Ramadhan, Tamu Agung yang Selalu Dirindu

  • 19 Feb 2026 13:36 WIB
  •  Mataram

RRI.CO.ID, Mataram - Setiap tahun umat Islam di seluruh dunia menyambut satu bulan yang kehadirannya selalu dirindukan. Bukan sekadar pergantian waktu dalam kalender hijriah, melainkan momentum spiritual yang menghadirkan harapan, ampunan, dan pembaruan diri.

Bulan itu adalah Ramadan, bulan yang kerap dianalogikan sebagai tamu agung yang paling ditunggu kedatangannya.

Ketua Lembaga Bahstul Masa’il (LBM) Pengurus Wilayah Nahdlatul Ulama (PWNU) Nusa Tenggara Barat, Nuzulul Umam El Mawardy mengungkapkan, Sebagaimana layaknya menyambut tamu terhormat, persiapan dilakukan jauh-jauh hari. Rumah dibersihkan, hati dilapangkan, fisik dikuatkan, dan jiwa diteguhkan.

Persiapan itu bahkan telah dimulai sejak bulan Rajab dan Sya’ban, dua bulan sebelum menjumpai bulan suci Ramadan. Doa yang kerap dipanjatkan pun menggema hampir diseluruh masjid dan mushala di NTB, menggambarkan kerinduan mendalam.

“Dua bulan sebelumnya ini persiapan-persiapan sudah dilakukan. Kemudian ada doa yang viral: Allahumma barik lana fi Rajaba wa Sha'bana wa ballighna Ramadan. Ya Allah berkahi kami di bulan Rajab, berkahi kami di bulan Syaban, wa ballighna Ramadan, dan sampaikan kami, pertemukan kami dengan bulan suci Ramadan,” ujar Nuzulul Umam saat menjadi narsumber dialog di RRI belum lama ini.

Selanjutnya, Nuzulul Umam menjabarkan bahwa berpuasa di bulan suci Ramadan memberikan dampak positif yang signifikan bagi kesehatan fisik atau jasmani. Puasa melatih kedisiplinan dalam pola makan, mengatur waktu konsumsi, serta memberi jeda bagi sistem pencernaan untuk beristirahat dan melakukan proses pemulihan secara alami.

Menurutnya, konsistensi dalam mengatur asupan makanan saat sahur dan berbuka menjadi langkah penting dalam menjaga kesehatan tubuh. Lebih jauh, puasa mengajarkan pola hidup teratur. Ritme makan yang terjadwal, pengendalian diri dari konsumsi berlebihan, serta anjuran untuk memilih makanan yang sehat dan bergizi saat sahur dan berbuka turut berkontribusi pada peningkatan daya tahan tubuh.

"Tentunya kalau fisik, justru Ramadan itu sendiri insyaallah dapat menjadikan fisik kita menjadi sehat, karena Sumu Tasihhu, berpuasalah kalian maka kalian akan sehat. Kenapa seperti itu? Karena memang pola makan kita teratur, kapan waktunya berbuka, kapan waktunya sahur," ucapnya.

Selain itu, Nuzulul Umam menjelaskan bahwa secara batin, puasa Ramadan memiliki nilai ibadah yang sangat luar biasa di sisi Allah SWT. Namun, nilai yang agung tersebut sangat bergantung pada niat seseorang dalam menjalankannya. Puasa bukan sekadar menahan lapar dan dahaga, melainkan sebuah latihan spiritual untuk membersihkan hati, menundukkan hawa nafsu, serta mendekatkan diri kepada Allah SWT.

Apabila niat berpuasa benar-benar karena Allah SWT, semata-mata untuk mencari rida-Nya dan mengharap ampunan-Nya, maka puasa itu akan bernilai tinggi dan menjadi sebab turunnya rahmat. Bahkan, sekadar bergembira menyambut kehadiran bulan Ramadan dengan penuh rasa syukur dan keimanan maka Kegembiraan itu akan menyelamatkan kita dari api neraka.

“Siapa-siapa orang, kata Rasulullah: Man fariha bidukhuli Romadhon kata Rasulullah, Siapa-siapa orang yang bahagia, senang dengan datangnya bulan Ramadhan, maka Akan diharamkan oleh Allah jasadnya berada di atas neraka. Jika kebahagiaannya ini karena kebahagiaan menyambut Ramadan tentunya dengan niatan untuk beribadah kepada kepada Allah," katanya.

Ramadan adalah tamu agung, Ia hadir membawa pesan tentang pengendalian diri, empati terhadap sesama, dan keikhlasan dalam beribadah. Menyambutnya bukan hanya dengan tradisi, tetapi dengan kesiapan lahir dan batin, menjadi bukti bahwa kerinduan itu nyata. Dan ketika bulan suci itu perlahan berlalu, yang tersisa bukan hanya kenangan, melainkan harapan, semoga kita kembali dipertemukan dengan Ramadan selanjutnya.

Rekomendasi Berita