IHSG Anjlok 3,27 Persen, Rupiah Melemah di Tengah Gejolak Global

  • 09 Mar 2026 18:40 WIB
  •  Medan

RRI.CO.ID, Medan - Pengamat Ekonomi Sumata Utara, Gunawan Benjamin, menyebut pasar keuangan domestik mengalami tekanan kuat pada perdagangan Senin, 9 Maret 2026. Ini tercermin dari pelemahan tajam Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) dan nilai tukar rupiah.

“IHSG pada perdagangan hari ini ditutup melemah 3,27 persen di level 7.337. Bahkan sempat terpuruk hingga ke level 7.156 atau turun lebih dari 5 persen selama sesi perdagangan berlangsung,” ujar Gunawan.

Ia menjelaskan, tekanan di pasar saham tidak hanya terjadi di Indonesia. Mayoritas bursa saham di kawasan Asia juga mengalami pelemahan seiring meningkatnya ketidakpastian global.

Sejumlah saham berkapitalisasi besar juga mengalami koreksi tajam. Di antaranya PT Bank Central Asia Tbk, PT Bank Rakyat Indonesia Tbk, PT Bank Mandiri Tbk, PT Bumi Resources Tbk, PT Medco Energi Internasional Tbk, PT Aneka Tambang Tbk, hingga PT Perusahaan Gas Negara Tbk.

Selain pasar saham, tekanan juga terlihat pada nilai tukar rupiah. Mata uang domestik pada perdagangan hari ini ditransaksikan melemah di kisaran Rp16.935 per dolar AS, bahkan sempat menyentuh Rp16.975 per dolar AS.

Di sejumlah sumber transaksi valuta asing, rupiah untuk transaksi bank notes bahkan dilaporkan sudah berada di kisaran Rp17.000 per dolar AS. Gunawan menilai penguatan rupiah yang sempat terjadi pada sesi perdagangan, juga tidak terlepas dari langkah intervensi yang dilakukan oleh Bank Indonesia untuk menahan tekanan nilai tukar.

Menurutnya, lonjakan harga minyak mentah dunia yang kini berada di atas 100 dolar AS per barel menjadi salah satu faktor utama yang memicu tekanan pada pasar keuangan domestik.

“Perang antara Iran dengan Israel maupun Amerika Serikat sejauh ini memicu tekanan besar di pasar keuangan global. Apalagi eskalasinya terus meningkat dan menyerang pusat produksi minyak,” katanya.

Di tengah tekanan di pasar saham dan nilai tukar, harga emas dunia justru mencatatkan kenaikan pada perdagangan sore ini. Harga emas tercatat naik hingga 5.110 dolar AS per ons troy, atau setara kembali mendekati Rp2,8 juta per gram di pasar domestik.

Kenaikan harga emas tersebut dipicu oleh meningkatnya kekhawatiran terhadap inflasi global yang mendorong investor mencari aset lindung nilai. Selain itu, Gunawan mengatakan kabar bahwa People's Bank of China kembali membeli emas untuk meningkatkan cadangan devisanya, juga memberikan sentimen positif bagi pergerakan harga emas dunia untuk sementara waktu.

Rekomendasi Berita