Permainan Ketangkasan, Jejak Gasing dalam Budaya Dayak Sa'ban
- 21 Okt 2025 13:32 WIB
- Malinau
KBRN, Malinau : Permainan gasing menjadi salah satu warisan budaya yang masih hidup di tengah masyarakat hingga kini, termasuk di kalangan Suku Dayak Sa’ban. Permainan ini mencerminkan nilai ketangkasan, kekuatan, serta semangat kebersamaan dalam kehidupan masyarakat pedalaman Kalimantan.
Ditemui usai pertunjukan permainan gasing pada rangkaian Festival Irau ke-11 di Malinau, Johnson, Ketua Lembaga Adat Dayak Sa’ban Kabupaten Malinau, menjelaskan bahwa gasing telah dikenal turun-temurun sebagai permainan yang mengasah keahlian dan ketepatan gerak.
“Gasing ini dibuat dari kayu keras atau tanduk binatang, dibentuk menyerupai kerucut agar bisa berputar seimbang. Memainkannya butuh teknik dan keahlian,” tuturnya, Selasa (21/10/2025).
Untuk memutarnya, kata Johnson, para pemain menggunakan tali dari kulit kayu atau daun fak yang dianyam hingga menjadi kuat dan lentur. Panjang tali disesuaikan dengan ukuran gasing, dan cara melilitnya menentukan lamanya gasing dapat berputar.
“Kalau tekniknya tepat, gasing bisa berputar lama dan sulit dikalahkan lawan,” ujarnya. Permainan ini umumnya dimainkan di lapangan terbuka.
Para peserta permainan melempar gasing sekuat mungkin agar tetap berputar paling lama di antara lainnya. Selain kekuatan fisik, dibutuhkan pula strategi dan kecepatan membaca arah putaran gasing untuk memenangkan permainan.
Johnson menambahkan, permainan gasing merupakan wadah mempererat hubungan sosial masyarakat, tentunya selain sebagai sarana hiburan. “Lewat permainan seperti ini, anak-anak belajar sportivitas, kesabaran, dan menghargai lawan. Itu yang membuat tradisi ini tetap dijaga,” ungkapnya.
Kini, permainan gasing tidak hanya menjadi kenangan masa lalu, tetapi terus dihidupkan melalui kegiatan budaya dan perlombaan lokal. Bagi masyarakat Dayak Sa’ban, gasing adalah simbol keuletan dan semangat gotong royong yang melekat dalam kehidupan sehari-hari.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....