Bubur Sup Masjid Ghaudiyah, Simbol Kebersamaan saat Ramadan
- 21 Feb 2026 11:41 WIB
- Medan
RRI.CO.ID, Medan - Tradisi pembagian bubur sup di Masjid Ghaudiyah yang berada di Jalan Zainul Arifin, Kampung Madras, Kota Medan telah berlangsung sejak tahun 1960-an. Tradisi ini menjadi bagian tak terpisahkan dari Ramadan masyarakat India Muslim di Kota Medan.
Ketua Yayasan India Muslim Sumatra Utara (Sumut), Mohammad Sidik Saleh, menyebut tradisi itu diwariskan secara turun-temurun di keluarganya.
“Pembagian bubur ini sudah dimulai sejak kakek saya. Waktu itu beliau menjadi sekretaris, dan bubur pertama kali dimasak di Masjid Jami,” ujarnya, Jumat 20 Februari 2026.
Ia menjelaskan, pada masa awal, proses memasak dilakukan dalam kondisi sederhana. Bangunan masjid saat itu bahkan belum beratap.
“Ruangan pertama yang kami pakai untuk memasak itu belum ada atapnya. Kami masak dengan panci-panci besar, dua atau tiga sekaligus, lalu dibagikan ke masyarakat sekitar,” kata Sidik.
Menurutnya, tradisi tersebut lahir dari semangat kebersamaan komunitas India Muslim yang bermukim di sekitar kawasan itu. Bubur kemudian dibagikan tidak hanya untuk satu masjid, tetapi juga menjangkau beberapa titik lain.
Dalam satu hari selama Ramadan, jumlah porsi yang dibagikan bisa mencapai ratusan. Setiap hari selama bulan suci Ramadan bisa 300 sampai 400 porsi yang mereka siapkan.
"Sekarang ini kami bagikan untuk tiga masjid. Termasuk Masjid Jami di Kebun Bunga, Masjid Ghaudiyah, juga untuk Masjid Ubudiyah,” ucapnya.
Sidik menyebut bubur dipilih bukan tanpa alasan. Selain merupakan masakan khas India, hidangan ini dinilai mampu menjangkau lebih banyak orang dengan biaya yang relatif terjangkau.
“Kalau dibandingkan nasi biryani atau masakan India lainnya, bubur ini jauh lebih ekonomis. Tapi bisa dinikmati banyak orang,” kata Sidik.
Tak hanya bubur sup, teh susu rempah khas India, Chai, juga disediakan untuk jamaah yang akan berbuka di Masjid Ghaudiyah.
“Chai itu seperti teh tarik, tapi ada campuran rempah khusus. Rasanya berbeda, perpaduan antara teh tarik dan bandrek,” ujarnya.
Sidik mengatakan resep bubur sup dan Chai, tetap dipertahankan sejak pertama kali dibuat. Bagi komunitas India Muslim Sumatra Utara, tradisi bubur sup bukan sekadar hidangan berbuka, melainkan simbol kebersamaan dan warisan budaya yang terus dijaga lintas generasi.