Menjaga Kelestarian Bahasa Ibu, Ayo Literasi
- 24 Feb 2026 10:35 WIB
- Mataram
RRI.CO.ID, Mataram – Perbincangan ringan, sederhana, tetapi substantif begitu saja muncul ketika Praktisi Pendidikan, Pengelola, Media duduk bersama, selingan diskusi, pada acara formal Konsultasi Publik Balai Bahasa NTB yang berikhtiar menjadikan Lembaga Pemerintah ini, memperoleh predikat ZI-WBBM dan WBK, hari Senin, 23 Februari 2026.
Diskusinya ringan sederhana begitu saja muncul permukaan ketika Praktisi dari Foundation Asal NTB, Anggraini melemparkan kegalauan atau kekhawatirannya atas fenomena hilangnya Bahasa Ibu di kalangan anak muda sebagai generasi penerus. Ia sangat ingin belajar Bahasa Sasak Lombok, tetapi lingkungan tempat tinggalnya adalah komunitas Hindu. Komunikasi dengan sesama hanya dengan menggunakan Bahasa Nasional.
Memang diakui, penyampaian pesan dari komunikator kepada komunikan berjalan lancar dan pesannya pun tersampaikan, tapi batinnya bergumam belum terpuaskan karena keinginan yang tertera dalam kepalanya, ingin berkomunikasi dengan Bahasa Ibu Lokal (Sasak Lombok) apalagi lawan bicaranya adalah orang lokal (akar rumput). Kegelisahan itulah yang disampaikan Anggraini kepada kawan yang kebetulan karyawan Balai Bahasa NTB, Ayu asal Jawa Tengah dan Agus Hidayat Lombok Utara.
Diskusi ini mengalir dalam alur satu sudut pandang tentang melestarikan Bahasa Ibu. Ayu juga mengaku jika ia tidak terlalu fasih berbahasa Jawa karena lawan bicaranya adalah orang dengan latar belakang asal, sangat beragam, yakni Lombok, Bima, Sumbawa, Bali dan Sulawesi beserta daerah lainnya di tanah air.
"Jadi bagaimanapun kita berkomunikasi dengan Bahasa Nasional Bahasa Indonesia” kata Ayu yang memaparkan persoalan komunikasi dengan sesama," katanya.
Dari kalangan media, justru mencoba mengalihkan frame berpikir, supaya menggunakan Bahasa Ibu (local Sasaq) bukan semata mengedepankan primordialisme, melainkan memperlihatkan identitas dan keakraban.
”Menggunakan Bahasa Ibu (lokasl) terasa ada kedekatan dan ikatan batin, sehingga kita menjadi lebih dekat dan akrab,” kata Nasrudin berargumen supaya tidak dinilai skeptis dengan Kawan bicaranya.
Nasrudin mencontohkan, saudara dan kawan kita dari Bima justru ketika bertemu sesama asal Bima, mereka berkomunikasi langsung dengan Bahasa Ibu tanpa ada rasa malu, kikuk, atau sikap tidak produktif lainnya. Mereka bangga memperlihatkan bahasa lokalnya tanpa membuat tersinggung kawan yang berbeda asalnya. Ataupun komunitas Bali, menggunakan bahasa daerah ketika bertemu atau berkomunikasi. Menandakan memang Bangsa Indonesia ini kaya dengan bahasa lokal tetapi jangan sampai punah.
Kita ingin seperti itu, kata Anggraini, yang fasih berbahasa Bali, tapi ingin mengerti dan memahami Bahasa Sasaq Lombok. Agus dari Balai Bahasa dan Ayu berkeinginan memfasilitasi masalah ini, supaya keinginan Anggraini terpenuhi dan semakin terjalin persahabatan dengan berbeda etnik, asal usul, adat isiadat dengan harapan saling memperkaya