‎Mekan Tun Tano, Pesan Harmoni Alam dari Dayak Punan

  • 17 Okt 2025 15:22 WIB
  •  Malinau

‎KBRN, Malinau : Lembaga Adat Dayak Punan Kabupaten Malinau menampilkan ritual sakral Mekan Tun Tano dalam rangkaian Festival Budaya Irau ke-11 dan HUT ke-26 Kabupaten Malinau, Jumat (17/10/2025), di arena Padan Liu Burung (PLB).

‎Upacara ini menjadi refleksi hubungan manusia dengan alam, sekaligus pengingat pentingnya menjaga keseimbangan antara tanah dan air sebagai sumber kehidupan.

‎Ritual adat Mekan Tun Tano, yang berarti “memberi makan tanah” atau “menyatu dengan tanah”, dipimpin oleh para tetua adat Punan dan diikuti perwakilan dari berbagai Daerah Aliran Sungai (DAS) di Malinau, antara lain DAS Mentarang, Tubu, Belinau, Bengalun, Pujungan, dan Kayan Hilir.

‎Prosesi dimulai dengan nyeluhui, uku pata, dan uku korip, sebagai bentuk doa dan penyucian diri sebelum upacara dilaksanakan. Dalam prosesi tersebut, para tetua mempersembahkan sesajian berupa umbang (pengasih), burak atau tapai, ayam jantan, sirih, pinang, dan tembakau lempeng.

‎Ayam jantan disembelih, darahnya dipercikkan ke tanah dan air yang telah disiapkan sebagai simbol penyatuan unsur bumi dan kehidupan. Tiap perwakilan DAS menancapkan tusuk daging ayam di tempat khusus bernama Mekan Tun Tano, menandakan doa bersama untuk kesejahteraan masyarakat Malinau.

‎Ketua Lembaga Adat Punan Kabupaten Malinau, Elison, menjelaskan bahwa upacara ini merupakan tradisi turun-temurun masyarakat Punan sebagai bentuk penghormatan terhadap alam.

‎“Mekan Tun Tano adalah cara kami mengingatkan kembali bahwa tanah dan air itu hidup, mereka punya roh. Kalau kita memperlakukan alam dengan tidak baik, maka alam pun tidak akan memberi yang terbaik kepada kita, bahkan bisa membawa bencana besar,” ujarnya pada RRI.

‎Ia menambahkan, tema Negeri Sang Pengendali Air yang diangkat pada HUT ke-26 Kabupaten Malinau juga merupakan refleksi atas kondisi lingkungan yang kian rentan akibat aktivitas manusia.

‎“Kita sepakat membangun dan sejahtera, tapi jangan sampai menjadi asing di negeri sendiri. Tema Malinau sebagai negeri pengendali air itu bagus, tapi konsekuensinya adalah kita harus siap menjaga dan melindungi alam. Kalau tidak, bencana hanya menunggu,” tegasnya.

‎Ritual Mekan Tun Tano diakhiri dengan penampilan tari kolosal berjudul “Dari Rahim Bumi”, menggambarkan lahirnya kehidupan dari pertemuan tanah dan air. Tarian tersebut melukiskan perjalanan manusia yang belajar dari alam, menanam, memanen, dan hidup berdampingan dalam harmoni.

‎Melalui ritual ini, masyarakat Dayak Punan ingin menegaskan pesan bahwa tanah dan air adalah ibu kehidupan yang harus dihormati dan dijaga. Dari filosofi Mekan Tun Tano, tersirat doa agar manusia tetap berpijak di bumi dengan bijak, menjaga keseimbangan alam demi keberlangsungan generasi mendatang.

‎Kegiatan juga diwarnai dengan penyambutan adat Lemarih untuk menghormati tamu kehormatan, yakni Bupati Malinau Wempi W. Mawa bersama jajaran Forkopimda. Prosesi Lemarih dilakukan dengan dua bilah besi yang diketukkan sebanyak empat kali, melambangkan doa keselamatan dan kekuatan bagi tamu yang hadir.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....