Monggang, Gending untuk Menghormat Tamu

  • 02 Sep 2023 07:32 WIB
  •  Pusat Pemberitaan

BILA Anda berkunjung ke Pura Mangkunegaran di Surakarta pada Sabtu pagi akan mendapat sambutan yang menyejukkan hati. Ya, menyejukkan hati.

Bukan karena ada resepsionis yang ramah, bukan pula karena ada welcome drink segar. Namun karena ada suara gamelan yang mengalun syahdu, menyejukkan hati.

Suara gamelan itu bergema di seantero pendopo dan halaman Pura Mangkunegaran nan eksotik itu. Itulah alunan gending “Monggang” ala Mangkunegaran.

Suara musik tradisional berirama pelan itu ditabuh dari tiga perangkat gamelan yang ditata di sudut tenggara pendopo. Tiga perangkat untuk menghasilkan gending monggang itu adalah: gamelan yang bernama “Corobalen”, “Kodok Ngorek”, dan “Monggang”.

Tiga set itu dimainkan secara bergantian. Mereka yang memainkan sekitar 9-12 niyaga (penabuh gamelan).

Monggang adalah gending yang ditabuh untuk menghormati tamu (Gending Pakurmatan) yang datang ke Pura Mangkunegaran. Ketika gamelan itu ditabuh tanpa diberi aba-aba, para turis yang terus mengalir di bangunan istana abad 18 itu langsung mendekat, mencari dari mana suara gamelan berasal.

Ketiga set gamelan itu pada dasarnya memiliki instrumen yang sama, yaitu Kendang, Bonang, Kenong, Kepanyak, dan Gong. Perangkat gamelan “Corobalen” untuk memainkan gending Gangsaran, Plumpuk, Gagak Kanginan, dan Pisang Bali.

Sebelum para niyaga memainkan gamelan itu, terlebih dahulu membuka penutup atau selimut gamelan. Instrumen gamelan yang pertama ditabuh sebagai intro biasanya Bonang. Pagi itu gamelang dimainkan Suripto, 75 tahun, penabuh gamelan paling senior di Mangkunegaran.

Para niyaga terlebih dahulu memainkan perangkat gamelan “Corobalen”. Tiga lagu (gending) diselesaikan. Setelah itu niyaga berdiri dan pindah ke gamelan “Kodok Ngorek” yang ada di sebelahnya.

Perangkat gamelan “Kodok Ngorek” untuk memainkan gending dengan nama atau judul yang sama, yaitu Kodok Ngorek. “Gending Kodok Ngorek ini biasanya untuk resepsi perkawinan,” kata Suripto, pekan lalu.

Setelah gending “Kodok Ngorek” selesai, niyaga pindah ke perangkat gamelan “Monggang”. Hal itu dilakukan beberapa kali. Perangkat gamelan “Monggang” digunakan untuk mengalunkan gending Monggang.

Selanjutnya, "Hangat di Kalbu"

SURIPTO telah mengabdi di Pura Mangkunegaran sejak masih remaja, sekitar 1962. Pada waktu itu yang berkuasa adalah Kanjeng Gusti Mangkunegoro (MN) VIII, kakek dari Gusti Bhre yang saat ini berkuasa dan bergelar MN X.

Sejak MN VIII itulah gending Monggang sering ditabuh untuk menyambut para tamu atau turis yang berkunjung ke Istana Mangkunegaran. Suripto sendiri telah menabuh gending sejak 1990-an, lebih dari 30 tahun lalu.

Di samping Suripto ada pula dua orang asing yang berasal dari Jepang sebagai niyaga. Mereka adalah dua orang perempuan bernama Kaori Okado dan Kayo Kimura.

Kaori adalah seniman yang selama ini belajar gamelan di Institut Seni Indonesia (ISI) Surakarta. Kaori menuturkan tertarik dengan gamelan Jawa, khususnya gending Monggang, karena merasa tenang dan tenteram ketika memainkan musik ini.

“Alunan gamelan yang ditabuh terasa hangat di kalbu dan menentramkan,” kata Kaori Okada, dalam bahasa Indonesia yang lancar. Apa yang dikatakan kaori dibenarkan Kayo Kimura.

Pura Mangkunegaran adalah istana dari salah satu dinasti Mataram Islam di Jawa Tengah yang saat ini masih eksis. Kerajaan Mataram Islam didirikan Danang Sutowijoyo pada abad ke-17 di Kotagede, selatan Yogyakarta.

Ibu kota Mataram Islam pada abad ke-18 pindah ke Desa Sala, yang sekarang menjadi Kota Solo. Pada 1755 kerajaan itu pecah menjadi dua berdasarkan Perjanjian Giyanti, yaitu kerajaan induk Kasunanan Surakarta dan “sempalannya” Kasultanan Yogyakarta di Yogyakarta.

Dua tahun kemudian Kasunanan Surakarta juga pecah. Pemecahan ini berdasarkan Perjanjian Salatiga 1757, menjadi Kasunanan dan Mangkunegaran.

Ahli seni Karawitan Institut Seni Indonesia (ISI) Surakarta, Sosodoro Jayantoro mengatakan Kasunanan juga memiliki Gamelan Monggang. Secara fisik Monggang tampak sama antara yang digunakan di Kasunanan dan Mangkunegaran.

Gamelan Monggang adalah ansambel kuno yang diperkirakan sudah ada sejak zaman Majapahit. Pada awalnya gamelan monggang digunakan untuk penanda kelahiran anak laki-laki dari raja.

Sekarang di Keraton Kasunanan gamelan Monggang digunakan untuk upacara adat. Misalnya Grebeg Maulud (peringatan kelahiran Nabi Muhammad) dan Tingalan Jumenengan (peringatan raja naik takhta).

“Gamelan monggang yang ada di Mangkunegaran adalah tiruan dari Kasunanan. Kalau di Mangkunegaran hanya untuk menyambut tamu dan dibunyikan tiap Sabtu (Seton),” kata Sosodoro Jayantoro.

Pengunjung (wisatawan) di Pura Mangkunegaran belakangan memang makin ramai. Terutama sejak istana itu digunakan keluarga Presiden Joko Widodo sebagai tempat menggelar pesta “Ngunduh Mantu” (resepsi perkawinan oleh pihak mempelai laki-laki) Kaesang Pangarep yang menikahi Erino Gudono pada 11 Desember 2022.

“Sejak acara Mas Kaesang itu, tamu yang berkunjung ke Mangkunegaran makin banyak,” kata seorang pemandu wisata, tanpa merinci jumlahnya.

Sebelum adzan zuhur berkumandang dari Masjid Al Wustho’ Mangkunegaran, suara gamelan “Monggang” sudah berhenti. Kendati wisatawan masih terus mengalir masuk.

Suripto, Kaori, dan Kimura tampak berbincang sejenak. Setelah itu mereka meninggalkan Pendopo Mangkunegaran yang sejuk itu.

Nah, jika Anda ingin mendengarkan gending Monggang yang menyejukkan hati itu, datanglah pada Sabtu pagi. Tentu saja hanya di Pura Mangkunegaran.


Rekomendasi Berita

Berita Terbaru

Memuat berita terbaru.....