia memilih masjid di Gudang Arang, Merauke.

Di tempat itu, ia menemukan arti hidup, tentang kesabaran, tentang ketulusan, dan tentang bagaimana tetap berdiri meski kehilangan banyak hal sejak awal.

Suara adzan yang ia kumandangkan setiap hari bukan hanya panggilan untuk salat. Ia adalah gema dari perjalanan hidup seorang anak yatim piatu yang belajar bertahan, berharap, dan tetap percaya.

Di Gudang Arang, Merauke, ketika langit mulai terang dan orang-orang perlahan terbangun, suara Tri akan selalu ada, mengalun lembut, mengisi ruang-ruang sunyi, dan mengingatkan bahwa di balik setiap panggilan, ada cerita tentang iman dan perjuangan yang tak pernah padam.

google-preference
Kata Kunci / Tags

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....