Lundayeh Hadirkan Prosesi Adat Ngikit Fadan Liu Burung

  • 08 Okt 2025 18:05 WIB
  •  Malinau

‎KBRN, Malinau : Lembaga adat Dayak Lundayeh menampilkan prosesi adat sakral bertajuk Ngikit Fadan Liu Burung Kuu Radcha Bawang Idi Nued Tana dalam rangkaian Festival Budaya Irau ke-11 sekaligus HUT ke-26 Kabupaten Malinau. Ritual ini digelar Rabu (8/10/2025) di Arena Lapangan Pro Sehat, Panggung Budaya Padan Liu Burung.

‎Prosesi dimulai sejak pagi hari dengan doa pembukaan yang dilanjutkan rangkaian ritual adat. Acara utama memperlihatkan pertunjukan seni khas Lundayeh yang sarat makna tentang kebersamaan, kesucian tanah, serta hubungan harmonis antara manusia dan alam.

BACA JUGA : Produksi Sampah Harian Pengunjung Irau Malinau Capai 10 Ton

‎Dalam jalannya prosesi, tokoh adat Fadan Liu Burung dan Gerit Nan Takung hadir bersama rombongan adat atau Sakai, kemudian disambut Ketua Lembaga Adat Dayak Lundayeh, Paulus Belapang, bersama para tetua.

‎Prosesi dilanjutkan dengan sejumlah ritual seperti Ngukab Tebuku, Neteng Mengei Ngteu Feu Bulat, hingga Ngikit Fadan Liu Burung Ame Ku Radcha Bawang, yang menjadi inti upacara sakral tersebut.

‎Suasana semakin khidmat saat ritual Natak Jani (Tengadan) dipimpin Radcha Bawang Fadan Liu Burung, kemudian diteruskan dengan prosesi Sigai dan Nued Tana’. “Semua ini menggambarkan doa dan harapan masyarakat Lundayeh agar tanah, hutan, dan air tetap menjadi sumber kehidupan yang diberkati,” ujar Paulus Belapang.

‎Selain ritual adat, ratusan penari menghadirkan tarian kolosal bertema Menjaga Air, Menjaga Kehidupan. Pertunjukan ini memvisualisasikan pesan pelestarian alam dan diakhiri doa syukur bersama.

‎Paulus Belapang menyampaikan apresiasi atas perhatian Pemkab Malinau. “Kami berterima kasih kepada Pemkab Malinau yang terus memberi ruang bagi masyarakat adat menjaga dan menampilkan warisan leluhur,” katanya.

BACA JUGA : Etnis-Paguyuban Malinau Dapat 2,8 Miliar Suntikan Hibah Pemda

‎Bupati Malinau Wempi W. Mawa menambahkan bahwa pelestarian budaya merupakan tanggung jawab bersama. “Kebudayaan adalah identitas daerah. Festival seperti ini mengajarkan arti kebersamaan, toleransi, dan cinta tanah leluhur,” ujarnya.

‎Prosesi Ngikit Fadan Liu Burung Kuu Radcha Bawang Idi Nued Tana menegaskan komitmen masyarakat Lundayeh untuk menjaga nilai adat di tengah arus modernisasi. Melalui Festival Irau, Malinau meneguhkan jati diri sebagai rumah bagi keberagaman budaya yang hidup harmonis dengan alam.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....