Harga Minyak Goreng Curah Naik, imbas Dari Kenaikan Harga Minyak Dunia
- 10 Mar 2026 19:55 WIB
- Medan
RRI.CO.ID, Medan - Pengamat ekonomi Universitas Islam Sumatera Utara (UISU), Gunawan Benjamin, menyebut kenaikan harga minyak mentah dunia dalam beberapa waktu terakhir turut memicu penguatan harga komoditas lain, termasuk minyak kelapa sawit atau crude palm oil (CPO).
“Kenaikan harga CPO lebih dikarenakan oleh ekspektasi bahwa lonjakan harga minyak mentah akan mendorong peningkatan penggunaan CPO untuk bio diesel, sehingga permintaan ikut terdorong naik,” ujar Gunawan, Selasa, 10 Maret 2026.
Ia menjelaskan, harga minyak mentah dunia sebelumnya sempat mendekati 120 dolar AS per barel, meskipun pada perdagangan hari ini kembali turun di kisaran 93 dolar AS per barel untuk jenis Brent. Sementara itu harga CPO ikut menguat hingga 4.570 ringgit per ton, naik dari kisaran 4.000 ringgit per ton pada 25 Februari lalu.
Menurut Gunawan, penguatan harga CPO tersebut berdampak langsung terhadap harga produk turunannya di dalam negeri, salah satunya minyak goreng.
Ia mengatakan berdasarkan hasil pemantauan melalui Pusat Informasi Harga Pangan Strategis (PIHPS) di Sumatera Utara, rata-rata harga minyak goreng curah tercatat naik sekitar Rp250 per kilogram pada hari ini. Harga minyak goreng curah di Sumatera Utara naik dari kisaran Rp19.200 menjadi Rp19.450 per kilogram. Bahkan di sejumlah pasar terjadi kenaikan lebih tinggi, yakni dalam rentang Rp500 hingga Rp1.500 per kilogram.
Kenaikan tertinggi tercatat di Pasar Brayan, Kota Medan, serta Pasar Aek Habil di Kota Sibolga yang mencapai sekitar Rp1.500 per kilogram. Sementara kenaikan sekitar Rp500 per kilogram terjadi di Pasar Petisah, Kota Medan.
Gunawan menilai pergerakan harga minyak goreng saat ini lebih banyak dipengaruhi faktor eksternal, terutama dinamika harga komoditas energi global yang terdampak konflik di Timur Tengah.
Ia menjelaskan, kenaikan harga minyak mentah dunia berpotensi meningkatkan permintaan CPO sebagai bahan baku energi alternatif seperti biodiesel, sehingga ikut memengaruhi harga komoditas tersebut di pasar internasional.
Selain itu, permintaan minyak goreng juga biasanya meningkat menjelang Ramadan hingga Idulfitri. Namun menurutnya, lonjakan permintaan paling signifikan biasanya terjadi menjelang Ramadan dan sekitar H-7 hingga Idulfitri.
Gunawan menambahkan, sejauh ini minyak goreng menjadi salah satu komoditas pangan yang paling cepat merespons dinamika harga global akibat konflik di Timur Tengah.