Pembudidaya Ikan di Malinau Naik Tiga Kali Lipat

  • 16 Sep 2026 19:51 WIB
  •  Malinau
Poin Utama
  • Rumah tangga perikanan aktif di Kabupaten Malinau meningkat dari 64 unit pada 2025 menjadi 241 unit pada 2026, mencerminkan pertumbuhan sebesar 277 persen dalam satu tahun.
  • Peningkatan signifikan ini menunjukkan antusiasme masyarakat Malinau yang semakin besar terhadap pengembangan usaha budidaya ikan sebagai sumber ekonomi lokal.
  • Pertumbuhan ini merefleksikan komitmen pemerintah daerah dalam mendukung dan mengembangkan sektor perikanan.

RRI.CO.ID, Malinau - Jumlah rumah tangga perikanan (RTP) aktif di Kabupaten Malinau meningkat hampir empat kali lipat dalam setahun, dari 64 RTP pada 2025 menjadi 241 RTP pada 2026. Dinas Perikanan mencatat jumlah kelompok RTP meningkat dari 31 kelompok pada 2024 menjadi 54 kelompok pada 2026.

Kepala Dinas Perikanan Kabupaten Malinau, Afri ST Padan, mengatakan peningkatan tersebut terjadi seiring bertambahnya kelompok perikanan dan semakin banyak masyarakat yang terlibat aktif mengembangkan usaha budidaya ikan.

“Ini menunjukkan semakin banyak masyarakat yang terlibat dan aktif mengembangkan usaha budidaya ikan. Kalau setiap RTP minimal terdiri dari tiga jiwa, maka ada sedikitnya 723 orang yang menggantungkan penghidupannya pada usaha budidaya ikan ini,” ujar Afri di Malinau, Rabu (16/9/2026).

Menurutnya, pertumbuhan tersebut merefleksikan dukungan pemerintah daerah terhadap sektor perikanan yang salah satunya diwujudkan melalui bantuan sarana dan prasarana perikanan dalam beberapa tahun terakhir.

Perkembangan ini tidak hanya berkaitan dengan peningkatan aktivitas ekonomi masyarakat, tetapi juga memiliki dimensi sosial melalui pemenuhan kebutuhan konsumsi ikan hasil budidaya.

Afri menyebut produksi ikan budidaya yang dihasilkan masyarakat turut berkontribusi terhadap ketersediaan pangan dan perbaikan gizi masyarakat, termasuk mendukung upaya penanganan stunting di Kabupaten Malinau.

“Usaha budidaya ini sekaligus memberikan kontribusi terhadap konsumsi ikan masyarakat. Ini penting untuk perbaikan gizi, khususnya dalam mendukung penanganan stunting,” katanya.

Afri menilai, peningkatan jumlah kelompok dan RTP merupakan indikator positif, meski menurutnya pertumbuhan jumlah pelaku usaha bukan menjadi tujuan akhir pembangunan sektor perikanan.

“Yang paling penting bukan hanya bertambahnya jumlah kelompok, tetapi bagaimana kelompok pembudidaya semakin aktif, produktif, mandiri, dan mampu meningkatkan pendapatan serta kesejahteraan anggotanya,” ujarnya.

Di sisi lain, pengembangan budidaya ikan masih menghadapi sejumlah kendala, terutama ketersediaan dan tingginya harga pakan, keterbatasan sarana produksi, pengelolaan kualitas air, penyakit ikan, hingga pengelolaan hasil dan akses pemasaran.

Kondisi tersebut dipengaruhi sejumlah faktor, mulai dari harga dan ketersediaan pakan yang belum sepenuhnya terkendali, perbedaan keterampilan antaranggota kelompok, hingga kondisi iklim yang tidak menentu, yang turut mempengaruhi hasil budidaya di tingkat pembudidaya.

Afri menambahkan, pengembangan sektor perikanan membutuhkan dukungan lintas sektor dalam seluruh siklus produksi, mulai dari penyediaan sarana dan prasarana hingga pemasaran.

“Kami berharap ke depan ada kerja sama yang lebih terarah dalam menyiapkan instrumen pendukung seluruh siklus produksi perikanan, mulai dari sarana dan prasarana produksi sampai pemasaran,” ujarnya.

Seiring bertambahnya RTP aktif dan kelompok pembudidaya, Dinas Perikanan Malinau mendorong agar pertumbuhan tersebut tidak berhenti pada peningkatan jumlah pelaku usaha, tetapi berlanjut pada produktivitas, kemandirian usaha, peningkatan pendapatan, serta kesejahteraan masyarakat pembudidaya ikan. (Ading)

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....