Menanti Sekolah Rakyat di Ujung Timur

  • 18 Okt 2025 10:20 WIB
  •  Merauke

KBRN, Merauke : Pagi selalu datang lebih awal di Merauke. Di tanah paling timur Indonesia itu, matahari muncul perlahan di balik deretan kelapa yang bergoyang lembut tertiup angin laut Arafura. Udara masih dingin, tapi cahaya jingga yang menembus awan seolah membawa kabar baru, tentang sebuah harapan yang sebentar lagi akan lahir.

Di Jalan Kamizaun, Mopah, sebuah bangunan sekolah berdiri di tengah halaman luas. Dulu, bangunan itu hanyalah SMK Negeri 2 Merauke, sekolah biasa yang sempat sepi setelah beberapa kelas kosong karena kekurangan siswa. Kini, bangunan itu berubah. Cat baru melapisi dinding yang dulu pudar. Jendela-jendela tua diganti dengan kaca yang berkilau memantulkan sinar mentari pagi. Dari setiap ruang, aroma kayu baru tercium, dari lemari, dari ranjang-ranjang yang tersusun di kamar asrama, dari pintu-pintu baru yang belum sempat digerakkan oleh tangan anak-anak kecil.

Di sinilah, Sekolah Rakyat Program Presiden Prabowo Subianto akan lahir. Sekolah rakyat itu belum dibuka. Tapi denyutnya sudah terasa di seluruh Merauke. Pemerintah sedang menyiapkan segalanya untuk menyambut anak-anak dari keluarga termiskin di wilayah ini, anak-anak dari desil 1 dan 2, yang hidup di bawah garis kemiskinan. Tidak ada proses pendaftaran. Negara yang akan datang menjemput mereka, langsung dari kampung-kampung terpencil, dari tepian rawa, dari dusun yang bahkan belum tersentuh sinyal.

Baca juga : Makan Bergizi Gratis, Cahaya Baru Anak Papua


Saya Tidak Pernah Pikir Bisa Sekolah Lagi

Distrik Kurik, sekitar satu jam dari pusat Merauke, seorang anak kecil duduk di tangga rumah panggung dari papan. Namanya Maria, umur sebelas tahun. Matanya lebar dan jernih, tapi menyimpan sesuatu yang lama: kerinduan untuk sekolah.

“Ayah sudah meninggal waktu saya masih kecil,” katanya pelan. “Mama jual pinang di pasar. Uangnya cuma cukup beli beras dan ikan asin.”

Maria dulu sempat berhenti sekolah karena jarak dan biaya. Tapi suatu sore, petugas dari distrik datang membawa kabar bahwa pemerintah akan merekrut anak-anak miskin untuk sekolah gratis di kota. “Saya kira mama bercanda,” katanya. “Saya tidak percaya kalau ada sekolah yang bisa kasih semuanya.”

Ketika ibunya menunjukkan foto asrama baru yang direhab, Maria hanya terdiam. “Kata mama, saya nanti tidur di kasur baru, pakai bantal, dan makan tiga kali sehari. Saya belum pernah punya bantal sendiri,” ujarnya pelan. “Kalau nanti saya sekolah, saya mau belajar sungguh-sungguh. Saya mau jadi guru, supaya anak-anak di kampung saya bisa sekolah juga.”


Anak Saya Akan Dapat Kesempatan Yang Tak Pernah Saya Dapat

Veronika duduk di depan rumah, menatap ke arah ladang singkong yang gersang. Angin sore meniup rambutnya yang sudah beruban. “Saya hanya ingin anak saya bisa hidup lebih baik dari saya,” katanya sambil tersenyum kecil. “Saya tidak bisa baca, tapi saya mau dia bisa tulis nama sendiri.”

Ia menatap jalan tanah yang sepi di depan rumahnya. “Ketika petugas bilang anak saya dipilih untuk sekolah rakyat, saya menangis. Saya pikir cuma orang kaya yang bisa sekolah jauh. Tapi sekarang pemerintah datang sendiri cari anak-anak seperti kami. Ini pertama kali saya merasa negara datang ke rumah.”

Saya Mau Lihat Komputer

Darius hidup di pinggiran rawa di Kampung Wasur. Rumahnya kecil, berdiri di atas papan-papan tua yang nyaris lapuk. Sehari-hari, ia membantu ibunya mencari ikan di kali, menjemur hasil tangkapan di depan rumah.

Ketika mendengar namanya masuk dalam daftar calon siswa, Darius langsung terdiam. “Saya mau lihat komputer,” katanya malu-malu. “Saya belum pernah lihat langsung. Saya cuma lihat di HP orang.”

Ia tertawa kecil, menatap tangannya yang kotor karena lumpur. “Saya mau belajar tulis nama di komputer. Terus saya mau kirim surat lewat internet ke teman-teman kalau saya sudah bisa.”

Ibunya menatap anak itu dengan mata lembut. “Dia tidak banyak bicara, tapi saya tahu dia senang sekali,” ujarnya. “Dia bilang mau jadi orang pintar biar bisa bantu kampung.”

Darius salah satu calon peserta Sekolah Rakyat di Kabupaten Merauke. (Foto RRI)


Saya Tidak Tahu Seperti Apa Asrama

Yohana tinggal di Tanah Miring, kampung kecil yang berjarak setengah jam dari kota Merauke. Jalannya berlumpur, sinyal sering hilang. Ia belum pernah keluar dari kampungnya. Tapi tahun ini, namanya ada di daftar anak-anak yang akan dijemput untuk sekolah rakyat.

“Kata kepala kampung, nanti saya tinggal di asrama,” ujarnya. “Saya tidak tahu seperti apa asrama itu. Tapi katanya ada tempat tidur, selimut, bantal, dan makan tiga kali sehari. Saya belum pernah makan tiga kali sehari.”

Ibunya, yang duduk di samping, mengangguk pelan. “Saya lihat foto sekolahnya dari HP kepala kampung. Bagus sekali,” katanya. “Anak saya sering bilang mau jadi perawat. Kalau sekolah itu jadi, mungkin Tuhan dengar doanya.”

Fasiltas lab komputer yang akan di nikmati siswa Sekolah Rakyat di Kabupaten Merauke. (Foto RRI)


Saya Mau Belajar Supaya Bisa Ubah Hidup Kami

Di perbatasan Sota, rumah Petrus berdiri di antara pepohonan kering. Ia biasa berjalan kaki untuk sekolah dasar, tapi gedungnya kini sudah rusak parah.

Ketika tim pemerintah datang mendata anak-anak miskin, Petrus sempat bingung. “Saya kira mereka mau kasih bantuan makanan,” katanya. “Ternyata saya disuruh siap-siap sekolah di kota.”

Petrus tersenyum kecil. “Saya mau sekolah supaya bisa ubah hidup kami. Saya mau jadi guru atau polisi. Biar saya bisa bantu orang kampung.”

Ibunya menatapnya lama. “Dia anak satu-satunya yang masih sekolah. Kalau nanti dia berangkat, rumah ini akan sepi. Tapi saya bahagia,” katanya sambil menyeka air mata.


Saya Mau Banggakan Mama dan Papa

Elena kehilangan ayahnya dua tahun lalu karena malaria. Ibunya bekerja di kebun setiap hari. Mereka tinggal di gubuk kecil beratap daun sagu.

Ketika mendengar kabar ada sekolah gratis yang akan menjemput anak-anak miskin, ibunya menangis. “Saya pikir ini cuma janji,” kata sang ibu. “Tapi sekarang saya lihat orang-orang pemerintah datang benar. Mereka tanya nama anak saya, tanya umur, dan bilang nanti akan sekolah di kota.”

Elena memeluk ibunya erat. “Mama bilang ini berkat dari Tuhan. Saya mau sekolah, mau belajar baik-baik, supaya mama bisa tersenyum,” ujarnya. “Saya mau banggakan mama dan papa di surga.”

Sekolah Rakyat: Memutus Rantai Kemiskinan dari Merauke

Sekolah Rakyat Terintegrasi 77 Merauke tingkat SD dan SMP di Kabupaten Merauke, Papua Selatan, dijadwalkan akan mulai beroperasi pada 27 Oktober 2025. Tahapan awal akan diawali dengan kegiatan Masa Pengenalan Lingkungan Asrama dan Sekolah (MPLS) bagi para calon peserta didik.

Kepala Sekolah Rakyat Terintegrasi 77 Merauke, Budi Sutomo, kepada RRI mengatakan bahwa sekolah rakyat merupakan impian Presiden RI Prabowo Subianto dengan tujuan utama memutus mata rantai kemiskinan di Indonesia. Sekolah ini berada di bawah naungan Kementerian Sosial Republik Indonesia.

“Sekolah rakyat ini akan menampung seratus siswa pada tahap pertama, lima puluh untuk jenjang SD dan lima puluh untuk jenjang SMP. Kami tidak membuka pendaftaran seperti sekolah pada umumnya, karena siswa yang terdaftar berasal dari keluarga Desil 1 dan Desil 2, yaitu kategori miskin dan miskin ekstrem,” ujarnya.

Budi menjelaskan, seluruh data siswa diambil by name by address dari Dinas Sosial.

“Apabila dalam keluarga miskin ada anak yang tidak sekolah atau putus sekolah, maka mereka akan dijemput oleh pendamping PKH Dinas Sosial dan langsung kami asramakan. Jadi siswa 100 ini nanti bersama para guru juga tinggal di asrama. Ada asrama siswa, ada asrama guru,” jelasnya.

Pola pengasuhan di sekolah rakyat dibagi dalam dua shift, pagi hingga sore siswa belajar bersama tenaga pengajar, sementara sore hingga pagi diasuh oleh wali asrama dan wali asuh dari Dinas Sosial Kabupaten Merauke.

“Untuk hilirisasi, setelah lulus SD dan SMP, anak-anak ini akan diarahkan melanjutkan pendidikan ke SMA bahkan kuliah secara gratis. Asrama gratis, pendidikan gratis, seperti tujuan Presiden dan Menteri Sosial, yaitu memutus rantai kemiskinan. Kalau anak-anak miskin ini diberi kesempatan sekolah dan kuliah, maka mereka bisa bekerja dengan layak dan martabat keluarganya akan terangkat,” katanya.

Menurutnya, sekolah rakyat sama seperti sekolah lain dari sisi kurikulum, tetapi berbeda dari sisi peserta didik yang seluruhnya berasal dari keluarga miskin.

“Kalau ada yang bukan dari Desil 1 atau 2 masuk, itu pelanggaran hukum. Karena hak ini hanya untuk anak-anak dari keluarga paling miskin,” tegasnya.

Terkait sistem pembelajaran, Sekolah Rakyat menggunakan metode MEME (Multi Entry Multi Exit).

“Artinya, kapanpun mereka masuk boleh, dan kapanpun mereka naik kelas juga boleh. Anak-anak belajar satu laptop satu anak berbasis Learning Management System (LMS), aplikasi hibah dari Lembaga Al-Hikmah Surabaya,” jelasnya.

“Jadi anak-anak belajar membaca dan menulis secara mandiri di asrama. Kalau sudah dianggap layak naik kelas, mereka akan dinaikkan.”

Untuk tahap awal, jenjang SD dibuka dari kelas 1 hingga kelas 5, dan jenjang SMP dari kelas 7 hingga kelas 8. Tenaga pendidiknya merupakan guru P3K yang diseleksi oleh Kementerian Sosial.

“Penjemputan siswa dijadwalkan 25 Oktober 2025 dari kampung-kampung seperti Domande, Baidup, dan Sota. Anak-anak akan langsung kami asramakan. Besoknya, 27 Oktober, di hari pertama sekolah, akan dilakukan pemeriksaan kesehatan gratis untuk mengetahui kondisi mereka. Setelah itu, dua minggu pertama kami gunakan untuk MPLS, minggu pertama tentang kehidupan di asrama, minggu kedua tentang kurikulum,” tutur Budi.

Untuk saat ini, Sekolah Rakyat Terintegrasi 77 Merauke masih berlokasi di Jalan Kamizaun, Mopah, menggunakan gedung SMK Negeri 2 Merauke yang sudah direnovasi total. Ke depan, sekolah ini akan dibangun permanen di Katapal, tepat di depan Wisma Atlet, di atas lahan seluas 10 hektare.

“Di sana nanti akan ada asrama guru dan asrama siswa, dengan kapasitas bisa mencapai seribu anak Desil 1 dan 2. Tapi untuk rintisan ini, kami mulai dulu dengan seratus anak. Doakan semoga lancar,” ujarnya penuh harap.

Kepala Sekolah Rakyat terintegrasi 77 Merauke Budi Sutomo ketika di wawancarai RRI. (Foto RRI)

Menyiapkan Sekolah dengan Cinta

Program Sekolah Rakyat, sebuah gagasan dari Presiden Prabowo Subianto untuk memutus rantai kemiskinan melalui pendidikan, mulai berjalan pada tahun ajaran 2025/2026.

Di Merauke, pemerintah daerah menindaklanjuti program tersebut dengan menetapkan SMK Negeri 2 Merauke sebagai lokasi pendukung, setelah dilakukan pemetaan satuan pendidikan.

Kepala Dinas Pendidikan Kabupaten Merauke, Romanus Kande Kahol, menyebut pemilihan SMK Negeri 2 bukan tanpa alasan. “Peminat di sekolah itu sudah sangat menurun, sementara bangunannya besar dan banyak yang dibangun dengan uang negara tapi belum difungsikan,” ujarnya.

Romanus menjelaskan, keputusan ini diambil atas perintah Bupati dan Wakil Bupati Merauke untuk mempercepat kesiapan sekolah rakyat. “Tim dari Kementerian PUPR sudah turun langsung ke lapangan menilai kondisi gedung. Ada lima bangunan yang direhab penuh, dan dua di antaranya sudah selesai,” katanya.

Ia menambahkan, progres ini menunjukkan keseriusan pemerintah daerah dalam menyambut program nasional tersebut. “Kami tidak hanya menyiapkan gedung, tapi juga calon kepala sekolah, guru, hingga fasilitas pembelajaran. Kami ingin memastikan ketika anak-anak itu datang, mereka langsung disambut dengan layak, dengan tempat tidur bersih, makanan cukup, dan suasana penuh kasih,” tuturnya dengan nada lirih.

Romanus menatap halaman sekolah yang kini bersih dan rapi. “Kalau nanti mereka tertawa di halaman ini, saya rasa itulah hadiah terbesar bagi kami semua,” katanya.

Kepala Dinas Pendidikan Merauke Romanus Kande Kahol ketika di wawancarai RRI. (Foto RRI)


Kasih Negara di Tanah Paling Timur

Tokoh masyarakat Papua, Kasimirus Gebze, mengatakan bahwa rencana hadirnya sekolah rakyat ini adalah langkah besar yang akan mengubah wajah pendidikan di Merauke.

“Selama ini anak-anak di kampung kami belajar dengan papan tulis yang hampir jatuh, kursi rusak, dan buku bekas. Tapi mereka tetap datang setiap pagi,” katanya. “Sekarang pemerintah datang mencari mereka. Bukan mereka yang datang mencari sekolah.”

Ia menatap bangunan SMK Negeri 2 Merauke yang kini bersih dan baru. “Saya masuk ke sana minggu lalu. Dindingnya putih, tempat tidurnya baru, ruang komputernya sudah ada. Saya bayangkan nanti anak-anak itu tidur nyenyak, makan cukup, belajar dengan tenang. Itu mimpi yang sebentar lagi jadi nyata.”

Kasimirus berhenti sejenak. Suaranya melembut. “Sekolah ini bukan sekadar gedung. Ini pesan bahwa negara tidak lupa pada anak-anak di ujung timur.”

Tokoh Masyarakat Papua Selatan Kasimirus Gebze ketika di wawancarai RRI. (Foto RRI)


Fasilitas Baru untuk Harapan Baru

Di tengah kesibukan renovasi di Jalan Kamizaun, deru mesin bor dan suara palu terdengar bersahutan. Di antara para pekerja, ada Bobby Setiawan, anggota tim perakitan fasilitas Sekolah Rakyat Terintegrasi 77 Merauke. Keringat menetes di wajahnya, tapi senyum tak pernah lepas dari bibirnya.

“Saya lihat sendiri bagaimana setiap ruang dibangun ulang dengan cinta,” kata Bobby, matanya berbinar. “Dulu bangunannya tampak kusam, tapi sekarang semuanya berubah. Dindingnya bersih, catnya baru, toilet dibangun ulang dengan air mengalir lancar, ada kipas angin di setiap ruang, dan lampu-lampu baru yang terang.”

Ia menunjuk ke arah asrama yang kini tampak megah dan rapi. “Setiap anak akan tidur di tempat tidur baru, lengkap dengan kasur empuk, bantal, dan guling bersih. Di sisi ranjang mereka ada lemari kecil untuk menyimpan pakaian, dan di setiap kamar juga disediakan meja belajar baru. Kami ingin anak-anak merasa nyaman, seperti di rumah sendiri,” ujarnya.

Di ruang belajar, Bobby memperlihatkan deretan meja dan kursi kayu berlapis pernis, tersusun rapi. “Semua ini baru. Kami pasang dengan tangan kami sendiri,” katanya bangga. “Anak-anak nanti tidak hanya belajar dengan buku, tapi juga dengan laptop. Satu anak satu laptop, semuanya sudah disiapkan.”

Ia tersenyum saat menunjuk ruangan bersebelahan. “Di sana, laboratorium komputer. Meja-mejanya baru, kursinya kuat, dan colokan listrik disiapkan di setiap meja. Kami bahkan pasang pendingin udara kecil agar mereka tidak kepanasan.”

Bagi Bobby, setiap baut dan papan yang ia pasang memiliki makna tersendiri. “Kami ingin anak-anak itu tahu, mereka berharga. Bahwa mereka pantas belajar di tempat yang bagus,” ujarnya pelan. “Kadang saya berhenti sebentar, lihat ke sekeliling, dan membayangkan nanti anak-anak itu tertawa di sini, mengetik di komputer, atau membaca di meja yang kami buat. Rasanya seperti melihat masa depan yang sedang kami pahat.”

Ia menatap bangunan itu sekali lagi, dengan nada lirih. “Semua fasilitas ini bukan hanya benda. Ini cara kami menyambut mereka dengan kasih. Supaya ketika mereka datang dari kampung jauh, mereka tahu bahwa negara sudah menyiapkan tempat terbaik untuk mereka tumbuh dan bermimpi.”

Fasilitas lab bahasa inggris di Sekolah Rakyat Kabupaten Merauke. (Foto RRI)


Membangun dengan Hati, Bukan Sekadar Tugas

Di antara suara palu dan denting besi, seorang pria muda mengelap keringat di dahinya. Namanya Bobby Setiawan, salah satu pekerja yang sejak awal terlibat dalam perakitan fasilitas sekolah rakyat di Jalan Kamizaun, Mopah. Tangannya penuh luka kecil, tapi matanya memantulkan semangat.

“Saya bukan orang Papua, tapi setiap pukulan palu ini rasanya seperti doa,” ujarnya pelan. “Kami tidak sedang membangun gedung. Kami sedang membangun masa depan.”

Setiap ranjang yang ia pasang, setiap lemari yang ia dirikan, mengandung makna yang tak bisa diukur oleh upah.

“Waktu saya pasang tempat tidur pertama di asrama putra, saya diam lama,” katanya sambil menatap kosong.

“Saya bayangkan anak kecil dari kampung jauh tidur di sini. Dia bangun pagi, belajar, makan, dan tertawa. Saya pikir, mungkin ini salah satu cara saya berterima kasih pada negeri ini.”

Bobby bekerja hingga larut malam. “Capek, iya. Tapi setiap kali lihat bantal, guling, dan lemari tersusun rapi, saya merasa bahagia,” katanya.

“Saya ingin nanti ketika sekolah ini dibuka, semua anak bisa lihat hasil kerja kami, bahwa mereka berharga, dan mereka pantas mendapatkan yang terbaik.”

Ia menunduk, menatap tangan kasarnya. “Kalau nanti ada anak yang bisa baca, bisa tulis, bisa bermimpi lebih tinggi karena sekolah ini… itu sudah cukup buat saya.”

Fasilitas toilet di Sekolah Rakyat Kabupaten Merauke. (Foto RRI)


Harapan Pemerintah Daerah

Bupati Merauke, Yoseph Bladip Gebze, menyebut rencana pembukaan Sekolah Rakyat Program Presiden Prabowo Subianto sebagai bentuk kasih negara kepada rakyatnya.

“Anak-anak dari keluarga miskin tidak perlu lagi merasa terpinggirkan. Pemerintah yang akan datang mengetuk pintu mereka,” katanya. “Dari Merauke, kita ingin tunjukkan bahwa keadilan sosial bukan hanya slogan, tapi tindakan nyata.”

Bupati Yoseph menegaskan, launching sekolah rakyat akan dilaksanakan 27 Oktober 2025. “Hari itu akan jadi sejarah bagi Merauke. Dari tanah ini, harapan baru akan tumbuh, menyala, dan menyebar ke seluruh Indonesia timur,” ujarnya.

Bupati Merauke Yoseph Bladip Gebze ketika di wawancarai RRI. (Foto RRI)


Menunggu Hari Itu Datang

Sore turun perlahan di Mopah. Langit berubah jingga keemasan. Di halaman sekolah yang masih kosong, tukang-tukang bekerja merapikan pagar. Di ruang asrama, tempat tidur sudah tersusun rapi, bantal dan guling menunggu pemiliknya. Di dapur, aroma kayu dan cat masih bercampur, menandakan persiapan yang hampir rampung.

Tak ada suara anak-anak di sana, belum. Tapi udara di sekitar sekolah itu seolah membawa gema masa depan, tawa, langkah kecil, nyanyian dari ruang makan, doa-doa sebelum tidur.

Sekolah rakyat di Merauke belum dibuka, tapi harapannya telah hidup di hati banyak orang. Dari kampung ke kampung, kabar ini membawa air mata bahagia. Anak-anak miskin yang dulu takut bermimpi, kini menatap masa depan dengan keyakinan baru.

Di tanah yang pertama kali disapa matahari, di ujung timur Indonesia, negara sedang belajar untuk benar-benar hadir. Dan di antara ruang kosong yang menunggu suara tawa, harapan itu bersinar terang.

Sekolah Rakyat Program Presiden Prabowo Subianto di Merauke bukan sekadar gedung, bukan sekadar proyek. Ia adalah pengakuan, bahwa setiap anak, sekecil dan sesederhana apa pun kehidupannya, layak dicintai, dididik, dan dibesarkan dengan hormat.

Tanggal 27 Oktober 2025, harapan itu akan lahir. Dan dari ujung timur negeri, cahaya itu akan menerangi seluruh Indonesia.

Rekomendasi Berita