Tugu Pers Mendur Terabaikan, Jasa Pahlawan Foto Dilupakan
- 17 Agt 2025 10:52 WIB
- Manado
KBRN, Manado: Foto-foto hitam putih detik-detik Proklamasi Kemerdekaan Republik Indonesia pada 17 Agustus 1945 menjadi bukti sejarah yang tak tergantikan. Di balik gambar-gambar autentik itu berdiri dua sosok putra Minahasa, Alex Mendur dan Frans Mendur, pionir fotografi jurnalistik Indonesia yang merekam sejarah di tengah keterbatasan dan ancaman penjajah.
Awal mula Mendur bersaudara belajar fotografi dari Anton Najoan sebelum terjun ke dunia jurnalistik. Keberanian mereka mengabadikan momen proklamasi membuat bangsa ini memiliki bukti visual otentik kemerdekaan—tanpa karya mereka, momen monumental itu mungkin hanya tinggal cerita lisan.
Untuk mengenang jasa keduanya, dibangunlah Tugu Pers Mendur di Kelurahan Talikuran, Kecamatan Kawangkoan Utara. Monumen ini diresmikan Presiden ke-6 Susilo Bambang Yudhoyono pada 11 Februari 2013. Di halaman tugu, berdiri sebuah rumah panggung khas Minahasa yang menyimpan ratusan foto karya Mendur bersaudara.
Namun, kondisi bangunan kini memprihatinkan. Kayu rumah panggung dimakan rayap, dinding kusam, dan koleksi foto hanya ditempel seadanya.
“Kami berharap ada perhatian dari pemerintah untuk merenovasi dan memperbesar tempat ini. Koleksi foto sejarah mereka banyak, sementara ruang yang ada tidak memadai,” ujar Pier Mendur, penjaga Tugu Pers Mendur sekaligus keluarga Mendur Bersaudara.
Pengamat sejarah Sulawesi Utara, Yudi Turambi, menegaskan peran vital Frans dan Alex Mendur dalam mendokumentasikan proklamasi kemerdekaan sehingga mereka layak untuk menerima gelar sebagai Pahlawan Nasional.
“Bayangkan kalau saat proklamasi tidak ada foto, generasi sekarang bisa saja menganggapnya hoaks. Kedua tokoh ini layak menjadi pahlawan nasional, tetapi hingga kini belum ada yang serius memperjuangkannya,” kata Turambi.
Pandangan senada disampaikan Tenni Assa, anggota Tim Peneliti Pengkaji Gelar Daerah (TP2GD) Sulut. Ia menilai semua syarat administrasi pengusulan gelar pahlawan nasional bagi Mendur bersaudara harus segera dilengkapi.
“Foto-foto mereka bukan sekadar dokumentasi, tetapi bukti keberanian. Setelah proklamasi, Presiden Soekarno bahkan mempercayakan mereka untuk mengabadikan momen pembangunan pascakemerdekaan. Ini bukti kiprah yang layak diapresiasi,” ujar Tenni Assa.
Karya Mendur bersaudara bukan hanya merekam momen puncak kemerdekaan, tetapi juga atmosfer perjuangan rakyat Indonesia. Foto-foto mereka memiliki nilai historis sekaligus artistik yang tinggi—warisan visual yang menginspirasi generasi penerus untuk terus berkarya dan menghargai sejarah.
Namun, di tengah segala jasa itu, penghargaan negara terhadap mereka masih jauh dari layak. Selain monumen yang terabaikan, gelar pahlawan nasional belum kunjung tersemat. Pertanyaannya, sampai kapan bangsa ini menunda memberikan kehormatan kepada penjaga memori kemerdekaan?