Jasa Tukang Foto Keliling Masih di Minati
- 08 Mar 2026 23:48 WIB
- Medan
RRI.CO.ID, Jakarta - Pesatnya perkembangan teknologi kamera pada ponsel pintar, keberadaan fotografer keliling kini semakin jarang ditemui. Namun di kawasan Monumen Nasional (Monas), Jakarta, seorang fotografer keliling bernama Pak Rudi masih setia menawarkan jasa foto kepada para pengunjung, profesi yang telah ia jalani sejak tahun 1980-an.
Pak Rudi, yang kini berusia sekitar 60 tahun, terlihat berjalan di area halaman Monas sambil membawa kamera dan beberapa contoh hasil foto. Ia menghampiri pengunjung yang sedang berwisata, menawarkan jasa untuk mengabadikan momen mereka dengan latar belakang ikon ibu kota tersebut.
“Saya mulai kerja foto keliling sejak tahun 80-an. Waktu itu orang yang punya kamera masih sedikit, jadi banyak yang pakai jasa kami,. awalnya sih saya menjual berbagai jenis minuman ringan dan air mineral di sekitar monas hingga akhirnya tertarik untuk menjadi juru poto tahun 2008” ujar Pak Rudi saat ditemui rri.co.id di kawasan Monas, Minggu, 1 Maret 2026.
Pada masa itu, menurutnya, jasa fotografer keliling sangat diminati. Banyak keluarga yang datang berwisata ke Monas dan ingin membawa pulang foto kenang-kenangan. Setelah mengambil gambar, Pak Rudi biasanya mencetak foto di tempat pencetakan foto yang bekerja sama dengannya, lalu memberikannya kepada pelanggan.
Namun kondisi tersebut mulai berubah ketika kamera digital dan ponsel berkamera semakin mudah dimiliki masyarakat. Banyak pengunjung kini lebih memilih mengambil foto sendiri.
“Sekarang memang tidak seramai dulu. Hampir semua orang sudah punya kamera di handphone. Tapi masih ada juga yang mau difoto,” katanya.
Meski penghasilannya tidak lagi sebesar dulu, Pak Rudi tetap bertahan dengan pekerjaannya. Ia mengaku sudah terbiasa dengan aktivitas tersebut dan merasa senang bisa membantu orang mengabadikan momen saat berkunjung ke Monas.
Dalam sehari, ia biasanya berkeliling sejak pagi hingga sore hari. Jika sedang ramai pengunjung, ia bisa beberapa pelanggan dengan penghasilan sekitar duaraus samapi tigaratus ribu rupiah dalam sehari. Namun jika sepi, ia tetap sabar menunggu kesempatan berikutnya.
Bagi Pak Rudi, pekerjaan ini bukan sekadar sumber penghasilan, tetapi juga bagian dari perjalanan hidupnya selama puluhan tahun. Ia berharap profesi fotografer keliling tetap dikenang sebagai bagian dari warna kehidupan di tempat-tempat wisata seperti Monas.
“Yang penting masih bisa bekerja dan membuat orang punya kenangan dari foto yang saya ambil,” ujarnya.
ketulusan pak Rudi dalam menawarkan jasa potonya menarik perhatian pengunjung asal Bandung, Febrina. Menurut Febrina yang berkunjung ke Monas bersama suami dan ketiga orang anaknya, berfoto menggunakan jasa tukang foto keliling ada keuntungan tersendiri. momen berfoto keluarga tersebut bisa ia bingkai dan di pajang di dinding hingga bisa dilihat dan dikenang kapan saja. berbeda dengan foto menggunakan ponsel pintar yang sewaktu- waktu bisa hilang,atau terhapus.
"walaupun kita sudah punya kamera tersendiri dan bisa foto kapan saja namun bisa saja data hilang atau terhapus. nah dengan adanya jasa foto keliling kita bisa abadikan momen dengan anak-anak dan paling gak bisa berbagilah dengan bapak penjual jasa foto."ujar Febrina.
Kisah Pak Rudi menjadi potret ketekunan seorang pekerja yang tetap bertahan di tengah perubahan zaman, menjaga tradisi fotografi keliling yang pernah menjadi bagian penting dari wisata di Indonesia.