Meriam Puntung, Legenda Putri Hijau dan Jejak Sejarah
- 17 Jan 2026 21:52 WIB
- Medan
RRI.CO.ID, Medan - Meriam Puntung berasal dari legenda yang mengiringi runtuhnya Kerajaan Haru (Aru) di kawasan Delitua, Sumatera Utara, pada tahun 1612. Cerita rakyat setempat mengisahkan Putri Hijau, seorang putri dengan kecantikan luar biasa yang diyakini memancarkan aura hijau zamrud dari tubuhnya. Ia hidup bersama dua saudaranya, Mambang Yasid dan Mambang Khayali yang juga dikenal sebagai Mambang Sakti di bawah kekuasaan Kerajaan Haru.
Dikutip dari detikcom, kecantikan Putri Hijau tersohor hingga ke istana Sultan Aceh. Sang sultan kemudian berniat mempersuntingnya. Namun, pinangan tersebut ditolak tegas oleh kedua saudara Putri Hijau. Penolakan itu dilatar belakangi reputasi Sultan Aceh yang dikenal licik dan ambisius. Penolakan tersebut memicu kemarahan, hingga akhirnya Sultan Aceh mengirimkan pasukan besar untuk menyerang Kerajaan Haru.
Kini, Meriam Puntung menjadi saksi bisu dari sejarah awal berdirinya kerajaan Islam di wilayah Kesultanan Deli. Artefak ini berada di dalam kawasan Istana Maimun. Letaknya berada di samping kanan Istana Maimun membuat peninggalan sejarah ini mudah dilihat oleh pengunjung. Disisi bangunan meriam berdiri sebuah tugu kecil yang memuat penjelasan singkat mengenai legenda Meriam Puntung.
“Menurut Hikayat Puyak Melayu Deli, Meriam Puntung merupakan penjelmaan adik Putri Hijau dari Kerajaan Deli Tua bernama Mambang Khayali, yang berubah menjadi meriam untuk mempertahankan istana dari serbuan raja yang pinangannya ditolak oleh Putri Hijau.
Akibat larasnya yang panas karena terus-menerus ditembakkan, meriam tersebut akhirnya pecah menjadi dua bagian. Ujung meriam yang merupakan salah satu bagiannya melayang dan, menurut dongeng, jatuh di Kampung Sukanalu, Kecamatan Barus Jahe, Tanah Karo. Sementara itu, bagian lainnya disimpan di bangunan kecil di sisi kanan Istana Maimun.”