BRICS 2026: Implikasi bagi Dunia Multipolar

  • 25 Jan 2026 14:05 WIB
  •  Medan

RRI.CO.ID, Medan - Menteri Eropa dan Urusan Luar Negeri Prancis, Jean-Noël Barrot baru-baru ini bertemu Menteri Luar Negeri India, S. Jaishankar membahas penguatan multilateralisme global. Dalam pertemuan tersebut, Prancis menyoroti posisinya sebagai Ketua G7 sementara India akan memimpin BRICS pada 2026.

Kedua negara menilai kondisi tersebut membuka peluang strategis memperkuat kerja sama lintas forum internasional secara konstruktif dan inklusif. Presiden Prancis Emmanuel Macron menegaskan pentingnya membangun jembatan antara G7 dan BRICS demi stabilitas global.

Macron menilai BRICS tidak seharusnya bersikap anti-G7 dan sebaliknya G7 juga tidak boleh memusuhi BRICS. Pandangan tersebut mencerminkan pengakuan atas meningkatnya bobot BRICS dalam tatanan dunia yang semakin multipolar.

Situasi global saat ini ditandai menguatnya unilateralisme dan melemahnya kepercayaan terhadap institusi internasional. Tekanan terhadap aliansi transatlantik turut memperkuat urgensi membangun koneksi lintas kawasan dan lintas forum.

India menegaskan BRICS bukan organisasi anti-Barat melainkan alternatif non-Barat yang merepresentasikan aspirasi Global Selatan. Sebagai anggota pendiri BRICS dan QUAD, India menempati posisi unik di dua spektrum geopolitik berbeda.

Pendekatan kebijakan luar negeri India berlandaskan prinsip inklusif Vasudhaiva Kutumbakam yang menempatkan dunia sebagai satu keluarga. Posisi tersebut memungkinkan India berperan sebagai jembatan kredibel antara kepentingan Timur dan Barat.

Kelompok BRICS kini berkembang menjadi sepuluh anggota dengan bergabungnya sejumlah kekuatan menengah dunia. BRICS merepresentasikan hampir setengah populasi global serta sekitar 40 persen produk domestik bruto dunia.

China dan India menjadi motor utama kekuatan ekonomi BRICS dengan pertumbuhan yang masih relatif kuat. India baru-baru ini melampaui Jepang dan menjadi ekonomi terbesar keempat dunia secara global.

BRICS juga mencakup produsen dan konsumen energi utama serta pemilik cadangan mineral strategis dunia. Keberagaman sistem politik dan ekonomi anggota BRICS justru memperkuat bobot diplomatik kelompok tersebut.

Pada 2026, India akan menjadi tuan rumah KTT BRICS dan berbagai pertemuan sektoral penting. Agenda utama BRICS mencakup perdagangan, konektivitas, mata uang, teknologi, pendidikan dan kontra-terorisme.

India mendorong reformasi institusi global termasuk PBB dan Dewan Keamanan agar mencerminkan realitas geopolitik terkini. Selain BRICS, India juga dijadwalkan menjadi tuan rumah KTT QUAD bersama Amerika Serikat, Jepang dan Australia.

Kondisi ini memberi peluang bagi India meluruskan persepsi dan menjembatani kepentingan antar kelompok strategis dunia. Tahun 2026 dipandang sebagai momentum penting bagi India memperkuat multilateralisme di tengah tantangan global.

(Penulis: Anil Trigunayat, mantan Duta Besar India untuk Yordania, Libya, dan Malta, serta saat ini merupakan peneliti kehormatan di lembaga pemikir terkemuka seperti Vivekananda International Foundation dan United Services Institute of India.)

Rekomendasi Berita