Kembangkan Wisata, Malinau Andalkan Keaslian Budaya dan Alam

  • 22 Apr 2026 15:28 WIB
  •  Malinau
Poin Utama
  • Malinau mengandalkan keaslian budaya dan alam sebagai daya tarik utama wisata, dengan lebih dari 2.000 kunjungan saat libur Lebaran.
  • Ragam wisata tersedia mulai dari hutan, sungai, arung jeram hingga kuliner, serta didukung desa wisata dan partisipasi anak muda.
  • Pelestarian budaya seperti tato alami dan kuping panjang menjadi nilai unik, didukung penguatan SDM dan pembangunan infrastruktur yang menyesuaikan karakter wisata.

RRI.CO.ID, Malinau - Kabupaten Malinau terus mengembangkan sektor pariwisata dengan mengandalkan keaslian budaya dan kekayaan alam sebagai daya tarik utama. Tingginya minat kunjungan, terutama saat libur panjang, menjadi indikator potensi wisata daerah ini di Kalimantan Utara.

Pada periode libur Lebaran Maret 2026, Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kabupaten Malinau mencatat lebih dari 2.000 kunjungan wisatawan di salah satu destinasi andalan, Tana Olen.

Tana Olen tentu bukan satu-satunya destinasi wisata di Malinau. Di pedalaman Sungai Bahau, terdapat arung jeram yang menawarkan petualangan, eksplorasi hutan, hingga wisata kuliner di pinggir sungai kawasan perkotaan yang menjadi pilihan wisata keluarga.

Bupati Malinau, Wempi W Mawa, mengatakan kekuatan utama pariwisata Malinau terletak pada kehidupan masyarakat yang menjunjung tinggi toleransi dan budaya. Hal tersebut terus dijaga melalui berbagai kegiatan dan event yang melibatkan masyarakat adat, seperti Festival Budaya Irau.

“Kita junjung tinggi toleransi dan budaya daerah dan bagaimana masyarakat menjaga kebudayaan melalui event-event yang kita selenggarakan,” ujarnya.

Ia menegaskan, pemerintah daerah bersama masyarakat berkomitmen untuk terus melestarikan budaya sebagai bagian dari daya tarik wisata. Menurutnya, kekuatan wisata tidak hanya terletak pada objek, tetapi juga pada nilai-nilai yang hidup di tengah masyarakat.

Wempi menambahkan, peluang ekonomi dari sektor pariwisata juga terus didorong. “Kita tidak hanya bicara satu jenis wisata, ada budaya, alam, hingga kuliner yang pelakunya banyak dari kalangan anak muda, dan ini membuka peluang ekonomi bagi masyarakat,” ucapnya.

Ia menyebutkan, pemerintah juga telah menyiapkan regulasi bersama pemerintah desa untuk mengembangkan destinasi wisata. Sejumlah desa telah ditetapkan sebagai desa wisata dengan berbagai keunggulan masing-masing.

Malinau juga menawarkan pengalaman wisata berbasis lingkungan, seperti hutan konservasi dan hutan lindung yang masih terjaga. Kehidupan masyarakat adat dengan tradisi yang kuat menjadi nilai tambah yang tidak banyak ditemukan di daerah lain.

“Masih ada masyarakat yang mempertahankan tradisi seperti tato alami dan budaya kuping panjang. Itu menjadi identitas dan kebanggaan mereka,” katanya.

Menurutnya, hal tersebut menjadi keunikan tersendiri yang memperkaya pengalaman wisata di Malinau. Pengembangan pariwisata tidak hanya berfokus pada objek, tetapi juga pada penguatan sumber daya manusia.

Ia menekankan pentingnya kesiapan masyarakat dalam menjaga dan mempertahankan budaya yang menjadi bagian dari daya tarik wisata. Dengan demikian, keberlanjutan pariwisata dapat terus terjaga.

“Yang kita dorong bukan hanya objek wisatanya, tetapi juga bagaimana masyarakat mampu mempertahankan budaya yang melekat pada mereka,” ujarnya.

Fasilitas publik pun terus dibenahi untuk menambah kenyamanan wisatawan. Pemerintah daerah juga terus membenahi sarana dan prasarana untuk mendukung akses menuju destinasi wisata. Pembangunan infrastruktur dilakukan dengan mempertimbangkan karakter dan kebutuhan wisata itu sendiri.

“Tidak semua tempat wisata harus dibangun jalannya. Ada wisata seperti pemandian yang justru membutuhkan jalur trekking alami,” katanya. (Ading)

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru

Memuat berita terbaru.....