Bara Semangat di Balik Cetakan Besi, Perjuangan Pak Taufiq Melestarikan Kue Sapik
- 05 Mar 2026 13:37 WIB
- Medan
RRI.CO.ID, Medan - Di tengah bisingnya deru mesin kendaraan dan hiruk-pikuk Kota Medan, terselip sebuah kisah perjuangan yang menginspirasi dari seorang pria paruh baya bernama Taufiq Tanjung. Pria asal Sibolga ini memilih untuk merantau ke ibu kota Provinsi Sumatera Utara demi menjemput rezeki. Bukan dengan pekerjaan kantoran, melainkan dengan setia menjajakan kudapan tradisional yang kini mulai langka, yakni kue sapik atau yang lebih dikenal masyarakat luas sebagai kue kipas.
Setiap harinya, Pak Taufiq dapat ditemui di pinggiran trotoar sepanjang Jalan Gatot Subroto, Medan. Bermodalkan mobil pribadi dengan tumpukan toples yang tertata rapi, ia menantang teriknya matahari dan debu jalanan. Keputusannya merantau dari Sibolga ke Medan didasari oleh tekad kuat untuk mengubah nasib, mengandalkan cita rasa kue jadul yang gurih dan renyah sebagai daya tarik utama bagi para pengguna jalan yang melintas.
Kue sapik yang dijual Pak Taufiq ditawarkan dalam berbagai ukuran kemasan untuk menjangkau semua kalangan pembeli. Bagi pelanggan yang ingin berbagi dengan keluarga besar, tersedia toples ukuran besar yang dibanderol seharga 100 ribu rupiah. Sementara itu, untuk ukuran sedang dijual seharga 75 ribu rupiah, dan bagi mereka yang ingin sekadar mencicipi atau menjadikannya camilan ringan, tersedia ukuran toples kecil dengan harga terjangkau, yakni 50 ribu rupiah.
Siapa sangka, ketekunan menjajakan kue di pinggir jalan ini membuahkan hasil yang sangat manis. Meski hanya berjualan di pinggir trotoar, Pak Taufiq mengaku mampu meraup omzet yang terbilang fantastis untuk skala UMKM kaki lima. Dalam sehari, jika kondisi ramai, ia bisa mengantongi pendapatan hingga 1 juta rupiah. Angka ini membuktikan bahwa jajanan tradisional masih memiliki tempat spesial di hati masyarakat Medan di tengah gempuran camilan modern.
Keberhasilan Pak Taufiq tidak lepas dari keramahannya dalam melayani pembeli. Banyak pelanggan yang berhenti sejenak bukan hanya karena rindu akan rasa kue sapik yang autentik, tetapi juga karena kagum akan semangat kerja keras yang terpancar dari sosoknya. Lokasi strategis di Jalan Gatot Subroto menjadikannya mudah dijangkau oleh para pekerja kantor maupun pengendara yang sedang terjebak kemacetan dan ingin membeli buah tangan.
Bagi Pak Taufiq, setiap keping kue sapik yang terjual adalah simbol dari martabat dan kemandirian. Ia tidak memilih untuk menyerah pada keadaan atau mengemis belas kasihan, melainkan memilih jalur usaha yang halal meski harus bersahabat dengan kerasnya kehidupan jalanan. Kisahnya menjadi pengingat bagi banyak orang bahwa peluang rezeki selalu ada di mana saja, asalkan ada kemauan dan ketelatenan dalam menjalaninya.
Kini, sosok Pak Taufiq Tanjung telah menjadi bagian dari dinamika sosial di Jalan Gatot Subroto Medan. Perjuangannya dari Sibolga hingga sukses meraup jutaan rupiah dari berjualan kue jadul memberikan pesan moral yang mendalam bahwa kesuksesan tidak selalu berawal dari modal yang besar, namun bermula dari keberanian untuk memulai dan konsistensi untuk bertahan.