Maluen Apui Leu’, Tradisi Menyalakan Api Leluhur Dayak Sa’ban
- 21 Okt 2025 08:30 WIB
- Malinau
KBRN, Malinau : Dalam perayaan HUT ke-26 dan Festival Irau ke-11 Kabupaten Malinau tahun 2025, Suku Dayak Sa’ban menampilkan pertunjukan budaya bertajuk Maluen Apui Leu’, yang berarti “Menghidupkan Korek Bambu”.
Tradisi ini mengangkat kembali kearifan nenek moyang Sa’ban dalam menyalakan api sebelum ditemukannya korek modern, serta menjadi simbol pelestarian budaya leluhur.
Ketua Lembaga Adat Dayak Sa’ban Kabupaten Malinau, Jhonson, menjelaskan bahwa Apui Leu’ atau korek bambu merupakan alat penting dalam kehidupan masyarakat Sa’ban pada masa lampau.
“Dulu sebelum ada korek api seperti sekarang, orang Sa’ban menyalakan api dengan bambu, batu, dan lumut kering. Alat itu dipakai di rumah maupun di ladang,” ujarnya, Selasa (21/10/2025).
Dalam pertunjukan adat tersebut, beberapa warga Sa’ban memperagakan cara menyalakan Apui Leu’ secara langsung. Hal ini menjadi tontonan menarik bagi masyarakat yang menghadiri festival Irau.
Mereka berlomba menyalakan api menggunakan bahan alami seperti ruas bambu kering, pecahan batu, lumut yang diambil dari batang pohon, serta akar kayu yang ditumbuk halus dan dijemur hingga kering.
Jhonson menuturkan bahwa tradisi ini memperlihatkan kecerdikan leluhur dalam memanfaatkan alam, sekaligus mengandung nilai kebersamaan dan kesabaran.
“Api dalam budaya kami melambangkan kehidupan, semangat, dan sumber penghidupan. Karena itu Maluen Apui Leu’ punya makna yang sangat dalam,” katanya.
Selain sebagai tontonan budaya, penampilan Maluen Apui Leu’ juga menjadi sarana edukasi bagi generasi muda Dayak Sa’ban agar mengenal kembali warisan leluhur mereka.
“Kami ingin anak-anak tahu bahwa sebelum ada alat modern, leluhur kita sudah punya cara sendiri menyalakan api. Itu bukti kearifan dan ketekunan yang harus dijaga,” tutup Jhonson.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....