Jemput Bola Demi Sehat Bersama, CKG Lombok Timur Perkuat Deteksi Dini Penyakit

  • 28 Feb 2026 20:59 WIB
  •  Mataram

RRI.CO.ID, Lombok Timur: Pagi itu, suasana di salah satu dusun di Lombok Timur tampak berbeda. Sejumlah petugas kesehatan dengan seragam rapi mendatangi rumah-rumah warga, membawa alat pemeriksaan sederhana namun penuh makna. Mereka bukan datang untuk menangani pasien gawat darurat, melainkan menjalankan misi pencegahan melalui program Cek Kesehatan Gratis (CKG).

Upaya meningkatkan derajat kesehatan masyarakat terus diperkuat Pemerintah Kabupaten Lombok Timur lewat program ini. Jika sebelumnya layanan lebih banyak terpusat di Puskesmas dan menyasar kelompok tertentu, kini pendekatannya berubah jemput bola langsung ke tengah masyarakat.

Kepala Dinas Kesehatan Lombok Timur, Aries Fahrozi, menjelaskan bahwa program CKG kini mengalami perluasan sasaran.

“Sekarang CKG tidak lagi terbatas pada momentum ulang tahun atau hanya untuk anak sekolah, ibu hamil, dan bayi. Masyarakat umum sudah menjadi fokus utama karena regulasi memungkinkan perluasan layanan,” jelasnya Sabtu, 28 Februari 2026.

Ia mengakui, pada tahap awal pelaksanaan sempat berjalan lambat karena adanya penyesuaian aturan. Namun setelah dilakukan pembahasan sejak awal tahun, pelaksanaan CKG kini dinilai jauh lebih optimal.

“Setelah regulasi kita bahas dan sesuaikan, sekarang pelaksanaannya jauh lebih maksimal. Tim turun langsung ke lapangan agar cakupan semakin luas,” ujarnya.

Melalui layanan jemput bola, petugas kesehatan tidak lagi menunggu warga datang ke Puskesmas. Mereka aktif mendatangi lingkungan warga demi menjangkau target satu juta penduduk Lombok Timur. Dari perhitungan sementara, sekitar 36 persen atau lebih dari 500 ribu orang telah menjadi sasaran pemeriksaan, dan angka itu terus digenjot.

Dari hasil pemeriksaan yang telah dilakukan, Dinas Kesehatan menemukan tren yang cukup mengkhawatirkan. Penyakit tidak menular seperti diabetes melitus dan hipertensi menjadi temuan terbanyak.

“Sekarang kita melihat pergeseran pola penyakit. Yang paling banyak terdeteksi justru penyakit tidak menular, terutama diabetes dan hipertensi,” ungkap Aries.

Menurutnya, deteksi dini adalah kunci utama pencegahan. Dengan mengetahui kondisi kesehatan sejak awal, risiko penyakit dapat dikendalikan lebih cepat sebelum berkembang menjadi komplikasi serius.

“Kalau kita tahu lebih awal profil kesehatan kita, maka langkah antisipasi bisa segera dilakukan. Jangan tunggu sampai sakit parah baru datang berobat,” tegasnya.

Ia menambahkan, diabetes dan hipertensi bersifat sistemik karena dapat memengaruhi organ tubuh lain bila tidak dikendalikan sejak dini. Karena itu, selain pemeriksaan, edukasi kesehatan juga menjadi bagian penting dalam setiap kegiatan CKG.

“Kami juga berikan edukasi tentang pola makan, gaya hidup sehat, dan bagaimana mengelola penyakit tidak menular, khususnya diabetes tipe dua yang sangat dipengaruhi pola konsumsi dan kurang aktivitas fisik,” katanya.

Antusiasme masyarakat pun terlihat jelas. Salah satunya Halimah, warga Lombok Timur, yang memanfaatkan layanan tersebut hanya dengan membawa KTP. “Alhamdulillah, prosesnya cepat dan hasilnya bisa langsung diketahui. Jadi kita tahu kondisi kesehatan kita seperti apa,” tuturnya.

Bagi Halimah, program ini sangat membantu masyarakat, terutama mereka yang jarang memeriksakan kesehatan karena kesibukan atau keterbatasan biaya. “Semoga program seperti ini terus ada. Kita jadi bisa cek kesehatan sejak dini dan lebih peduli sama tubuh sendiri,” harapnya.

Melalui pendekatan jemput bola dan perluasan sasaran layanan, Cek Kesehatan Gratis di Lombok Timur bukan sekadar program pemeriksaan rutin. Ia menjadi gerakan membangun kesadaran kolektif bahwa menjaga kesehatan dimulai dari pencegahan. Di balik setiap tensimeter dan alat cek gula darah yang dibawa petugas, tersimpan harapan akan lahirnya masyarakat yang lebih sehat, produktif, dan berdaya.

Rekomendasi Berita