Masjid Lama Gang Bengkok Medan, Jejak Akulturasi Budaya di Pusat Kota
- 08 Mar 2026 11:13 WIB
- Medan
RRI.CO.ID, Medan- Masjid tua di kawasan Kesawan Medan, yakni Masjid Lama Gang Bengkok, menyimpan sejarah panjang tentang berdirinya salah satu rumah ibadah tertua di kota Medan. Selain menjadi tempat ibadah, masjid ini juga dikenal sebagai simbol perpaduan budaya Melayu dan Tionghoa yang telah berlangsungsejak abad ke-19.
Ketua Badan Kemakmuran Masjid (BKM) Masjid Lama Gang Bengkok, Muaz Tanjung, menceritakan awalnya masjid ini didirikan oleh seorang konglomerat Tionghoa di Medan, Tjong A Fie. Setelah selesai dibangun, bangunan masjid kemudian diserahterimakan kepada Sultan melalui proses jual-beli.
“Masjid ini awalnya didirikan oleh Tjong A Fie, seorang konglomerat Cina yang tinggal di kawasan Kesawan. Setelah selesai dibangun, beliau menyerahkannya kepada Sultan melalui proses jual beli, kemudian barulah digunakan sebagai masjid sekitar tahun 1873 pada masa pemerintahan Sultan Ma'mun Al-Rasyid Perkasa Alam,” ujar Muaz.
Setelah masjid diserahkan kepada Sultan Deli, pengelolaan masjid kemudian dipercayakan kepada Sheikh Muhammad Yakub sebagai nazir sekaligus Imam Rawatib. Sementara itu, tanah tempat berdirinya masjid merupakan wakaf dari Datuk Haji Muhammad Ali yang pada masa itu dikenal sebagai Datuk Kesawan.
Menurut Muaz, keunikan masjid ini tidak hanya terletak pada sejarahnya, tetapi juga pada arsitekturnya yang memperlihatkan perpaduan budaya. Bentuk atap masjid menunjukkan pengaruh arsitektur Tionghoa, sedangkan ukiran kayu yang terdapat di bagian luar bangunan merupakan ciri khas ornamen Melayu.

“Kalau kita lihat dari luar, atapnya jelas pengaruh Tionghoa. Tapi di bagian luar di antara tiang-tiang itu ada ukiran kayu lebar bergantung yang merupakan pengaruh budaya Melayu,” kata Muaz.

Di bagian dalam, sebelum dindingnya dilapisi marmer seperti sekarang, terdapat ukiran-ukiran bunga yang diyakini sebagai pengaruh Tionghoa. Beberapa ornamen bunga teratai juga tampak menghiasi bagian tiang, simbol yang kerap hadir dalam seni rupa Cina.

Salah satu keunikan lain dari Masjid Lama Gang Bengkok adalah mimbar kayunya yang cukup tinggi. Muaz menyebut, mimbar tersebut kemungkinan merupakan salah satu mimbar tertinggi di Sumatera Utara yang masih digunakan hingga saat ini.
“Menurut saya, ini mungkin mimbar yang tertinggi di Sumatera Utara. Sampai sekarang masih dipertahankan. Kalau ada papan yang lapuk karena usia, hanya bagian itu saja yang diganti,” ucap Muaz.

Seiring bertambahnya jumlah jamaah, bangunan masjid juga mengalami beberapa kali perluasan. Pada awalnya bangunan utama terpisah dari kamar mandi. Namun setelah beberapa kali penambahan bangunan, fasilitas tersebut kini telah menyatu dengan kompleks masjid.

Di tengah modernisasi Kota Medan, Masjid Lama Gang Bengkok tetap berdiri dengan atap khas, ukiran kayu dan mimbar tinggi yang menjulang. Masjid ini bukan hanya saksi sejarah berdirinya komunitas Muslim di pusat kota, tetapi juga simbol harmoni antara budaya Melayu dan Tionghoa.