Cuaca Ekstrem Picu Longsor Apau Ping, Permukiman Tepi Sungai Kian Rentan

  • 10 Jun 2026 12:19 WIB
  •  Malinau
Poin Utama
  • Curah hujan tinggi dan banjir yang berulang sejak 2025 mempercepat erosi tepian Sungai Bahau, memicu longsor yang kini hanya berjarak tiga hingga empat meter dari permukiman warga di Desa Apau Ping.
  • Longsor tersebut mengancam permukiman dan menghilangkan vegetasi penahan tanah di tepi sungai sehingga meningkatkan kerentanan lingkungan dan risiko longsor susulan saat musim hujan.

RRI.CO.ID, Malinau - Longsor yang terus berkembang di bantaran sungai, Desa Apau Ping, Kecamatan Bahau Hulu, menunjukkan tingginya kerentanan permukiman yang berada di tepi sungai terhadap dampak cuaca ekstrem.

Curah hujan tinggi dan banjir beberapa tahun terakhir konsisten menggerus tepian Sungai Bahau, sehingga mengancam rumah-rumah warga yang berada di sekitarnya.

Kepala Desa Apau Ping, Yakub Jalung, mengatakan longsor mulai terjadi pada Maret 2025. Kondisinya semakin parah sekitar Agustus hingga September saat wilayah tersebut mengalami hujan dengan intensitas tinggi yang memicu banjir besar.

"Kalau untuk longsor di Desa Apau Ping itu mulai terjadi sekitar Maret 2025. Yang paling parah sekitar Agustus atau September karena saat itu intensitas hujan cukup tinggi dan banjir juga besar," ujarnya kepada RRI, Selasa (9/6/2026).

Menurut Yakub, derasnya arus sungai saat banjir menyebabkan pergeseran tanah di pinggir sungai yang berada dekat dengan permukiman warga. Proses itu berlangsung secara bertahap hingga memicu longsor yang terus meluas.

Longsor terbaru terjadi ketika intensitas hujan tinggi yang menyebabkan debit air sungai meningkat pada akhir Mei 2026. Insiden inikembali bergerak mendekati kawasan permukiman.

Jarak antara titik longsor dan rumah warga yang paling dekat kini diperkirakan hanya tersisa sekitar tiga hingga empat meter. "Yang terbaru jaraknya kurang lebih tinggal tiga sampai empat meter dari rumah yang paling dekat," katanya.

Longsor juga disebut menghilangkan vegetasi yang selama ini berfungsi sebagai penahan alami di tepi sungai. Pohon-pohon besar, tanaman buah, hingga rumpun bambu yang tumbuh di sekitar permukiman ikut tumbang akibat longsor dan abrasi.

"Di situ ada pohon besar, ada durian juga. Situ juga hilang. Ada pohon bambu dan macam-macam yang sebelumnya berada di pinggir sungai," ucapnya.

Hilangnya vegetasi tersebut dinilai memperbesar kerentanan lingkungan di sekitar lokasi longsor. Tanah yang sebelumnya diperkuat akar pohon kini lebih mudah tergerus ketika debit sungai meningkat akibat hujan deras.

Yakub mengatakan kondisi itu menjadi perhatian masyarakat karena sebagian besar aktivitas warga di desa masih berdekatan dengan aliran sungai. Ketika hujan turun dengan intensitas tinggi, kekhawatiran akan terjadinya longsor susulan selalu muncul.

Menurutnya, warga yang rumahnya berada paling dekat dengan lokasi longsor sering kali memilih mengungsi sementara ke rumah keluarga atau tetangga saat banjir maupun hujan deras terjadi.

"Kekhawatiran kami kalau longsor itu sampai ke rumah warga. Yang rumahnya dekat longsor kadang tidak bisa tidur kalau hujan atau banjir. Mereka sering mengungsi ke tempat keluarga atau tetangga," ujarnya.

Saat ini terdapat empat rumah yang terdampak langsung karena berada paling dekat dengan lokasi longsor. Selain itu, sekitar delapan hingga sepuluh rumah lainnya berpotensi terdampak apabila longsor terus meluas seiring terjadinya banjir di masa mendatang.

Masyarakat masih menunggu realisasi penanganan untuk mencegah longsor semakin mendekati permukiman. Yakub berharap pemerintah dapat segera membangun pengaman tebing di lokasi tersebut agar risiko longsor dapat diminimalkan dan masyarakat merasa lebih aman.

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru

Memuat berita terbaru.....