Minyak Tembus $100 per Barel, Anggaran Difokuskan ke Subsidi
- 09 Mar 2026 18:27 WIB
- Medan
RRI.CO.ID, Medan - Pengamat Ekonomi Sumatra Utara (Sumut), Gunawan Benjamin, menilai lonjakan harga minyak mentah dunia yang kini berada di kisaran 110 dolar AS per barel, berpotensi memberikan tekanan besar terhadap perekonomian Indonesia. Khususnya terhadap anggaran negara dan stabilitas nilai tukar rupiah.
“Harga minyak mentah dunia saat ini sudah melonjak sekitar 80 persen dibandingkan awal tahun 2026 yang masih berada di kisaran 61 dolar AS per barel. Kenaikan ini masih dibayangi eskalasi perang yang belum menunjukkan tanda mereda,” ujar Gunawan, Senin 9 Maret 2026.
Menurutnya, lonjakan harga energi global tersebut juga dipicu oleh gangguan distribusi energi dunia. Termasuk penutupan jalur strategis perdagangan minyak di Selat Hormuz yang memperburuk pasokan minyak global.
Gunawan menjelaskan, kenaikan harga minyak mentah akan meningkatkan kebutuhan dolar Amerika Serikat untuk membiayai impor bahan bakar minyak (BBM). Kondisi tersebut pada akhirnya memberi tekanan tambahan terhadap nilai tukar rupiah.
“Kenaikan harga minyak akan memicu lonjakan kebutuhan dolar AS untuk impor BBM. Sehingga Bank Indonesia harus bekerja lebih keras menjaga stabilitas rupiah,” katanya.
Ia menambahkan, Bank Indonesia sebelumnya telah melaporkan penurunan cadangan devisa sebesar 2,7 miliar dolar AS. Sebagian digunakan untuk menjaga stabilitas nilai tukar rupiah di tengah gejolak pasar keuangan global.
Di sisi lain, kenaikan harga minyak mentah dunia juga berpotensi membuat impor BBM dan gas Indonesia membengkak. Hal ini dipicu oleh dua faktor utama, yakni kenaikan harga komoditas energi global dan pelemahan nilai tukar rupiah.
Situasi tersebut dinilai dapat memberikan tekanan serius terhadap Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN). Pemerintah dihadapkan pada pilihan sulit antara mempertahankan subsidi energi atau menaikkan harga BBM bersubsidi.
Gunawan menilai kedua opsi tersebut memiliki konsekuensi besar terhadap kondisi fiskal maupun ekonomi masyarakat. Jika subsidi dipertahankan, beban anggaran negara berpotensi membengkak. Sebaliknya, jika harga BBM dinaikkan, tekanan inflasi bisa meningkat dan daya beli masyarakat terancam.
Dalam kondisi tersebut, pemerintah kemungkinan akan kembali melakukan efisiensi anggaran dengan memangkas sejumlah program yang dinilai bukan prioritas utama. Program makan bergizi gratis (MBG) yang tengah dijalankan pemerintah juga dinilai berpotensi menghadapi tekanan anggaran, apabila konflik global terus berlanjut dan harga energi bertahan tinggi.
Menurut Gunawan, pemerintah akan menghadapi trade-off kebijakan di tengah tekanan ekonomi global yang meningkat. Kebijakan yang dipertahankan kemungkinan akan memaksa pengurangan anggaran pada sektor lain.
Ia memperkirakan tekanan inflasi ke depan juga berpotensi meningkat. Meskipun besarannya akan sangat bergantung pada kebijakan yang diambil pemerintah dalam merespons lonjakan harga energi global.